Selamat Datang Pada BLOG SYAFA'AT semoga bermanfaat

Ziarah ke Masjid Quba

Jalanan terasa begitu sesak, klakson Bus dan Taxi membentuk musik tak beraturan. Beberapa Bus membawa jamaah yang baru datang, ditempat lain rombongan jamaah dengan pakaian Ihram siap meninggalkan hotel dan melanjutkan perjalanan ke Makkah. Penyedia layanan bus sibuk mencari dan menghitung bus yang sudah di siapkan mengantar jamaah yang akan melakukan perjalanan keliling tempat tempat bersejarah disekitar Kota Madinah. Saya membayangkan perjalanan kloter kami secara beriringan tujuh bus yang disiapkan secara beriringan. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Bus bus yang sudah penuh dengan jamaah tersebut langsung bergerak tanpa menunggu bus lainnya, mereka berjalan sendiri sendiri. Tak ada tempat untuk menunggu di jalanan yang penuh dengan kendaraan.
Petugas lalu lalang menunggu beberapa bus yang sudah disiapkan dan belum datang tepat waktu, kami tidak tahu bus mana yang harus kami tumpangi, karena banyaknya bus yang ada di jalanan itu, bus bus tersebut tanpa tanda khusus, saya yang harus memberi nomor 1 sampai dengan 9 dengan kertas HVS 70 gram yang saya tulisi dengan ballpoint dengan tulisan besar angka satu sampai sembilan. Seiat ada bus yang menurut petugas hotel adalah bus kami, maka saya tempeli nomor nomor dan diisi dengan rombongan jamaah yanng siap untuk berangkat, setiap rombongan kami pilih seseorang dari jamaah tersebut yang mengerti sedikit tentang sejarah perkembangan Islam, sehingga sedikit banyak dapat menjelaskan tempat tempat bersejarah pertama perkembangan islam tersebut.
Seperti biasa, saya kebagian Bus yang terahir, bus yang saya tumpangi lumayan bagus, sopir bus mengajak anaknya yang masih berusia dibawah sepuluh tahun. Anak lelaki ganteng itu banyak diajak foto selfie oleh Ibu ibu jamaah, mungkin mereka ingin mempunyai anak seganteng itu, sayapun juga sempat selfie dengan anak yang gantengnya tidak jauh berbeda denganku ini, saya sempat berbincang bincang demham Ahmad ini yang sedang libur sekolah dan ikut Bapaknya mengantar kami berziarah,  didalam bus tersebut hanya berisi sekitar belasan orang, sehingga banyak bangku yang kosong. Hal ini dikarenakan orang orang tua dan yang berkursi roda tidak mengikuti ziarah ini.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Masjid Quba, yakni Masjid perrtama yang dibangun Rasulullah saat akan memasuki kota Madinah. Yang letaknya 5 km sebelah tenggara kota Madinah. Masjid yang dikelilingi kebun kurma ini adalah Masjid yang telah direnovasi oleh Pemerintah Kerajaan Arab saudi pada tahun 1986 yang dapat menampung 20 ribu jamaah. Masjid ini memiliki 19 pintu dengan 3 pintu utama, dimana dua pintu diperuntukkan jamaah laki laki sedangkan satu pintu lainnya khusus untuk jamaah perempuan. Beberapa jamaah memilih sholat didalam serambi, mungkin mereka tidak ingin terpisah dan memudahkan untuk kembali kedalam rombongannya masing masing, maklumlah karena ribuan jamaah dari seluruh negeri datang dan pergi di Masjid ini.
Didalam Masjid ini jamaah melakukan Sholat sunnah dua rokaat, sebagaimana hadits Nabi bahwa pahala Sholat didalam Masjid Quba seperti pahala orang yang melaksanakan Umroh. Bisa dibayangkan betapa ruginya jika sudah memasuki Masjid ini dan tidak melakukan apa apa kecuali menikmati keindahannya  Sayapun juga melakukan hal yang sama, dan segera keluar ke Tempat parkir untuk mencari bus yang membawa kami kesini.
Saya bertemu dengan beberapa jamaah yang berangkat duluan yang sepertinya sedang kebingunan mencari bus yang tadi ditumpanginya, saya juga sedikit heran, kenapa juga jamaah ini ketinggalan jamaahnya, dan bagaimana nasibnya jika aku tidak menemukannya, mereka orang orang tua yang tidak bisa berbahasa arab. Mereka sangat terlena ketika berada didalam Masjid hingga lupa bahwa hanya diberi waktu sekitar 20 menit didalam Masjid ini. Mungkin mereka terbawa suasana saat berziarah memasuki Masjid Quba ini. Saya membawa sekitar sepuluh orang yang merasa sangat bahagia saat saya menemukannya ini memasuki Bus terahir yang membawa kami kesini, untungnya Bus kami adalah Bus terahir yang tidak terlalu banyak penumpangnya.
Saya berdiri ditempat yang agak tinggi dipintu masuk parkiran, agar jamaah yang baru keluar Masjid mudah untuk mencari kendaraannya, dan memastikan tidak adalagi jamaah yang tertinggal, karena Bus kami adalah bus yang terahir, dan jika ada yang tertinggal dapat dibayangkan bagaimana bingungnya orang orang itu.

Ahmad anak sopir Bus sedang berbincang dengan Mbak Sari Nurani, Gadis tenaga Kesehatan kloter saya ini memang sangat fasih berbahasa Inggris, dan Ahmadpun juga sedikit mengerti bahasa Inggris, meski terlihat Ahmad kadangkala harus dijelaskan dengan oleh Ning Iva, jamaah kami yang berlatar belakang pondok pesantren yang sangat mahir bahasa Arab. 

Pendidikan Anti Korupsi pada Calon Manten

Dibaliksuksesseoranglakilaki,adaperempuanhebatdibelakangnya,dandibalik suksesseorangperempuanadalakilakiyangmenjadikorbannya.Tidakselamanyabenar pernyataantersebut,tohtidaksemualakilakiyangmempunyaiistrikariermenjadikorban darikarieristerinya.Begitujugadengansebaliknya,bahwadibaliklakilakiyangberperilaku korup,adaperempuanyang(mungkin)menyulutnya.Dalam unenunenorangjawatentang seorangistriadalahSwargonunutnerokokatut.Haliniberkaitandenganhubungansosial suamiistriyangtidakdapatdipisahkan.SeorangistridariKepalaDesabiasadipanggil dengansebutanBuKades,meskiyangmenjadiKepalaDesaadalahsuaminya,dansecara otomatisjugamenjadiKetuaDharmawanitapadainstitusinya.Namunhalinitidakberlaku sebaliknya,dimanajikaseorangperempuanmenjabatsebagaiKepalaDesa,masyarakat tidakmemenggilPakLurahdarisuamikepaladesatersebut.Begitujugadenganjika seorangsuamimenjadiseorangkoruptor,dengansendirinyaakanmenyeretnamaistridan mungkinanakdankeluarganya. GerakandariKonunitasIbuibuyangtergabungsalam SayaPerempuanAntikorupsi (SPAK)denganmengingatyangpalingbanyakberpeluangmelakukantindakankorupsi adalahkaumlakilakiyanglebihbanyakmenjabatdipemerintahandanaktifitaslainnyayang berpeluangmelakukantindakankorupsi.Namunsetelahmelihateksyenyangdilakukandan tujuandarigerakantersebut,telahmembuatorangyangtadinyaberpikirannegatifterhadap gerakaniniharusangkattopi.Terlebihdengangerakangerakanantisipasiterhadapkorupsi sejakdini. Perempuanyangditakdirkanmenjadiseorangibuyangmerupakantempatmenimba Ilmuyangutamadariseorangmanusiasangatmenentukansikapdanperbuatananak manusiasaatmerekaberanjakdewasa,kejujuranseseorangyangdimulaidarilingkungan dimanadiabertempattinggalsangateratdengansosokseorangperempuansebagaiibu darianakanaknya.Kesalahandalam pendidikanawaldalam rumahtanggaakanberakibat burukterhadapperkembangananakpadamasadiadewasa. PerempuansebagaiseorangistripendampingsuamimeskipunhanyasebagaiIbu rumahtangga,jugaberpeluanguntukmenjadipenyulutkorupsidarisuaminya.Tuntutan yangberlenbihanyangdilakukanterhadapsuamidaripolahidupistriyanghedoniskadang jugamengakibatkanseoranglakilakimelakukantindakanyangmelanggaraturanhanya untukmemenuhituntutankebutuhanistrinya,meskipuntidaksecaralangsungseorangistri menginginkansuaminyamelakukantindakankorupsiatautindakancuranglainnyayang dilarang.Sehinggamungkintidakterlalusalahjikaadaadagium yangberbunyi“dibalik suamikoruptoradaperempuanyanglebihhebatyangmendukungnya”. Gerakan Saya Perempuan AntiKorupsi(SPAK )inidilahirkan atas sebuah keprihatinan.KeprihatinanyangdisampaikanolehsebuahsurveyyangdilakukanKPKpada tahun2012–2013dikotaSolodanJogjakarta.Studiinimenyajikanfaktabahwaternyata hanya4%orangtuayangmengajarkankejujuranpadaanak-anaknya.Salahsatukegiatan darikelompokSayaPerempuanAntiKorupsi(SPAK)yangdilakukanolehDharmaWanita PersatuanKementerianAgamayangmelakukanpembekalanantikorupsipadapasangan calonpengantenmerupakansalahsatulangkahkonkritdariupayapenanamanpencegakan tindakanantikorupsisejakdini.Pendidikankejujurandaricalonpasanganmudainibukan hanyaberdampakpadatindakankejujurandalam melaksanakankegiatanekonomi,namun jugakejujurandalam melakukantindakanyangberkaitandenganmoraldansusilasebelum pelaksanaanperkawinan. Godaanpasanganmudasebelum pelaksanaanperkawinanbukanhanyakeinginan danhasratuntukmelakukanhubungansuamisitrisebelumpelaksanaanperkawinan,namun jugakeinginanuntukmencukupikebutuhanekonomipascaperkawinanyangmembutuhkan keuletan,ketlatenandankejujurandaripasangantersebut.Halinisangatberkaitandengan kondisipasanganmudapadaumumnyayangsebagianbesardalam kondisiekonomiyang belum mapan.Dalam halinipengaruhdariistriyangjugamasihbarudalam mengarungi rumahtanggasangatmenentukanterhadapsikapdanperilakusuamiyanginginmenuruti keinginanistridankebutuhanrumahtangganya. PenyebaranpengetahuanantikorupsimelaluiPembinaanPranikahinisangatefektif denganmengingatkeluargasebagaitempatutamadalam pendidikankarakterseseorang. Pendidikanyangsalahdalam keluargadapatmelahirkankoruptorkoruptorbaru,yang kelahirannya(mungkin)tidakdisadarinya.Pembekalanbagipasanganmudayangselamaini hanyaterpusatdalam terciptanyakeluargasakinahmemangperlupenjabaranlebihlanjut padapendidikanKeluargaBerencanadanpendidikanantikorupsiyangbermuarapada tatacarapolapendidikankejujuranterhadapanakdanperilakuistrisebagaipendorong utamasuamidalammelakukankewajibanmemberinafkahkeluarganya. CitacitaIndonesiabebasdarikorupsi2025akangagalbiladalampembentukanpola pikir(mindset)yangdimulaimasaanakanaktidakdilandasidenganpendidikanagamayang kuat.Citacitabebaskorupsitersebutbisagagalataudapatdilaksanakandenganlebih cepatyangsalahsatunyaadalahatasperansertakeluargadanIstrisebagaiGuruutama bagianakanaknyauntukbertindakantikorupsidisegalabidang.sebabdenganpendidikan agamadankejujurandalamkeluargayangdiharapkanjugamembekasdalamkeimanandan ketaqwaannya,makaseseorangakanterbentuksebuahsikapyangdilandasidenganpola pikiryangpositif,yangsalahsatunyaadalahtidaktergodauntukmelakukantindakan korupsi.untukmenyiapkanistridanIbuyangdapatmemberiakanpendidikanantikorupsi tersebutperludisiapkansejaksebelum pernikahan,sehinggadapatdiberikanpemahaman tentangperanistriuntukmencegahkorupsiyangdilakukanolehsuaminyasertamendididik anakanaknyauntukbersikapjujuryangdiharapkanakantetapterjagahinggaanaktersebut dewasa. GerakanperubahanantikorupsiyangdilakukanKaumperempuandenganmelakukan nilainilaipenanamanmoranantikorupsiinisangatefentikuntukmemberantaskorupsidi Indonesiayanghasilnyaakanlebihnyatapadamasayangakandatang.Gerakandengan motodimulaisekarangdaridirikitaadalahgerakannyatayangperludukungan.Gerakan yangdilakuakSAPKbukanhanyadilakukanpadacalonpasanganmuda,namunjugapada sekolahsekolah.

GELIAT ANTI KORUPSI SRIKANDI KANKEMENAG BANYUWAGI

Mungkin terdengar asing,  manakala ungkapan “Saya Perempuan Anti Korupsi”  yang disingkat dengan SPAK, justru muncul dari kalangan isteri-isteri Pejabat di kalangan Kantor Kementerian Agama kab. Banyuwangi . Tetapi itulah realitasnya. Mereka begitu menyadari bahwa uang hasil korupsi, ditinjau dari aspek mana pun, tidak akan membawa keberkatan dalam kehidupan rumah tangga.
Berangkat dari konsep itulah, maka  ibu-ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan yang berlogokan “Ikhlas beramal”,  menyatakan sikap bersama untuk menolak   prilaku korupsi  dengan  segala bentuk personifikasinya;  seperti:  pungli, gratifikasi dan lain-lain.
Acara ikrar anti ruswah,  yang dipelopori  Ibu Qori’ah Slamet (selaku Pembina) , dilaunching oleh Kepala Kantor  Kementerian Agama kab. Banyuwangi pada tanggal 14 Maret 2017, barsamaan  dengan acara out bond  di pantai Boom Banyuwangi , yang diikuti oleh para isteri;  Kepala Seksi, Kepala KUA, Kepala Madrasah dan Pengawas di lingkungan Kankemenag kab. Banyuwangi.
Dalam sambutan singkatnya;  Drs H. Slamet , MHI . menyampaikan bahwa sikap tegas yang diambil oleh ibu-ibu  ini harus didukung dan diapresiasi setinggi-tingginya , karena bagaimanapun  “di balik sukses besar suami terdapat peran isteri”.  Lebih  lanjut beliau pun mengurai bahwa tugas isteri, di samping selaku pendamping suami , juga berperan;  sebagai  tempat curhat suami di saat menemui  jalan buntu ,  sebagai sparing pathner (pemantul) dalam berdiskusi  bahkan bisa sebagai pembisik saat suami akan melangkah menentukan kebijakan.
Respons positif dari  mantan orang nomor satu di Kankemenag Bondowoso  itu, nampaknya bukan hanya sebatas retorika saat launching,  di event-event penting lain pun; seperti Pelantikan Pejabat,  pertemuan Dharma Wanita, beliau selalu mengulang  pesan moral buat isteri-isterii Pejabat agar terus menerus minginagtkan suaminya dalam menjalankan amanat jabatan yang telah dibberikan Allah kepadanya.
Hal ini menunjukkan betapa besar komitmennya dalam upaya percepatan realisasi  capaian Kankemenag Banyuwangi  menuju Zona Integritas (ZI).  Dan beliau yakin dengan geliat  menolak korupsi  yang dimulai dari isetri-isteri pejabagat Kementerian Agama,  akan menjadi motivasi tersendiri  buat ibu-ibu lain di Negeri  ini untuk menyuarakan hal yang  sama agar  para generasi yang lahir dari rahim mereka menjadi  penerus Bangsa  menjadi lebih baik, karena ibu  adalah al Madrasatul ula atau the first scool bagi anak-anaknya.

Bak gayung bersambut,  virus positif akibat launching di pantai Boom Banyuwangi , pun merambah hingga level  terbawah,  Satker dan Unit Pelaksana  terus bergantian membulatkan tekad untuk menyuarakan hal yang sama, agar tujuan pemerintah merevolusi mental korup di Negeri ini cepat terealisasi dengan tanpa harus menunggu keberhasilan Lembaga Anti Ruswah menyapu bersih pelaku koruptor di level tertinggi. 

Indahnya Wafat di Makkah

Sempat terrfikir dihati ini, alangkah senangnya jamaah yang meninggal ditanah suci pada musim haji, berjuta juta jamaah yang mensholatkan didepan ka’bah. Sunggung mungkin hanya ada di masjidil hatam saja jenazah disholatkan oleh jutaan orang. Sangat jauh dikampung dimana jika ada orng yang meninggal, meskipun yang datang takziyah banyak, tetapi sangat sedikit yang mensholatkan, itupun dilakukan didalam rumah, sangat jauh dengan di Masjidil haram dan Masjid nabawi yang di Sholatkan setelah usai sholat fardlu.
Rasanya ingin juga di sholatkan seperti itu, dengan jutaan orang yang berhati tuluis mensholatkan jenazah yang wafat dalam rangka melaksanakan rukun Islam yang terahir. Namun mengingat usia yang masih muda, anak nak yang masih membutuhkan kasih sayang, istri yang masih terlihat cantik yang menunggu dengan untaian doa keselamatan suaminya yang sedang bertugas dari rumah, belum siap saya jika harus meninggalkan dunia ini sekarang. meski dijamin masuk surga, meski mendapatkan jasa raharja, kecuali takdir memang menggariskan demikian.
Saya yakin masih banyak orang yang memimpikan dan berdoa agar bisa meninggal saat menjalankan Ibadah Haji, namun tidak semua orang yang berdoa tersebut dikabulkan, dan rata rata jamaah saya yang meninggal memang berdoa agar bisa meninggal dalam melaksanakan Ibadah haji, entahlah ada rahasia tersembuunyi sehingga kami dipercaya mengawal jamaah yang banyak menderita sakit ini, bahkan saya berfikir untuk menyampaikan secara langsung kepada jamaah agar tidak berdoa dan punya keinginan untuk wafat dalam melaksanakan Ibadah haji, namun apakah kita bisa membatasi doa ???
Sebuah pertanyaan yang mungkin juga dirasakan semua orang saat menjalankan sholat jenazah di Masjidil haram adalah dimanakah letak jenazah dan dimanakah posisi Imam saat itu ???. tadinya saya menyangka bahwa jenazah diletakkan didekat pintu Ka’bah dimana Imam Sholat Rawatib berada, namun gambaran itu sirna ketika kami dengan kereta khusus yang sepertinya bertenaga listrik membawa jenazah dari ambulan menuju lantai dua Masjidil haram, jenazah jenazah itu diletakkan dilantai dua dan kami diberi kesempatan jamaah dengan orang orang khusus yang sepertinya kaum bangsawan atau pejabat negara. Kami berada dibelakang jenazah. Sementara didepan jenazah juga banyak jamaah yang melaksanakan sholat fardlu.
Saat selesai Sholat fardlu yang dilanjutkan dengan Sholat Jenazah, nampak seseorang menyiapkan mikrophone dan tempat untuk Imam Sholat, dan disutulah kami tahu bahwa ternyata saat sholat Jenazah, Imam berada di belakang jenazah yang erjajar didepannya, ditata sedemikian rupa sehingga bagi jenazah laki laki Kepala Jenazah sejajar dengan Imam, sementara jenazah perempuan, tepat pada tengah tengahnya yang sejajar dengan Imam, sementara pada makmum masih berada pada posisinya masing masing menghadap kiblat, sehingga pada sholat jenazah tersebut makmum yang ada didepan jenazah posisinya ada didepan Imam.
Jamaah Haji yang meninggal saat menjalankan Ibadah haji di Makkah dimakamkan di Pemakaman Soraya yang letaknya sekitar 40 kilometer dari arah Makkah atau 4 kilometer  dari Masjid jamarot. Pemakaman seluar 4 Hektare ini sangat jauh dari kesan anker, dari jauh nampak seperti padang pasir yang luas dengan beberapa batu nisan diatasnya. Tidak ada pepohonan yang tumbuh diatasnya sebagaimana pemakaman di Indonesia. Pemakaman ini dikelola dengan sanat baik, ada jalan yang bisa dilalui oleh mobil jenazah hingga ke tengah tengah makam, sementara dipinggir makam disiapkan tempat bersuci dan MCK, sehingga sehabis mengantarkan jenazah, kita dapar bersuci disana.
Tidak perlu menggali kubur saat ada orang yang meninggal, karena lubang lubang tersebut sudah disiapkan dengan cor penutup diatasnya, sementara dibawah kubur tersebut sedalam kurang lebih dua meter tersebut diberi dinding yang terbuat dari batu bata. Tidak ada apa apa saat saya berada didalam lubang bersama dua orang yang lain untuk menerima jenazah yang diturunkan dari keranda, tali jenazah juga dilepas sebagaimana pemakaman jenazah di Indonesia. Yang membedakannya adalah jika di Indonesia diatas jenazah diberi papan kayu dan kemudian ditimbun dengan tanah, namun di pemakaman Soraya ini jenazah dibiarkan dibawah kemudian cor penutup dikembalikan sebagaimana semula, tepat dipermukaan kuburan dioberikan tanda berupa batu nisan yang tidak ada namanya.
Saya berfikir, bagaimana kita menandai letak kuburan yang sama persis batu nisannya ini ???. mungkin memang seperti ini yang biasa terjadi di saudi Arabiya, namun anggapan saya ini sedikit berbeda saat petugas kubur memberikan secarik kertas yang berisi nomor blok kuburan tersebut, sehingga jika keluarga ingin berziarah ke makam almarhum, maka dapat ditunjukkan letak kuburnya. Konon kuburan disini setelah tiga tahun akan dibongkar atau jenazah yang ada akan diletakkan dibagian bawah jenazah yang baru.

Gurun berbatu dari tanah arab sepertinya tidak mungkin jika setiap hari harus menggali kubur sedalam sekitas dua meter, saya pernah menyaksikan mesin berat yang dipergunakan untuk menggali pondasi, dan itupun membutuhkan waktu yang lama, mungkin membutuhkan waktu lenih dari sehari dengan menggunakan alat berat untuk membuat satu lubang kubur.

Jamaah Pertama yang mendapat Tiket Surga

Mata masih terasa ngantuk saat telepon berdering ditengah malam sekira Jam 2 PM (Post Meidiem) sepertinya dari rumah pemandian jenazah yang beberapa jam lalu kami tinggalkan. Saya agak kesulitan bercakap dengan orang diseberang, bahasanya terlalu cepat sehingga agak sulit aku mencernanya, maklumlah Bahasa Arabku pas pasan, bisa dikatakan kurang untuk ukuran ketua Kloter. Saya hanya bisa menangkap bahwa orang tersebut menanyakan posisi saya, saya hanya bisa menjawab Ana fi funduk Masakin Al hayat. Selebihnya saya tidak biosa menjawab meski saya mengerti maksudnya. Saya membangunkan Gus Siddiq, TPIHI yang kebetulan pimpinan pondok pesantren yang Bahasa Arabnnya lumayan. Kami diminta segera ke Rumah pemandian jenazah karena akan segera di Sholatkan di Masjidil Haram usai Sholat Subuh. Kami diminta segera kesana.
            Segera kami ambil seragam kebesaran sebagai petugas kloter, saya menyiapkan tanda pengenal yang biasanya ditanyakan saat menghadapi masalah. Sementara para jamaah sudah banyak yang berangkat ke Masjid untuk Tahajut diteruskan Sholat Subuh. Saya kesulitan mencari baju saya, entah mungkin efek dari tergesa gesa sehingga baju itu tak ditemukan juga, sementara waktu terus berjalan tanpa kompromi. Gus Sddiq sudah ada di Lift, sementara saya belum menemukan baju saya. Di almari memang ada beberapa baju seragam, namun saya tidak menemukan baju saya, padahal jam sebelas tadi masih saya pakai untuk mengurusi jenazah dari Rumas Sakit Arab Saudi Al Noor hingga ke Pemakaman. Tidak mungkin baju itu tertukar dengan dokter Idha yang bersama sama dengan Mas Hari Santosomengurusi jenazah pertama yang wafat di kloter kami.
            Mungkin pandangan mata ini yang mulai kabur akibat kurang tidur, maklumlah mulai sehabis maghrib kami berada di Rumah sakit Al Noor mengurusi jenazah hingga dibawa ke Rumah Pemandian Jenazah. Dan ini adalah pengalaman pertama kami dalam pengurusan jamaah yang wafat dalam pelaksanaan Ibadah Haji, kami juga tidak tahu bagaimana tatacara pemakaman disini, karena setahu kami butuh lobi khusus agar jenazah dapat di sholatkan di Masjidil Haram, namun penjelasan dari Maktab bahwa saat ini semua jamaah yanbg wafat dalam Ibadah Haji akan disholatkan di Masjidil haram tanpa biaya.  Saya ingin mengikuti semua proses perawatan jenazah disini, dan ketika saya berada di Rumas Sakit Arab Saudi Al Noor saya agak kaget ketika mendapati jenazah sudah dibungkus dengan kain putih, saya hanya diperlihatkan wajahnya, untuk memastikan bahwa itu benar benar jebazah jamaah saya. Saya agak kaget ketika diperlihatkan jenazah dengan perawakan brewok, sebab seingatku jamaah saya yang wafat tidak berewok, kemudian petugas rumah sakit mengecek kembali ke administrasi untuk mengecek data yang benar, dan ahirnya kami dapat menemukan jenazah yang kami maksud. Jenazah itu sepertinya belum dimandikan, namun sudah terbungkus kain kafan, saya tidak tahu apakan jenazah itu benar benaqr sudah dimandikan atau belum, hingga kami diajak bersama jenazah tersebut ke suatu tempat dengan menggunakan kereta jenazah.
            Malam itu benar benar menyita waktu dan tenaga, kami berempat berada di Rumah Pemandian Jenazah, saya menyelesaikan administrasi sebelum jenazah dimandikan. Saya menemui pihak administrasi yang sepertinya orang Afrika, saya menggunakan Bahasa Inggris dicampur bahasa Arab, yang penting kami mengeti maksudnya, kadangkala kami tersenyum karena bahasa yang nggak nyambung tersebut. Dokter Idha dan Mas Hari Santoso yang menemani Ibu dari jamaah yang berada diluar mungkin mendengar saat petugas tersebut tertawa, namun mereka nggak tahu kenapa ada tawa saat pengurusan jenazah tersebut, sayapun terpaksa ikut tertawa dengan bahasa yang saya miliki yang setelah saya reviw kembali ternyata artinya nggak nyambung dengan pertanyaan petugas tersebut.
            Kuakui bahwa saya tidak terlalu mahir Bahasa Inggris, tidak seperti Mbak Sari Nurani yang begitu mudah cas cis cus, atau dokter Idha yang nyambung bila diajak bahasa Inggris, di Kantor biasanya jika ada orang luar negeri yang berurusan dengan kantor, memang saya yang menangani, namun hanya menanyakan identitas dan yang berkaitan dengan keperluan lainnya, harus kuakui bahwa bahasa Inggrisku sangat jauh dengan yang dikuasai istri saya, maklumlah mertua saya adalah Guru Bahasa Inggris, dulu saat masih pacaran saya pernah dikirimi surat dengan bahasa inggris oleh calon istrti saya, dan saya membalasnya dengan ucapan singkat “Yes I Love you”. Dan saat seperti inilah saya benar benar merasakan bahwa Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sangatlah perlu, saya tidak dapat selalu mengandalkan Gus Siddiq yang bahasa Arabnya agak lumayan, sebab kami tidak selalu bisa bersama sama,
            Saat pemandian jenazah, dari pihak nkeluarga atau tim klrter yang laki laki dipersilahkan ikut memandikannya, saya tidak menyia nyiakan kesempatan ini, karena saya ingin tahu bagaimana tata cara memandikan jenazah di rumah pemandian jenazah ini. Mas Hari Santoso saya tawari untuk ikut masuk ke kamar pemandian jenazah tidak bersedia, sehingga sayya dan dua orang petugas yang sepertinya berkebangsaan Afrika yang memandikannya, diruangan itu karena jenazah yang dimandikan adalah laki laki, maka perempuan tidak diperkenankan untuk masuk.
            Barangkali benar yang disampaikan banyak orang, bahwa apa yang kita lakukan di tanah air juga akan kita dapatkan di tanah Arab, namun menurut saya itu hanyalah kebetulan saja, saya ikut memandikan jenazah bukan semata mata saat ditanah air salah satu tugas saya sebagai Pembantu PPN ditingkat desa adalah merawat jenazah, namun hanya kiebetulan saja jamaah saya ada yang meninggal, dan saya berkesempatan ikut memandikan ahli surga yang dimandikan dan dikafani dengan layak tersebut.
            Hari sudah larut malam, jenazah barusaja selesai dikafani, Istri almarhum yang diberi kesempatan melihat wajah suaminya untuk terahir kalinya juga tidak mau melihatnya, dia sangat takut jika akan menangis saat melihat wajah almarhum suaminya, Bel;liau menelpon anaknya yang berada di tanah air, saya yang diminta untuk berbicara untuk menjelaskan kondisi almarhum ayahnya. kami hanya bisa menghiburnya, dan berpamitan kepada petugas rumah pemandian jenazah untuk pulang ke Hotel dengan naik taksi.
            Jam 12 malam atau jam 12 PM (Post Meidiem) saya bersama rombongan baru sampai hotel, sebenarnya kami sudah pasrah dan percaya bahwa jenazah akan disholatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan dengan layak, namun petugas tetap menginginkan petugas dan keluarga mengikuti prosesi pemakaman jenazah, dan kini hampir jam setengah tiga kami haruss kembali ke Rumah Pemandian jenazah, bisa dimaklumi jika saya masih lelah menahan kantuk untuk sekedar mencari baju seragam, sementara Gus Siddik yang berada di Lift sudah siap untuk turun, dan ternyata baju saya dipakainya, sehingga saya harus membawa baju Gus Siddiq dan berlari kearah Lift.

            Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saat kami bertukas baju didalam Lift tersebut diketahui orang lain, bisa bisa terjadi salah faham dan kami dianggap apalah kok bertukas baju sesama jenis, namun kondisi tergesa yang mengakibatkan kami harus melakukann hal ini. Belum lagi saat mencari kendaraan yang dapat mengantarkan kami ke Rumah Pemandian jenazah, tidak ada sopir taksi yang dapat mengenali tempat tersebut, seandainya tidak secara kebetulan ada polisi yang kebetulan berpakaian sipil dan sedang mengendarai mobilnya dan bersedia mengantarkan kami ke rumah pemandian jemnazah tersebut, belum tentu kami dapat datang kesana sebelum sholat subuh dimulai. 

Kuantar Engkau ke Surga

Mata barusaja terpejam, ketika rekan tim kesehatan mengabarkan bahwa baru saja visitasi jamaah laki laki yang mengalami demensia. Sebagaimana jamaah yang mengalami demensia sebelumnya, jamaah ini juga ingin pulang ke rumahnya di Muncar, rupanya dia sangat rindu dengan deru ombak dan sampan kesayangannya. Dia lupa bahwa sekarang sudah berada di makkah dan beberapa hari lagi akan ke Arofah. Saya memendam tanda tanya, siapakah jamaah ini, dengan mengingat saya juga dari Muncar, dengan demikian maka jamaah ini satu Kecamatan dengan saya, saya ingin menjenguknya, barangkali saya bisa sebagai teman untuk bicara, mungkin dengan berbicara tersebut bebannya akan berkurang. Sayapun datang ke kamarnya.
Nampak lelaki tua tersebut diam saja ketika saya mendatanginya, istrinya yang sabat memnyuapi dengan makanan sereal, sementara di bed lainnya nampak lelaki lain yang sepertinya sedang sakit dan berbaring, dia satu kampung dengan lelaki yang mengalami demensia tersebut, mereka adalah orang orang laut, saya paham betul dengan kehidupan mereka, karena ruham saya hanya dua kilometer dari pelabuhan penangkapan ikan. Saya sering ke pelabuhan, entah untuk mencari ikan dipasar maupun sekedar rekreasi bersama istri. Beberapa hari sebelum keberangkatan ke tanah suci, saya juga sempat ke pelabuhan terbesar di Indonesia tersebut, sekedar berlibur berdua dengan ibu dari anak anakku, dia paling senang pergi kelaut, meski tidak dapat berenang, melihat nelayan pulang dari melaut dengan segudang ikan yang siap mengisi kebuituhan puluhan pabrik pengolahan ikan yang ada disana.
Saya mulai memperkenalkan diri dan ngobrol banyakj hal dengan lelaki yang mengalami demensia ini yang diketahui bernama Pak Joko, saya tahu bagaimana kondisi orang orang laut tersebut, saya sudah belasan kali menjadi panitia manasik haji di daerah tersebut, sedikit banyak saya mengetahui karakter orang orang tersebut. Saya berbicara dengan sedikit dibumbui nasehat, dan Pak Joko sepertinya memperhatikannya, begitu juga dengan lelaki di sebelahnya yang sedari tadi tertidur, sekarang mulai duduk dan mendengarkan saya bicara. Kitapun ngobrol banyak hal. Saya meninggalkan kamar mereka, membiarkan mereka menikmati istirahat di kamarnya.
Saya kaget keesokan harinya karena lelaki yang bersama Pak Joko sesaknya kambuh, Tim medis membawa yang bersangkutan ke KKHI Makkah, sejak di Madinah orang ini mengalami sesak nafas, dia perokok berat hingga di tanh sucipun juga membawa rokok yang cukup untuk 42 hari, rekan medis sudah mengingatkan agar mengurangi merokok, namun sepertinya beliau tidak dapat mengurangi dengan sepenuh hati, meski rokok bukan satu satunya penyebab orang sakit. Saya sedikit merasa tenang karene pasien sudah dirujuk di Rumah Sakit Arab Saudi Al Noor. Saya berharap jamaah tersebut dapat segera sembuh dan dapat melanjutkan kegiatan ke Arofah yang beberapa hari akan dilaksanakan.
Kabar duka itu ahirnya datang juga dari Ayyub, Orang Maktab Ganteng yang pandai berbahasa Indonesia, beberapa Jamaah perrempuan sempat terpesona dengan Ayyub yang tampannya hampir senilai dengan ketua kloter ini. Ayyub memang paling cepat memberikan kabar dari jamaah yang dirawat dirumah sakit, dia selalu update kondisi jamaah disana. Sayapun segera menghubungi Istri dari Jamaah yang meninggal tersebut, meski saya tidak menyampaikan secara langsung, saya mengajaknya untuk menjenguk suaminya yang dirawat dirumah sakit. Kami tahu bahwa beliau mungkin akan shok jika kami langsung memberitahukannya, saya dan rekan medis mengajaknya ke KKHI, karena kami tidak dapat langsung ke Rumah sakit tanpa pengantar dari KKHI.
Saya mengajak jamaah Sholat Maghrib di KKHI, meski beliau mungkin bertanya tanya, mengapa belum juga bertemu dengan suaminya, namun saya tetap meyakinkan bahwa setelah sholat beliau akan bertemu dengan suaminya. Saya dan dokter Idha mengurus Administrasi, sementara istri dari almarhum saya persilahkan makan nasi kotak yang disediakan KKHI, saya belum memberitahukan kematian suaminya sampai beliau menghabiskan makanannya. Lama juga Ibu ini menghabiskan makanannya, mungkin pikirannya nggak jenak karena belum dapat kabar yang pasti meski sudah di KKHI, saya membunuh waktu dengan ngobrol dengan Mbak Lusi, perawat tetangga desa yang kebetulan bertugas di KKHI Makkah, Janda Cantik dan energik ini seperti tidak ada waktu untuk sekedar ngobrol, maklumlah begitu banyak jamaah yang sakit yang butuh penanganan dengan segera, petugas KKHI seakan tidak boleh beristirahat sedetikpun.

Saya menyampaikan kabat duka kematian ini kepada istri alharhum setelah hampir separuh makanan ibu ini tertelan, dan meski dengan berlinang air mata, Ibu ini dapat menerimanya, meski dia ragu tentang p[enguburan jebazah suaminya, hal ini berkaiotan dengan kabar burung dari orang orang yang tidak bertanggung jawab yang menyampaikan bahwa jenazah yang wafat di Saudi Arabia tidak dikuburkan sebagaimana di Indonesia, jenazah tersebut konon hanya dibungkus dan ditumpuk beberapa jenazah dalam lubang pemakaman. Saya meyakinkan ibu ini bahwa pemakaman disini sama dengan di tanah air, bahkan orang yang wafat dalam rangka menjalankan Ibadah Haji di jamin masuk surga, disholatkan di Masjidil haram dengan jutaan jamaah.

Orang Terahir

Saya mengenalnya ketika beliau berada di Pesawat saat berangkat ke tanah suci. beliau sempat membuat petugas kesehatan melakukan tindakan ekstra karena sesak nafasnya yang kambuh saat merasakan AC Pesawat dalam perjalanan 9 jam ke Tanah Suci.
Tatapan matanya tegar, masih tersisa raut wajah keriput wajah dari lelaki tampan di zamannya, suaranya juga tegas. beberapa kalimatnya menunjukkan bahwa dia orang yang bepengalaman, terlenih saat Bupati datang mengunjunginya, dia turut bangga karena salah satu muridnya jadi orang berpengaruh di negeri ini.
Saya masih ingat dalam penerbangan Surabaya Medinah, kru pesawat ikut membantu team kesehatan kami saat beliau yang telah berumur 76 tahun ini sesak nafas dan harus mendapatkan perawatan kestra, dirawat dalam ruangan khusus dengan bantuan tabung oksigen, peralatan medis pesawatpun dipergunakan untuk menolong bapak tua penuh semangat ini. Bersyukur karena Mbak Sari ( Paramedis kami ) lancar berbahasa Inggris, sehingga komuikasi dengan kru pesawat lancar, berita acara dibuat oleh kru pesawat untuk alasan penerbangan, dalam hatin saya berdoa semoga bapak tua ini selamat sampai Medinah.
 Kami sangat ekstra menjaganya, hampir tiap hari team kami melakukan visitasi terhadap beliau yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri, baik di makkah maupun di Madinah. bahkan ada satu team kami yang secara khusus merawat orang tua pensiunan Penghulu ini yang begitu tinggi semangat hidupnya, semangat untuk menyempurnakan hajinya, kerinduanya terhadap tanah suci, kerinduannya terhadap tanah kelahiran.
Ketika di Arofah, beliau sempat dilarikan di Rumah Sakit Arofah, dengan didampingi Istri beliau dan Mbak Sari ( paramedis kami ) hingga seluruh Jamaah beranngkat ke Mina, beliau masih di Rumah sakit Arofat. Ketika kami menjenguknya di Arofah, beliau sangat ingin ke Mudzdalifah dan Mina meski team dokter melarangnya, beliau ingin Mabid di Mina, namun kami tidak sanggup untuk memenuhinya, sebab bagi kami keselamatan jamaah adalah yang utama, biarlah beliau tidak Mabid di Mina, biarkan rekan rekan sesama Jamaah yang mewakili melontar jumroh, biarkan beliau langsung ke Makkah.
Kami makan bersama, ketika KBIh dari bapak tua ini melakukan tasyakuran Haji.  Beliau sempar sehat dan dapat melaksanakan thawaf Ifadah meski harus di dorong pakai kursi roda. Beberapa hari beliau  sehat dan berkumpul dengan sesama jamaah, bahkan ada jamaah yang nyeletuk bahwa beliau adalah satu satunya jamaah yang dirawat dirumnah sakit yang kembali dengan selamat, beliau bercerita tentang kepuasan pelayanan Rumah sakit,  Saya sempat membuatkan makanan untuk beliau sebelum kesehatannya kembali drop dan  dirawat kembali ke Rumah sakit, bahkan sempat ngipasi saat beliau di kamar kecil di kamar tidurnya, mendorongnya dengan kursi roda hingga  sampai ke pintu gerbang hotel sampai ambulan datang, Saya masih ingat pesan beliau saat saya antar ke loby untuk kemudian dibawa ke rumah sakit.Beliau ingin saya menjemputnya saat saya pulang ke tanah air.
Malam ini,saya mohon maaf kepada beliau dan keluarga, karena saya tidak menjemputnya, bahkan tas tenteng yang berisi baju yang akan saya berikan kepadanya juga harus saya bawa pulang, karena kami tahu bahwa kesehatannya sangat kritis, dan kami tidak ingin berita ini menjadi beban pikiran istri dan keluarganya. Saya sudah menyadari apa sebenarnya yang akan terjadi, kami hanya menunggu keajaiban agar beliau bisa kembali ke tanah air, bagaimana kami akan menjelaskannya kepada keluarga ?? seandainya keajaiban itu tidak berkenan kepadanya ??
Malam kini setelah tiga hari kami berada di tanah air, kami mendapat kabar duka, bahwa Jamaah yang kami titipkan di Rumah Sakit Al Nooor Saudi Arabia atas nama P Muhammad Daim Suseno sudah tiada. Beiau berpulang sebagai  jamaah Haji Kloter 37 yang wafat di tanah suci. Beliau adalah Jamaah Haji Kami yang ke enam yang menghembuskan nafas terahir di tanah suci. Selamat Jalan Orang Tua Kami
Surga telah menunggumu

Perempuan itu kugendong juga

Hari itu menjelang sholat dhuhur saya sudah siap Sholat di Masjid Nabawi, didalam Masjid sudah sangat padat, saya kebagian tempat didekat pintu, disamping saya sederetan galon air zamzam dingin yang disiapkan untuk jamaah. Saya mengambil botol semprotan yang diberikan PPIH saat di Embarkasi, kuisi penuh dengan air zamzam dingin, dan setelah penuh saya juga kuteguk segelas zamzam yang tidak dingin. Botol semprotan berisi 650 ml itu sangat berguna bukan saja menyemprot wajah saat kepanasan, namun juga bisa digunakan untuk air minum.
Saya ingin kembali ketempatku semula yang ternyata sudah ditempati orang lain, seorang negro duduk tenang sambil merapalkan doa doa, padahal didepannya ada tas yang kugunakan sebagai tanda agar tempat tersebut tidak ditempati. Biasanya di Indonesia hal semacam ini sudah biasa, sebuah tempat jika sudah diberi tanda barang, maka orang lain tidak akan menempatinya, namun disini bukan Indonesia. Kita orang asing disini yang berbeda adat dan tradisinya,saya bergeser dan duduk ditempat lain meski saya tahu tempat itu sangat sempit, dan mungkin nggak cukup untuk jamaah dzuhur nantinya. Saya sholat sunnah dua rokaat dan merapalkan doa doa untukku sendiri, mengambil tas bermaksud mengambil HP android untuk melihat catatan titipan doa dari teman teman yang ingin didoiakan di Masjid Nabawi dan Masjidil haram.
Ketiga memegang android, tergoda juga untuk menggunakan fasilitas HP pintar tersebut untuk menggunakan selfie didalam Masjid, cekrak cekrek hingga ahirnya saya puas dan bermaksud membuka catatan titipan doa. Tiba tiba ada panggilan masuk dari seorang ketua regu, dia menyampaikan bahwa ada satu anggotanya yang stress dan mau pulang jalan kaki ke kampung halamannya, sekarang dia berada trotoar toko menghindari sengatan matahari yang mencapai 48 derajat. Saya menyuruh ketua regu tersebut untuk membawa orang tua yang tidak ingat tersebut untuk kembali ke hotel, namun berbagai cara bujukan disampaikan tidak membuahkan hasil.
Adzan dzuhur mulai dikumendangkan, pratanda sebentar lagi dimulai jamaah sholat, sepertinya saya tidak dapat mengikuti sholat jamaah dengan Imam Besar Masjid Nabawi pada hari pertama di Kota Madinah ini, saya harus mendatangi jamaah yang sakit tersebut, padahal tinggal beberapa menit lagi Sholat jamaah dimulai. Okey saya sampaikan ke ketua regu agar tidak kemana mana agar saya mudah mencarinya.
Saya bergegas meninggalkan Massjid, menuju lokasi jamaah tersebut, sementara orang orang bergegas menuju Masjid agar bisa menggenapi Sholat Arbain, yakni Sholat Jamaah di masjid Nabawi selama 40 waktu sholat. Jamaah dari berbagai negara berdatangan disini, sesekali saya berpapasan dengasn jamaah perempuan yang wajahnya menurut saya  lebih cantik dari perempuan Indonesia. Mungkin ini hanya pandangan saya saja yang jauh dari istri dan keluarga. Toh setiap orang mempunyai keistimewaan sendiri sendiri, dan sudah dijelaskan dalam kitab suci bahsa kita diciptakan bersuku suku dan berbangsa bangsa agar bisa saling mengenal. Dalam perjalanan saya bertemu dengan Amrin, Mahasiswa Al Azhar yang sedang tugas sebagai PPIH Madinah, saya mengajaknya serta mencari jamaah yang sakit tersebut, dan alhamdulillah dia tidak berkeberatan.
Kami menemukan jamaah tersebut duduk di emperan toko yang tutup dengan ditemani ketua regunya, saya menyuruh ketua regu tersebut menuju Masjid untuk menunaikan Sholat Dzuhur berjamaah, karena bagi Jamaah hanya ada satu kesempatan untuk melaksanakan Arbain sedangkan bagi saya semoga tahun depan bisa ke Madinah lagi untuk menunaikan arbain yang tahun ini tidak terlaksana. Saya mulai ngobrol dengan nenek tua ini, menanyakan nama dan alamatnya, maklumlah meskipun saya ketua kloter saya tidak hafal dengan 445 jamaah saya, dan sepertinya nenek tua ini benar benar terkena demensia, sebuah penyakit yanng menyerang seseorang dari berbagai sebab, yang salah satunya akibat kelelahan dan pikiran yang tak terkendali. Saya membujuk orang tua ini untuk kembali ke hotel dan beristirahat, tetapi orang tua ini tetap ngeyel ingin pulang ke rumahnya dan mencuci baju yang digunakan sehabis manasik haji. Saya sudah menjelaskan bahwa kita sekarang sudah berada di kota Madinah dan sedang menjalankan ibadah haji, namun perempuan tua tersebut tetap ngeyel dan menyatan bahwa dia masih di kotanya dan bermaksud pulang.
Saya mencoba menghubungi dokter Idha, namun HP nya sedang tidak aktif, saya minta bantuan Amrin untuk menyusul dokter Idha dengan memberikan alamat hotel tempat kami menginap. Sambil menunggu dokter Idha datang, saya mengajak ngobrol nenek tua ini dan membujuknya untuk kembali ke hotel, meski usaha saya sia sia, kamipun ngobrol dan saya mengimbangi seolah olah juga masih berada di tanah air. Banyak sekali yang kami perbincangkan dan sesekali saya menyemprot wajah nenek tua ini dengan zamzam yang saya bawa dari Masjid hingga Amrin dan Dokter Idha datang.
Dokter Idhapun tidak dapat memberikan solusi kecuali membawa yang bersangkutan ke Kantor Sektor yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat kami. Kamipun mrmbujuk nenek tua ini untuk ke berjalan menuju kantor sektor, meski harus dengan bahasa bahwa jalan itu menuju rumahnya, dan nkepada Amrin saya menyuruhnya untuk ke Kasjid, karena saya merasa butuh waktu lama untuk membawa nenek tua ini hingga sampai ke Kantor sektor.
Sebanarnya untuk sampai ke Kantor sektor 5 tidaklah jauh, namun nenek tua tersebut tidak melalui jalur tersebut, maunya ke arah lain yang menurutnya menuju kerumahnya, okelah kita mengikuti langkah nenek ini, meski jalur yang kita lalui harus memutar, saya ingin menggandeng tangannya agar perjalanan kami semakin cepat, namun nenek ini tidak mau, dia ingin berjalan sendiri. Beberapa puluhh meter kita harus berhenti untuk beristirahat, terlebih sengatan matahari nggak mau kompromi, jalanan mulai ramai, orang orang sudah mulai pulang dari Masjid. Toko toko sudah mulai buka, sehinngga kami lebih sulit untuk berteduh di emperannya. Nenek tua itu ingin mencari jalan lain dan kita tahu bahwa kalau kita menuruti, maka jalan menuju Kantor Sektor semakin jauh, kita terus membujuknya bahwa jalan kerumahnya adalah jalan yang kita tunjukkkan.

Nenek tua itu duduk terdiam di emperan toko, mungkin dia sudah sangat capek, beberapa kali kita berhenti dan duduk duduk saja, namun yang terahir ini dia benar benar tidak mau jalan, sudah beberapa cara kami membujuknya, nammun dia tak bergeming. Kami tidak bisa terus terusan seperti ini. Rasanya lebih mudah membujuk anak anak yanng merajuk daripada membujuk orang tua yanbng demensia. Dulu saat pacaran pernah pacar saya merajuk, ngambek, dan dengan telaten aku berhasil membujuknya. Tetapi yang ini, haruskan saya berdua mengurusi satu jamaah ?? perlu adanya langkah revolusioner untuk menyelesaikannya, segera saya bopong nenek tua ini hingga ahirnya sampai ke Kantor Sektor.

Selfie di Masjidil Haram

Beberapa kali saya nelakukan selfi disekitar Baitullah, saya pikir ini adalah kelakuan konyol bagi orang yang sedang beribadah, ulah latah ini beberapa kali saya lakukan, terutama saat santai santai nunggui jamaah yang sedang thawaf maupun sai. Meski saya sering disini, namun hanya berkesempatan beberapa kali busa thawaf dan sai, itupun karena memandu jamaah. Selebihnya hanya selfi selfi seperti orang yang baru tahu tehnologi.
Saya jadi berfikir, apa sih nikmatnya selfi, saya mencobanya hari ini saat saya ke Masjidil Haram, dengan menggunakan pakaian ihrom, saya Umroh sunnah mengambil miqod dari Tan em, miqod terdekat yang dapat ditempuh dengan biaya dua real sekali jalan menggunakan bus dan membeli karcis di terminah. Namun beberapa kali saya akan mencoba selfie sambil beribadah saya jadi ragu dan malu, haruskah ritual ibadahku aku abadikan sendiri ?? Bukankah sudah ada malaikat yang mengabadikannya ?? Lantas kenapa aku harus selfie ?? Apalagi di upload di media sosial.
Jadilah aku Ibadah tanpa selfie. Meskipun dalam hati aku tidak puas, namun aku harus merelakannya. Suatu saat aku datang ke Masjidil Haram daan saya niati untuk selfie, dan seperti malam sebelumnya saya ke Masjidil haram bersama jamaah yang berabngkat untuk beribadah, saya membawa tas rangsel yang berisi kain Ihram. Saya berganti baju di kamar mandi yang ada diluar Masjidil Haram. Hari ini saya niati untuk selfie dari berbagai posisi. Saya nggak peduli dengan perkataan orang, karena memang tujuan saya adalah selfie, sebagai bahan cerita setibanya ditanah air. dan bersyukur bila dapat ikut sholat jamaah di dalam Masjidil haram, karena biasanya jiika berangkat mendekati waktu sholat saya mendapat tempat jamaah dihalaman parkir.

Ada beberapa alasan saya untuk selfie meski bisa dikatakan sebagai alasan pembenar dari apa yang saya lakukan sebagaimana manusia pada umumnya yang selalu mencari alasan pembenar, begitu juga dengan saya, Salah satu alasan adalah  saya bisa memberikan gambaran pada jamaah haji yang akan berangkat tahun depan tentang kondisi riil tanah suci. 
Semoga selfie saya tidak menggantikan catatan malaikat tentang ibadah saya. Dan terus terang saya belum bisa berlindung dari godaan selfie yang menggoda.

Saya Kok Nggak Gundul


Saya selalu ditanya oleh beberapa jamaah dan pertanyaannya selalu sama, meskipun saya jawabannya juga selalu sama, atau mungkin saya harus memberikan jawaban yang berbeda pada pertanyaan yang sama ???
Ritual haji adalah simbul simbul perjuangan manusia. Seperti umi Hajar yang berlari dari shofa ke Marwah untuk mencari air untuk anaknya, sebuah simbul perjuangan seorang ibu untuk anaknya, mata air itu ada dibawah kaki Ismail anaknya, ini bukan berarti perjuangan umi Hajar sia sia, namun itulah proses perjuanganya karena seringkali proses lebih nikmat daripada hasil. Apa yang kita kerjakan hari ini atau untaian doa yang kita wedarkan hari ini belum tentu dikabulkan saat ini .Karena dikabulkannya doa tak secepat iklan rokok di TV, seringkali dikabulkannya dia saat kita sudah lupa, atau mungkin diberikan kepada anak anak kita. Begitu juga dengan usaha kita. Bisa jadi kita yang lelah berusaha, namun rizki itu diberikan melalui pasangan hidup kita atau anak anak kita
Uraian ritual haji yang diahiri dengan Tahalul atau mencukur rambut sebagai simbul bahwa setelah kita melakukan rukun Islam yang kelima tersebut, setelah kita thawaf dengan pakaian yang sama tanpa nelihat jabatan seseorang, dengan simbul perjuangan kita mencapai jamarat dari mina dan arofah yang begitu terik menyengat mengalahkan bara istri tua yang dimadu dengan istri kedua. Kita ke jamarat untuk memberikan simbul permusuhan kita dengan setan dan nafsu yang tidak terkendali.
Tahalul konon harus dicukur gundul, sebagai simbul bahwa setelah semua ritual haji tersebut, kita rak ubahnya seperti bayi yang baru lahir, dan untuk sebagai pengingat bahwa hati dan pikiran kita adalah bersih, dokepala disematkan songkok putih agar selalu ingat bagwa kita telah bersih dan hindari untuk dikotori lagi.
Kadangkala simbul simbul wajib dilakukan, namun disisi lain sebuah simbul dapat dianbil sebagai pengingat yang harus dihunjamkan ke sanubari.
Bagi saya tidak perlu saya dipanggil P Haji, meski itu sebagai pengingat bahwa saya sudah haji dan harus menjaga tingkah laku saya, namum sebenarnya setiap orang juga harus selalu menjaga tingkah lakunya agar tetap layak disebut sebagai manusia.
Saya juga akan menggunakan nama kebesaran saya sebagai doa yang disematkan orangtua saya sejak saya lahir, dan tidak perlu saya menggantinya setelah semua ritual i ni, karena orang tua saya sudah mendoakan yang terbaik bagi diri saya.
Konon makna bama saya adalah penolong atau pertolongan, yang lsin memberikan makna dengan menggenapi.
Bagiku sebuah nama bisa.penting namun juga tidak terlalu penting, orang tua memberikan bama tentunya mempunyai harapan san doa terhadap anaknya.
Dan bagi saya tempat favorit asalah bukit shofa.

TAS KOPOR TERTINGGAL DI EMBARKASI



Kurebahkan diri pada tiang payung payung cantik di pelataran Masjid Nabawi, aku ingin melihat payung payung ini mekar sehabis sholat subuh, begitu indah pemandangan yang hanya saya dapatkan disini. Ditempat gersang ini mungkin hanya payung payung raksasa ini yang bisa kita nikmati mekarnya, tidak seperti di Banyuwangi dimana pada musimnya kita dapat menikmati kembang buah naga yang mekar indah dimalam hari, dan menutup diri keesokan harinya. Buah naga memang unik, kembangnya mekar hanya dimalam hari untuk melakukan perkawinan ( seperti manusia saja yang kawinnya senangnya malam hari ). Saya senang ketika depan rumah kembang kembang itu bermekaran, saya membantu “memperkosa” pekawinanya agar buah naga berbuah besar. Seperti payung payung raksasa ini yang mekar digerakkan oleh mesin. Orang orang yang sebagian besar jamaah haji Indonesia banyak yang menikmati mekarnya payung payung ini, nggak peduli dikatakan ndeso, yang penting enjoy saja menikmatinya.
Saya masih tersandar di tiangnya, pikiran masih mengembara mencari jawaban dari pertanyaan diri sendiri, kiemana lima kopor jamaah yang sampai hari kedua belum ditemukan, padahal ketiga hotel tempat  jamaah menginap sudah digerilya, dan dari kloter lain di hotel lain juga tidak ada berita tentang kopor jamaah tersebut. Padahal sepasang sandal jepit saya yang saya yakin tertinggal di pesawatpun dapat saya temukan. Sandal jepit merah pemberian istri saya, warnanya sama dengan warna kesukaannya.  Saya tidak tahu, siapa yang membawakan sandal jepit merah tersebut hingga ke hotel tempat kami menginap.
Lalu lalang jamaah seperti tak aku hiraukan, hanya satu doa yang selalu aku ucapkan baik dalam hati maupun lesan, Ya Allah Mudahkanah urusanku. Mungkin hanya di Masjid ini saya berdoa sangat khusuk, di Masjid dimana Nabi Muhammad dulu menyebarkan agamanya hingga ke seluruh penjuru dunia. mengapa saya bisa khusuk berdoa disini, padahal Bumu adalah Masjid yang dihamparkan untuk seluruh seluruh Umat, tetapi kenapa Manusia ditempat tempat tertentu doanya semakin khusuk? Mengapa di Masjid Nabawi Ibadah dan doa semakin khusuk meski didepan melintas perempuan cantiq dengan wajah putih merona dengan hidung yang nyaris sempurna ??. Saya terus memenangkan diri, saya terus menghitung hitung keberadaan kopor jamaah, ada lima kopor jamaah yang ternyata calon jamaah tersebut adalah calon jamaah yang masih belum berangkat karena faktor kesehatan. Kopornya sudah sampai Madinah. Mungkinkah kopor jamaah saya masih tertinggal di embarkasi ??? saya menghubungi PPIH embarkasi, saya menghitung perbedaan waktu, karena antara Madinah dan Surabaya da perbedaan waktu 4 jam, sehingga ketika di Madinah Jam 6 pagi  naka di Surabaya sudah Jam 10 siang. Dan benar juga bahwa kelima kopor itu masih berada di Embarkasi yang akan dititipkan pada kloter yang berangkat esok pagi.

Ahirnya satu persatu masalah terurai juga, meski belum tahu kapan kopr itu sampai, tetapi sudah ada kepastian dimana kopor itu berada. Semoga saja nasibnya tidak seperti kloter sebelumnya yang ada kopor yang ditemukan setelah enam hari. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus berhemat pakaian karena pakaian ada didalam kopor yang belum ditemukan, beberapa jamaah yang mempunyai sedikit rizki membeli pakaian baru untuk ganti sambil menunggu kopornya datang, jamaah lainnya hanya memakai pakaian yang ada di tas tenteng. 

Doa Upacara hari Lahir Pancasila


Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Haji Khusus

Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Haji Khusus dapat diunduh DI SINI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 13 TAHUN 2008

TENTANG

PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI


DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,




Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia menjamin kemerdekaan warga negaranya untuk beribadah menurut agamanya masing-masing;

b.   bahwa ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang mampu menunaikannya;

c.    bahwa upaya penyempurnaan sistem dan manajemen penyelenggaraan ibadah haji perlu terus dilakukan agar pelaksanaan ibadah haji berjalan aman, tertib, dan lancar dengan menjunjung tinggi semangat keadilan, transparansi, dan akuntabilitas publik;

d.   bahwa Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dan tuntutan masyarakat sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru;

e.    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;



Mengingat : Pasal 20, Pasal 20 A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;


Dengan . . .












- 2 -


Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENYELENGGARAAN IBADAH
HAJI.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1.    Ibadah Haji adalah rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap orang Islam yang mampu menunaikannya.

2.    Penyelenggaraan Ibadah Haji adalah rangkaian kegiatan pengelolaan pelaksanaan Ibadah Haji yang meliputi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan Jemaah Haji.

3.    Jemaah Haji adalah Warga Negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan Ibadah Haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

4.    Warga Negara adalah Warga Negara Indonesia.

5.    Pemerintah adalah Pemerintah Republik Indonesia.

6.    Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, yang selanjutnya disebut DPR, adalah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

7.    Komisi Pengawas Haji Indonesia, yang selanjutnya disebut KPHI, adalah lembaga mandiri yang dibentuk untuk melakukan pengawasan terhadap Penyelenggaraan Ibadah Haji.

8.    Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji, yang selanjutnya disebut BPIH, adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh Warga Negara yang akan menunaikan Ibadah Haji.


9.    Pembinaan . . .












-  3 -

9.    Pembinaan Ibadah Haji adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penyuluhan dan pembimbingan bagi Jemaah Haji.

10. Pelayanan Kesehatan adalah pemeriksaan, perawatan, dan pemeliharaan kesehatan Jemaah Haji.

11. Paspor Haji adalah dokumen perjalanan resmi yang diberikan kepada Jemaah Haji untuk menunaikan Ibadah Haji.

12. Akomodasi adalah perumahan atau pemondokan yang disediakan bagi Jemaah Haji selama di embarkasi atau di debarkasi dan di Arab Saudi.

13. Transportasi adalah pengangkutan yang disediakan bagi Jemaah Haji selama Penyelenggaraan Ibadah Haji.

14. Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus adalah Penyelenggaraan Ibadah Haji yang pengelolaan, pembiayaan, dan pelayanannya bersifat khusus.

15. Penyelenggara Ibadah Haji Khusus adalah pihak yang menyelenggarakan ibadah haji yang pengelolaan, pembiayaan, dan pelayanannya bersifat khusus.

16. Ibadah Umrah adalah umrah yang dilaksanakan di luar musim haji.

17. Dana Abadi Umat, yang selanjutnya disebut DAU, adalah sejumlah dana yang diperoleh dari hasil pengembangan Dana Abadi Umat dan/atau sisa biaya operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji serta sumber lain yang halal dan tidak mengikat.

18. Badan Pengelola Dana Abadi Umat, yang selanjutnya disebut BP DAU, adalah badan untuk menghimpun, mengelola, dan mengembangkan Dana Abadi Umat.

19. Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang agama.


BAB II

ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2

Penyelenggaraan Ibadah Haji dilaksanakan berdasarkan asas keadilan, profesionalitas, dan akuntabilitas dengan prinsip nirlaba.

Pasal 3 . . .












- 4 -


Pasal 3

Penyelenggaraan Ibadah Haji bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi Jemaah Haji sehingga Jemaah Haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam.

BAB III
HAK DAN KEWAJIBAN

Bagian Kesatu
Hak dan Kewajiban Warga Negara

Pasal 4

(1)      Setiap Warga Negara yang beragama Islam berhak untuk menunaikan Ibadah Haji dengan syarat:

a.    berusia paling rendah 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah; dan

b.    mampu membayar BPIH.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 5

Setiap Warga Negara yang akan menunaikan Ibadah Haji berkewajiban sebagai berikut:

a.        mendaftarkan diri kepada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji kantor Departemen Agama kabupaten/kota setempat;

b.       membayar BPIH yang disetorkan melalui bank penerima setoran; dan

c.        memenuhi dan mematuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji.




Bagian Kedua . . .












- 5 -

Bagian Kedua

Kewajiban Pemerintah

Pasal 6

Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dengan menyediakan layanan administrasi, bimbingan Ibadah Haji, Akomodasi, Transportasi, Pelayanan Kesehatan, keamanan, dan hal-hal lain yang diperlukan oleh Jemaah Haji.


Bagian Ketiga
Hak Jemaah Haji

Pasal 7

Jemaah Haji berhak memperoleh pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dalam menjalankan Ibadah Haji, yang meliputi:

a.        pembimbingan manasik haji dan/atau materi lainnya, baik di tanah air, di perjalanan, maupun di Arab Saudi;

b.       pelayanan Akomodasi, konsumsi, Transportasi, dan Pelayanan Kesehatan yang memadai, baik di tanah air, selama di perjalanan, maupun di Arab Saudi;

c.        perlindungan sebagai Warga Negara Indonesia;

d.       penggunaan Paspor Haji dan dokumen lainnya yang diperlukan untuk pelaksanaan Ibadah Haji; dan

e.        pemberian kenyamanan Transportasi dan pemondokan selama di tanah air, di Arab Saudi, dan saat kepulangan ke tanah air.

BAB IV
PENGORGANISASIAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 8

(1)      Penyelenggaraan Ibadah Haji meliputi unsur kebijakan, pelaksanaan, dan pengawasan.


(2)    Kebijakan . . .












-  6 -

(2)      Kebijakan dan pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas nasional dan menjadi tanggung jawab Pemerintah.

(3)      Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri mengoordinasikannya dan/atau bekerja sama dengan masyarakat, departemen/instansi terkait, dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

(4)      Pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.

(5)      Dalam rangka pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pemerintah membentuk satuan kerja di bawah Menteri.

(6)      Pengawasan Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas dan tanggung jawab KPHI.

(7)      Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan dan pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 9

Penyelenggaraan Ibadah Haji dikoordinasi oleh:
a.        Menteri di tingkat pusat;
b.       gubernur di tingkat provinsi;

c.        bupati/wali kota di tingkat kabupaten/kota; dan

d.       Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi.

Pasal 10

(1)      Pemerintah sebagai penyelenggara Ibadah Haji berkewajiban mengelola dan melaksanakan Penyelenggaraan Ibadah Haji.

(2)      Pelaksana Penyelenggaraan Ibadah Haji berkewajiban menyiapkan dan menyediakan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan Ibadah Haji sebagai berikut:

a.        penetapan BPIH;
b.       pembinaan Ibadah Haji;

c.        penyediaan Akomodasi yang layak;
d.       penyediaan Transportasi;

e.        penyediaan konsumsi;
f.         Pelayanan Kesehatan; dan/atau
g.        pelayanan administrasi dan dokumen.



(3)  Ketentuan . . .












-  7 -

(3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Penyelenggara Ibadah Haji diatur dengan Peraturan Pemerintah.


Bagian Kedua

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji

Pasal 11

(1)      Menteri membentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di tingkat pusat, di daerah yang memiliki embarkasi, dan di Arab Saudi.

(2)      Dalam rangka Penyelenggaraan Ibadah Haji, Menteri menunjuk petugas yang menyertai Jemaah Haji, yang terdiri atas:

a.        Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI);
b.       Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI); dan
c.        Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

(3)      Gubernur atau bupati/wali kota dapat mengangkat petugas yang menyertai Jemaah Haji, yang terdiri atas:

a.        Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD); dan
b.       Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD).

(4)      Biaya operasional Panitia Penyelenggara Ibadah Haji dan petugas operasional pusat dan daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

(5)      Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan mekanisme pengangkatan petugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.


Bagian Ketiga
Komisi Pengawas Haji Indonesia

Pasal 12

(1)      KPHI dibentuk untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan pelayanan Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia.

(2)      KPHI bertanggung jawab kepada Presiden.



(3)  KPHI  . . .












-  8 -

(3)      KPHI bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap Penyelenggaraan Ibadah Haji serta memberikan pertimbangan untuk penyempurnaan Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia.

(4)      KPHI memiliki fungsi:

a.  memantau
dan
menganalisis   kebijakan
operasional
Penyelenggaraan
Ibadah
Haji
Indonesia;





b.       menganalisis hasil pengawasan dari berbagai lembaga pengawas dan masyarakat;

c.        menerima masukan dan saran masyarakat mengenai Penyelenggaraan Ibadah Haji; dan

d.       merumuskan pertimbangan dan saran penyempurnaan kebijakan operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji.

(5)      Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, KPHI dapat bekerja sama dengan pihak terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(6)      KPHI melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden dan DPR paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.


Pasal 13

KPHI dalam melaksanakan tugasnya bersifat mandiri.


Pasal 14

(1)      KPHI terdiri atas 9 (sembilan) orang anggota.

(2)      Keanggotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur masyarakat 6 (enam) orang dan unsur Pemerintah 3 (tiga) orang.

(3)      Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur Majelis Ulama Indonesia, organisasi masyarakat Islam, dan tokoh masyarakat Islam.

(4)      Unsur Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditunjuk dari departemen/instansi yang berkaitan dengan Penyelenggaraan Ibadah Haji.


(5)    KPHI . . .












-  9 -

(5)      KPHI dipimpin oleh seorang ketua dan seorang wakil ketua.

(6)      Ketua dan Wakil Ketua KPHI dipilih dari dan oleh anggota Komisi.

Pasal 15


Masa kerja anggota KPHI dijabat selama 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.


Pasal 16


Anggota KPHI diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri setelah mendapat pertimbangan DPR.


Pasal 17

Untuk dapat diangkat menjadi anggota KPHI, calon anggota harus memenuhi persyaratan:

a.        Warga Negara Indonesia;

b.        berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun;

c.        mempunyai komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kualitas Penyelenggaraan Ibadah Haji;

d.        mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas dan mendalam tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;

e.        tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana kejahatan;

f.         mampu secara rohani dan jasmani; dan

g.        bersedia bekerja sepenuh waktu.

Pasal 18


Segala pembiayaan yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan tugas KPHI dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.


Pasal 19 . . .












- 10 -

Pasal 19

(1)      Dalam melaksanakan tugasnya KPHI dibantu oleh sekretariat.

(2)      Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri atas pertimbangan KPHI.

(3)      Sekretaris dalam melaksanakan tugasnya secara fungsional bertanggung jawab kepada pimpinan KPHI.

Pasal 20

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota KPHI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 diatur dengan Peraturan Presiden.



BAB V
BIAYA PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI

Pasal 21

(1)      Besaran BPIH ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri setelah mendapat persetujuan DPR.

(2)      BPIH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk keperluan biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji.

(3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan BPIH diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 22

(1)      BPIH disetorkan ke rekening Menteri melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional yang ditunjuk oleh Menteri.

(2)      Penerimaan setoran BPIH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan ketentuan kuota yang telah ditetapkan.

Pasal 23

(1)      BPIH yang disetor ke rekening Menteri melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dikelola oleh Menteri dengan mempertimbangkan nilai manfaat.

(2)   Nilai  . . .












-  11 -

(2)      Nilai manfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan langsung untuk membiayai belanja operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Pasal 24

(1)      Jemaah Haji menerima pengembalian BPIH dalam hal:

a.        meninggal dunia sebelum berangkat menunaikan Ibadah Haji; atau

b.       batal keberangkatannya karena alasan kesehatan atau alasan lain yang sah.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembalian dan jumlah BPIH yang dikembalikan diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 25

(1)      Laporan keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji disampaikan kepada Presiden dan DPR paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Penyelenggaraan Ibadah Haji selesai.

(2)      Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila terdapat sisa dimasukkan dalam DAU.

BAB VI

PENDAFTARAN DAN KUOTA

Pasal 26


(1)      Pendaftaran Jemaah Haji dilakukan di Panitia Penyelenggara Ibadah Haji dengan mengikuti prosedur dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur dan persyaratan pendaftaran diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 27


Ketentuan lebih lanjut mengenai Warga Negara di luar negeri yang akan menunaikan Ibadah Haji diatur dengan Peraturan Pemerintah.



Pasal 28 . . .












- 12 -

Pasal 28

(1)      Menteri menetapkan kuota nasional, kuota haji khusus, dan kuota provinsi dengan memperhatikan prinsip adil dan proporsional.

(2)      Gubernur dapat menetapkan kuota provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam kuota kabupaten/kota.

(3)      Dalam hal kuota nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi pada hari penutupan pendaftaran, Menteri dapat memperpanjang masa pendaftaran dengan menggunakan kuota bebas secara nasional.

(4)      Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kuota diatur dengan Peraturan Menteri.



BAB VII

PEMBINAAN

Pasal 29

(1)      Dalam rangka Pembinaan Ibadah Haji, Menteri menetapkan:

a.        mekanisme dan prosedur Pembinaan Ibadah Haji; dan

b.       pedoman pembinaan, tuntunan manasik, dan panduan perjalanan Ibadah Haji.

(2)      Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan tanpa memungut biaya tambahan dari Jemaah Haji di luar BPIH yang telah ditetapkan.

Pasal 30

(1)      Dalam rangka Pembinaan Ibadah Haji, masyarakat dapat memberikan bimbingan Ibadah Haji, baik dilakukan secara perseorangan maupun dengan membentuk kelompok bimbingan.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai bimbingan Ibadah Haji oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.



BAB VIII . . .












- 13 -

BAB VIII

KESEHATAN

Pasal 31

(1)      Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Ibadah Haji, baik pada saat persiapan maupun pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji, dilakukan oleh menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang kesehatan.

(2)      Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasi oleh Menteri.


BAB IX

KEIMIGRASIAN

Pasal 32

(1)      Setiap Warga Negara yang akan menunaikan Ibadah Haji menggunakan Paspor Haji yang dikeluarkan oleh Menteri.

(2)      Menteri dapat menunjuk pejabat untuk dan/atau atas namanya menandatangani Paspor Haji.

(3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai pengecualian ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.


BAB X
TRANSPORTASI

Bagian Kesatu
Pelaksanaan Transportasi

Pasal 33

(1)      Pelayanan Transportasi Jemaah Haji ke Arab Saudi dan pemulangannya ke tempat embarkasi asal di Indonesia menjadi tanggung jawab Menteri dan berkoordinasi dengan menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang perhubungan.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.


Pasal 34 . . .












- 14 -

Pasal 34

Penunjukan pelaksana Transportasi Jemaah Haji dilakukan oleh Menteri dengan memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan efisiensi.

Pasal 35

(1)      Transportasi Jemaah Haji dari daerah asal ke embarkasi dan dari debarkasi ke daerah asal menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai pembiayaan Transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.


Bagian Kedua

Barang Bawaan

Pasal 36

(1)      Jemaah Haji dapat membawa barang bawaan ke dan dari Arab Saudi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2)      Pemeriksaan atas barang bawaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri Keuangan.


BAB XI

AKOMODASI

Pasal 37

(1)      Menteri wajib menyediakan Akomodasi bagi Jemaah Haji tanpa memungut biaya tambahan dari Jemaah Haji di luar BPIH yang telah ditetapkan.

(2)      Akomodasi bagi Jemaah Haji harus memenuhi standar kelayakan dengan memperhatikan aspek kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan kemudahan Jemaah Haji beserta barang bawaannya.

(3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan Akomodasi bagi Jemaah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.


BAB XII . . .












- 15 -

BAB XII

PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI KHUSUS

Pasal 38

(1)      Dalam rangka Penyelenggaraan Ibadah Haji bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan khusus, dapat diselenggarakan Ibadah Haji Khusus yang pengelolaan dan pembiayaannya bersifat khusus.

(2)      Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus dilaksanakan oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus yang telah mendapat izin dari Menteri.

(3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksana Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 39

Penyelenggara Ibadah Haji Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, yang akan diberi izin oleh Menteri, wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.        terdaftar sebagai penyelenggara perjalanan umrah;

b.       memiliki kemampuan teknis dan finansial untuk menyelenggarakan Ibadah Haji Khusus; dan

c.        memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas Ibadah Haji.

Pasal 40

Penyelenggara Ibadah Haji Khusus wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a.        menerima pendaftaran dan melayani Jemaah Haji hanya yang menggunakan Paspor Haji;

b.       memberikan bimbingan Ibadah Haji;

c.        memberikan layanan Akomodasi, konsumsi, Transportasi, dan Pelayanan Kesehatan secara khusus; dan

d.       memberangkatkan, memulangkan, dan melayani Jemaah Haji sesuai dengan perjanjian yang disepakati antara penyelenggara dan Jemaah Haji.




Pasal 41 . . .












- 16 -

Pasal 41

Penyelenggara Ibadah Haji Khusus yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 dikenai sanksi administratif sesuai dengan tingkat kesalahannya, yang berupa:

a.        peringatan;

b.       pembekuan izin penyelenggaraan; atau

c.        pencabutan izin penyelenggaraan.

Pasal 42

Ketentuan lebih lanjut mengenai Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus diatur dengan Peraturan Pemerintah.


BAB XIII

PENYELENGGARAAN PERJALANAN IBADAH UMRAH

Pasal 43

(1)      Perjalanan Ibadah Umrah dapat dilakukan secara perseorangan atau rombongan melalui penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah.

(2)      Penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah dilakukan oleh Pemerintah dan/atau biro perjalanan wisata yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 44

Biro perjalanan wisata dapat ditetapkan sebagai penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah setelah memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.        terdaftar sebagai biro perjalanan wisata yang sah;

b.       memiliki kemampuan teknis dan finansial untuk menyelenggarakan perjalanan Ibadah Umrah; dan

c.        memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas Ibadah Umrah.

Pasal 45

(1)      Penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:



a.    menyediakan . . . .












-  17 -

a.        menyediakan pembimbing ibadah dan petugas kesehatan;

b.       memberangkatkan dan memulangkan jemaah sesuai dengan masa berlaku visa umrah di Arab Saudi dan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c.        memberikan pelayanan kepada jemaah sesuai dengan perjanjian tertulis yang disepakati antara penyelenggara dan jemaah; dan

d.       melapor kepada Perwakilan Republik Indonesia di Arab Saudi pada saat datang di Arab Saudi dan pada saat akan kembali ke Indonesia.

(2)     Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan perjalanan Ibadah Umrah diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 46

(1)      Penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) dikenai sanksi administratif sesuai dengan tingkat kesalahannya, yang berupa:

a.        peringatan;

b.       pembekuan izin penyelenggaraan; atau

c.        pencabutan izin penyelenggaraan.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.


BAB XIV
PENGELOLAAN DANA ABADI UMAT

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 47

(1)      Dalam rangka pengelolaan dan pengembangan DAU secara lebih berdaya guna dan berhasil guna untuk kemaslahatan umat Islam, Pemerintah membentuk BP DAU.

(2)    BP . . .












-  18 -

(2)      BP DAU terdiri atas ketua/penanggung jawab, dewan pengawas, dan dewan pelaksana.

(3)      Pengelolaan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pelayanan Ibadah Haji, pendidikan dan dakwah, kesehatan, sosial keagamaan, ekonomi, serta pembangunan sarana dan prasarana ibadah.

Bagian kedua

Tugas dan Fungsi

Pasal 48

(1)      BP DAU bertugas menghimpun, mengelola, mengembangkan, dan mempertanggungjawabkan DAU.


(2)      BP DAU memiliki fungsi:

a.        menghimpun dan mengembangkan DAU sesuai dengan syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b.        merencanakan, mengorganisasikan, mengelola, dan memanfaatkan DAU; dan

c.        melaporkan pengelolaan DAU kepada Presiden dan DPR.

Pasal 49

(1)      Dewan pengawas memiliki fungsi:

a.        menyusun sistem pengelolaan, pemanfaatan, pengembangan, dan pengawasan DAU;

b.        melaksanakan penilaian atas rumusan kebijakan, rencana strategis dan rencana kerja serta anggaran tahunan pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan DAU;

c.        melaksanakan pengawasan dan pemantauan atas pelaksanaan pengelolaan dan pemanfaatan DAU; dan

d.        menilai dan memberikan pertimbangan terhadap laporan tahunan yang disiapkan oleh dewan pelaksana sebelum ditetapkan menjadi laporan BP DAU.

(2)    Dalam . . .












-  19 -

(2)      Dalam pelaksanaan pengawasan keuangan, dewan pengawas dapat menggunakan jasa tenaga profesional.


Pasal 50

Dewan pelaksana memiliki fungsi:

a.        menyiapkan rumusan kebijakan, rencana strategis, dan rencana kerja serta anggaran tahunan pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan DAU;

b.       melaksanakan program pemanfaatan dan pengembangan DAU yang telah ditetapkan;

c.        melakukan penatausahaan pengelolaan keuangan dan aset DAU sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

d.       melakukan penilaian atas kelayakan usul pemanfaatan DAU yang diajukan oleh masyarakat;

e.        melaporkan pelaksanaan program dan anggaran tahunan pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan DAU secara periodik kepada dewan pengawas; dan

f.         menyiapkan laporan tahunan BP DAU kepada Presiden dan DPR.


Bagian Ketiga
Struktur dan Pengorganisasian

Pasal 51
Ketua/Penanggung Jawab BP DAU adalah Menteri.


Pasal 52


(1)      Dewan Pengawas BP DAU terdiri atas 9 (sembilan) orang anggota.

(2)      Keanggotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur masyarakat 6 (enam) orang dan unsur Pemerintah 3 (tiga) orang.

(3)      Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur Majelis Ulama Indonesia, organisasi masyarakat Islam, dan tokoh masyarakat Islam.


(4)   Unsur . . .












-  20 -

(4)      Unsur Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditunjuk dari departemen yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang agama.

(5)      Dewan Pengawas BP DAU dipimpin oleh seorang ketua dan seorang wakil ketua.

(6)      Ketua dan wakil ketua dewan pengawas dipilih dari dan oleh anggota Dewan Pengawas.

Pasal 53


(1)      Dewan Pelaksana BP DAU terdiri atas 7 (tujuh) orang anggota.

(2)      Keanggotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur Pemerintah dan ditunjuk oleh Menteri.

(3)      Dewan Pelaksana dipimpin oleh seorang ketua yang ditunjuk oleh Menteri dari anggota Dewan Pelaksana.

Pasal 54


(1)      Masa kerja anggota dewan pengawas dan dewan pelaksana dijabat selama 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan anggota dewan pengawas dan dewan pelaksana, hubungan kerja, dan mekanisme kerja masing-masing diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 55


Pengangkatan dan pemberhentian ketua dan anggota dewan pengawas serta ketua dan anggota dewan pelaksana ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

Pasal 56


(1)      Dalam melaksanakan tugasnya, BP DAU dibantu oleh sekretariat.

(2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai Sekretariat BP DAU diatur dengan Peraturan Menteri.





Bagian Keempat . . .












- 21 -

Bagian Keempat

Pengembangan dan Pembiayaan

Pasal 57

Pengembangan DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) meliputi usaha produktif dan investasi yang sesuai dengan syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 58

Hasil pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 dapat digunakan langsung sesuai dengan rencana kerja dan anggaran yang telah ditetapkan.

Pasal 59

BP DAU dapat memperoleh hibah dan/atau sumbangan yang tidak mengikat dari masyarakat atau badan lain.

Pasal 60

(1)      Biaya operasional BP DAU dibebankan pada hasil pengelolaan dan pengembangan DAU.

(2)      Dalam hal tertentu, biaya operasional BP DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibiayai oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.

(3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Menteri sebagai Ketua/Penanggung Jawab

BP DAU.

Pasal 61

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan DAU diatur dengan Peraturan Menteri.


Bagian Kelima

Pertanggungjawaban

Pasal 62

Ketua/Penanggung Jawab BP DAU menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan DAU kepada Presiden dan DPR setiap tahun.


BAB XV . . .












- 22 -

BAB XV

KETENTUAN PIDANA

Pasal 63

(1)      Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak bertindak sebagai penerima pembayaran BPIH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dan/atau sebagai penerima pendaftaran Jemaah Haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(2)    Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak bertindak sebagai penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah dengan mengumpulkan dan/atau memberangkatkan Jemaah Umrah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).


Pasal 64

(1)    Penyelenggara Ibadah Haji Khusus yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(2)      Penyelenggara perjalanan Ibadah Umrah yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).


BAB XVI

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 65

(1)      KPHI sudah harus dibentuk paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.


(2)   Pemerintah . . .












-  23 -

(2)      Pemerintah menjalankan tugas dan fungsi KPHI sampai dengan terbentuknya KPHI.




BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP


Pasal 66

Semua peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan Undang-Undang ini harus diselesaikan paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak diundangkannya Undang-Undang ini.


Pasal 67

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3832) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


Pasal 68

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3832) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.


Pasal 69

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar . . .












- 24 -

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


Disahkan di Jakarta
pada tanggal 28 April 2008

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,





DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta pada tanggal 28 April 2008

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,





ANDI MATTALATTA


LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 60



Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI

Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat,






Wisnu Setiawan













PENJELASAN

ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 13 TAHUN 2008

TENTANG

PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI





I. UMUM


Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang memenuhi syarat istitaah, baik secara finansial, fisik, maupun mental, sekali seumur hidup. Di samping itu, kesempatan untuk menunaikan ibadah haji yang semakin terbatas juga menjadi syarat dalam menunaikan kewajiban ibadah haji. Sehubungan dengan hal tersebut, Penyelenggaraan Ibadah Haji harus didasarkan pada prinsip keadilan untuk memperoleh kesempatan yang sama bagi setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam.


Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas nasional karena jumlah jemaah haji Indonesia yang sangat besar, melibatkan berbagai instansi dan lembaga, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan berkaitan dengan berbagai aspek, antara lain bimbingan, transportasi, kesehatan, akomodasi, dan keamanan. Di samping itu, Penyelenggaraan Ibadah Haji dilaksanakan di negara lain dalam waktu yang sangat terbatas yang menyangkut nama baik dan martabat bangsa Indonesia di luar negeri, khususnya di Arab Saudi. Di sisi lain adanya upaya untuk melakukan peningkatan kualitas Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tuntutan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan tata kelola pemerintahan yang baik. Sehubungan dengan hal tersebut, Penyelenggaraan Ibadah Haji perlu dikelola secara profesional dan akuntabel dengan mengedepankan kepentingan jemaah haji dengan prinsip nirlaba.

Untuk menjamin Penyelenggaraan Ibadah Haji yang adil, profesional, dan akuntabel dengan mengedepankan kepentingan jemaah, diperlukan adanya lembaga pengawas mandiri yang bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap Penyelenggaraan Ibadah Haji serta memberikan pertimbangan untuk penyempurnaan Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia.












- 2 -

Upaya penyempurnaan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Penyelenggaraan Ibadah Haji secara terus-menerus dan berkesinambungan yang meliputi pembinaan, pelayanan,Upayadan...

perlindungan terhadap jemaah haji sejak mendaftar sampai kembali ke tanah air. Pembinaan haji diwujudkan dalam bentuk pembimbingan, penyuluhan, dan penerangan kepada masyarakat dan jemaah haji. Pelayanan diwujudkan dalam bentuk pemberian layanan administrasi dan dokumen, transportasi, kesehatan, serta akomodasi dan konsumsi. Perlindungan diwujudkan dalam bentuk jaminan keselamatan dan keamanan jemaah haji selama menunaikan ibadah haji.


Karena penyelenggaraan ibadah haji merupakan tugas nasional dan menyangkut martabat serta nama baik bangsa, kegiatan penyelenggaraan ibadah haji menjadi tanggung jawab Pemerintah. Namun, partisipasi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem dan manajemen penyelenggaraan ibadah haji. Partisipasi masyarakat tersebut direpresentasikan dalam penyelenggaran ibadah haji khusus dan bimbingan ibadah haji yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Untuk terlaksananya partisipasi masyarakat dengan baik, diperlukan pengaturan, pengawasan, dan pengendalian dalam rangka memberikan perlindungan kepada jemaah haji.

Di samping menunaikan ibadah haji, setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam dianjurkan menunaikan ibadah umrah bagi yang mampu dalam rangka meningkatkan kualitas keimanannya. Ibadah umrah juga dianjurkan bagi mereka yang telah menunaikan kewajiban ibadah haji. Karena minat masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah sangat tinggi, perlu pengaturan agar masyarakat dapat menunaikan ibadah umrah dengan aman dan baik serta terlindungi kepentingannya. Pengaturan tersebut meliputi pembinaan, pelayanan administrasi, pengawasan kepada penyelenggara perjalanan ibadah umrah, dan perlindungan terhadap jemaah umrah.


Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas publik, pengelolaan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) dan hasil efisiensi BPIH dalam bentuk dana abadi umat (DAU) dilaksanakan dengan prinsip berdaya guna dan berhasil guna dengan mengedepankan asas manfaat dan kemaslahatan umat. Agar DAU dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kemaslahatan umat, pengelolaan DAU juga dilakukan secara bersama oleh Pemerintah dan masyarakat yang direpresentasikan oleh Majelis Ulama Indonesia, organisasi masyarakat Islam, dan tokoh masyarakat Islam.












- 3 -



Dengan mempertimbangkan hal tersebut di atas, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan lbadah Haji dipandang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan lbadah Haji perlu diganti agar lebih menjamin kepastian dan ketertiban hukum serta memberikan perlindungan bagi masyarakat yang akan menunaikan ibadah haji dan umrah.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL


Pasal 1

Cukup jelas.


Pasal 2

Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa Penyelenggaraan Ibadah Haji berpegang pada kebenaran, tidak berat sebelah, tidak memihak, dan tidak sewenang-wenang dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Yang dimaksud dengan “asas profesionalitas” adalah bahwa Penyelenggaraan Ibadah Haji harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan keahlian para penyelenggaranya.

Yang dimaksud dengan “asas akuntabilitas dengan prinsip nirlaba” adalah bahwa Penyelenggaraan Ibadah Haji dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etik dan hukum dengan prinsip tidak untuk mencari keuntungan.


Pasal 3

Cukup jelas.


Pasal 4

Cukup jelas.


Pasal 5

Cukup jelas.


Pasal 6













- 4 -

Cukup jelas.
Pasal 7
Pasal 7 . . .


Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Yang dimaksud dengan “kenyamanan” adalah tersedianya

Transportasi dan pemondokan yang layak dan manusiawi.
Pasal 8


Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Ayat (5)

Yang dimaksud dengan “satuan kerja di bawah Menteri”

adalah  satuan  kerja  yang  mendukung  operasional

Penyelenggaraan Ibadah Haji yang bersifat permanen dan

sistemik di tingkat pusat, di tingkat daerah, dan di Arab

Saudi.

Ayat (6)

Cukup jelas.

Ayat (7) . . .












- 5 -

Ayat (7)

Cukup jelas.

Pasal 9

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Yang dimaksud dengan ”Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi” adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah.

Pasal 10

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Huruf a

Yang dimaksud dengan “penetapan” adalah penetapan

BPIH setelah mendapat persetujuan DPR.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.




Huruf f . . .












- 6 -

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 11

Cukup jelas.


Pasal 12

Cukup jelas.

Pasal 13

Cukup jelas.


Pasal 14

Cukup jelas.

Pasal 15

Cukup jelas.


Pasal 16

Cukup jelas.


Pasal 17

Cukup jelas.


Pasal 18

Cukup jelas.

Pasal 19

Cukup jelas.


Pasal 20

Cukup jelas.


Pasal 21 . . .












- 7 -

Pasal 21

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Pengelolaan BPIH dilakukan berdasarkan siklus Penyelenggaraan Ibadah Haji sesuai dengan kalender Hijriah.


Pasal 22

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “Menteri” dalam hal BPIH disetorkan ke rekening Menteri” adalah menteri sebagai lembaga yang dalam pelaksanaannya Menteri dapat menunjuk pejabat di lingkungan tugas dan wewenangnya bertindak untuk dan/atau atas namanya.

Bank umum nasional yang dapat ditunjuk menjadi bank penerima setoran BPIH adalah bank umum yang memiliki layanan yang bersifat nasional dan memiliki layanan syariah.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 23

Cukup jelas.


Pasal 24

Cukup jelas.


Pasal 25

Cukup jelas.

Pasal 26

Cukup jelas.

Pasal 27 . . .












- 8 -

Pasal 27

Cukup jelas.

Pasal 28

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Yang dimaksud dengan “kuota bebas secara nasional” adalah sisa kuota yang disediakan bagi Jemaah Haji yang sudah terdaftar dalam daftar tunggu dengan memperhatikan proporsionalitas kuota provinsi dan kuota Penyelenggara Ibadah Haji Khusus.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 29

Cukup jelas.

Pasal 30

Cukup jelas.

Pasal 31

Cukup jelas.


Pasal 32

Cukup jelas

Pasal 33

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “Transportasi” termasuk Transportasi selama di Arab Saudi.

Ayat (2)

Cukup jelas.


Pasal 34 . . .












- 9 -

Pasal 34

Cukup jelas.

Pasal 35

Cukup jelas.

Pasal 36

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan “dilakukan oleh Menteri Keuangan” adalah pelaksanaan pemeriksaan atas barang bawaan oleh pejabat yang diberi otorisasi oleh Menteri Keuangan.


Pasal 37

Cukup jelas.

Pasal 38

Cukup jelas.

Pasal 39

Cukup jelas.

Pasal 40

Cukup jelas.

Pasal 41

Cukup jelas.


Pasal 42

Yang diatur dalam Peraturan Pemerintah meliputi, antara lain, persyaratan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus dan sanksi.


Pasal 43

Cukup jelas.


Pasal 44 . . .












- 10 -

Pasal 44

Huruf a

Yang dimaksud dengan ”biro perjalanan wisata yang sah” adalah biro perjalanan wisata yang telah terdaftar pada lembaga/instansi yang lingkup dan tugasnya di bidang pariwisata.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Pasal 45

Cukup jelas.

Pasal 46

Cukup jelas.


Pasal 47

Cukup jelas.


Pasal 48

Cukup jelas.

Pasal 49

Cukup jelas.


Pasal 50

Cukup jelas.


Pasal 51

Cukup jelas.

Pasal 52

Cukup jelas.

Pasal 53

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2) . . .












- 11 -

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan “unsur pemerintah” dapat terdiri atas instansi yang tugas dan fungsinya berkaitan dengan pengembangan DAU.

Ayat (3)

Cukup jelas.


Pasal 54

Cukup jelas.


Pasal 55

Cukup jelas.

Pasal 56

Cukup jelas.

Pasal 57

Cukup jelas.


Pasal 58

Cukup jelas.


Pasal 59

Cukup jelas.


Pasal 60

Cukup jelas.


Pasal 61

Cukup jelas.

Pasal 62

Cukup jelas.

Pasal 63

Cukup jelas.

Pasal 64

Cukup jelas.

Pasal 65 . . .












- 12 -



Pasal 65

Cukup jelas.


Pasal 66

Cukup jelas.


Pasal 67

Cukup jelas.


Pasal 68

Cukup jelas.


Pasal 69

Cukup jelas.


TAMBAHAN LE
 
Support : Copyright © 2013. Blog Syafa'at - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger