Selamat Datang Pada BLOG SYAFA'AT semoga bermanfaat
Showing posts with label Kumpulan Artikel. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Artikel. Show all posts

Revolusi Mental Hari Keenam (Berpisah Untuk Sementara)


Revolusi Mental  Hari Keenam
(Berpisah Untuk Sementara)


Sebenranya saya ingin mengajak untuk berbagi cerita dengan teman semua, dengan meninggat kita dari berbagai latar satker, dimana dari perbedaan tersebut saya yakin banyak pengalaman yang dapat kita bagi bersama. Namun saya juga menyadari ini sulit dilakukan dengan mengingat saya sendiri tidak berada di Balai Diklat menjelang hari penutupan tersebut.
Saya yang duipercaya sebagai ketua angkatan 02 mungkin belum banyak melakukan tindkan nyata untuk sahabat terbaik semuanya, atau bahkan saya sering membuat jegkel pada beberapa shabat terbaik di Revmen angkatan 02, terlebih Bu Sofi yang sering saya jadikan obyek dari beberapaa “tulisan nakal” yang saya uanggah di blog saya.
Saya yakin banyak manfaat dari kegiatan yang kita ikuti, setidaknya saya bisa bertemu dengan Mbak Binti, Mas Yoyok, Mbak Sofi Pak Fudholi, Pak Suko, Mas Dodik, Mbak Siti, B Umi, Mas wer dan masih banyak lagi yang intinya semuanya yang ada di angkatann 02, dan saya juga berharap group WA yang kita bentuk sebagai salah satu sartanya untuk saling berkomunikasi.
Malang terahir dimana angkatan lainnya membuat acara sebagaimana perkenalan, namun kita di angkatan Revmen 02 tidak melakukan, dan menurut saya tidak perlu kita melakkan seperti itu, karena pada dasarnya kita tidaklah berpisah, terlebih kita dapat melakukan silaturahim di media daring.
Tadi malam sya bertemu dengan Jamaah Haji tahun 2017 dimana saya jadi Kertua Kloternya, saya sangat terkejut karena diluar dugaan, bahwa mereka menyiapkan acara khusus yang entah direncanakan ataukan tidak. saya bertemu dengan orang orang baik dari Surabaya dan beberapa kota disekelilingnya, sebagaimana saya juga bertemu dengan rekan rekan Revolusi mental berbasis nilai nilei agama angkatan 02, dan saya berharap suatu saat nanti kita juga akan bertemu kembai ditempat yag kita rindukan, entah di Madinah, Makah dan semoga juga bertemu di Surga.
Saya yakin kita benar benar dapat merresapi dan akan berbuat lebih baik lagi sesuai dengan nikei niei agama yang kita yakini kebenarannya, kita percaya bahwa Tuhan akan membalas secara adil dengan perbuatan dan tingkah laku kita. manusia adalah makhluk istimewa yang dilahirkan untuk menjadi sang juara. Kita mempunyai Ibu yang istimewa dimana hanya ayah kita yang berhasil menaklukkan hatinya, menyemburkabn kenikmatan berjuta sel sperma untuk memperebutkan satu indung telur yang tersimpan kokoh dalam rahum ibu kita.
Balasan Tuhan atas perbuatan kita bukan hanya di akhirat, namun sebenarnya di dunia ini balasan itu sudah diberikan kepada kita, atau mungkin kepada anak cucu kita, meskipun kadangkala kita tidak menyadarinya. Proses tidak akan menghianati hasil, meskiuun seringkali proses tersebut tersebuut juga hasil, kita sering lebuih menikmati proses, namun ada juga yang hannya peduli pada hasil.

Revolusi Mental (Hari Kelima)


Revolusi Mental
(Hari Kelima)
Saya terkejut ketika Nomor WA saya du blokir oleh perempuan tersebut. Saya tidak menyangka bahwa apa yang saya lakukan berdapak demikiaan, mungkin dia yang sangat sensitive, atau saya yang tidak dapat melakukan komunikasi efektif dengannya.. kaarena sya yakin bahwa apa yang saya lakukan tidak sewperti yang dipikirkannya.
Pada hari kelima kami diajak untuk simulasi tentang disiploin pegawai dan pelayanan prima, dan kebetulan peremouan tersebut satu kelompok denganku. Bisa dibayangkan bagaimana hubungan kami setelah perempuan tersebut mengirimkan WA bernada Pedas tidak seperti “sego tempong” sebelum memblokirnya. Pastinya team kami bukanlah team yang solid untuk melakukan simukasi tersebu, karena sebuah team tidak akan berjalan dengan efektif jika dalam team tersebut terdapat “perrmusuhan”
Sebelumnya kami mengadakan diskusi ringan mengenai disiplin pegawai yang saat ini “diatur oleh mesin”., dimana mesin tersebut tidak mau kompromi karena sebuah mesin tidak dapat berfikir sendiri kecuali menjalankan program yang dimasukkannya. Tidan fleksibel sebagaimana manusia yang mempunyai :kepentingan” yang berbeda beda. Seperti absensi dimana jika kita datang terlamnat maka otomatis mesin membaca kita telat, dan jika kita harus pulang lambat karena menyelesaikan pekkerjaaan, tidak dapat menggantikannya, dan tetap saja dihitung pulang tepat waktu sebagaimana biasa.
Ada beberapa pendapat dalam diskusi tersebut, seperti ketika pegawai yang melakukan absensi elektronik namun tidak langsung menjalankan aktifitas di kantor, namun harus menyelesaikan “kegiatan” pribadinya. Bahkan ada seorang yang sedang sakit, tidak dapat menjalankan aktifitas pekerjaannya, “ditolong” oleh rekannya (yang entah bagaimana caranya) sehingga presensinya tetap utuh dianggap masuk kerja, karena kasihan dan berharap tunjangan yang diterima dari orang yang sakit tersebut dapat digunakan untuk keperluannya.
Sepintas saya mengganggap yag dapat “menolong” presensi tersebut adalah orang yang peduli dengan nasib rekannya, namun setelah saya renungkan sejenak, saya berfikir, apakah yang dilakukannya tersebut benar benar ras peduli dan benar benar dapat menolongnya ? apakan sikap tersebut dapat dibenarkan menurut atuiran dan agama ??? apakah tidak lebih arif jika pada kasus demikian kita kembalikan sesuai peraturan yang berlaku, dan sebagai rasa peduli kita terhadapnya, kita dapat iuran untuk meringankan beban hidupnya ??.
Ternyata sangat sulit bagi kita untuk benar benar mau menerima atas rizki yang kita terima, seringkali kita menggunakan rumus rumus matematika apa adanya untuk menghitung rizki yang kita terima. Kita sering lupa bahwa semakin kecil angka pembagian maka semakin besar nilai yang akan kita dapatkan. Kkta hanya berfikir bahwa semakin besar angka penambahan yang dapat kita masukkan akan bernilai lebih besar.
Saya menatap wajah perempuan cantik dengan lipstik seimbang tersebut, meski dia masih menyumbangkan senyumnya, namun saya merasakan tidak semanis sebelumnya,. Dan saya merasa bahwa untuk memperbaiki sebuah hubungan ini, tidak semudah ketika kita menjalin huibungan pertemsanan sebelumnya. Sebuah hubungan seringkali rusak gara gara ucapan atau tigkah laku yang “mungkin” dianggap sepele bagi kita namun masalah besar bagi lainnya.

Revolusi Mental Hari Keempat (Building Raport)


Revolusi Mental Hari Keempat
(Building Raport)


Revolusi Mental Hari Keempat
(Building Raport)

Saya tidak mempedulikan dengan perempuan paroh baya tersebut hingga saya berbincang pagi hari di meja makan, kutatap wajahnya pelan pelan dimana saya menemukan hal berbeda, sepertinya saya pernah mengenalnya, namun saya lupa entah kapan atau dimana. Saya terus mengingatnya sambil menikmati segelas kopi dipagi hari. tidaklah terlalu penting untuk dibahas dimana saya pernah bertemu dengannya, entah di Makkah, di Madinah ataukah di Kuala Lumpur. Yang jelas kami berada dalam satu team dimana harus saling mengenal untuk menggapai tujuan bersama.
Saya terus ngobrol dengannya tentang berbagai hal sebagaipembuka percakapan, sambil sesekali saya mencuri pandang melirik “dada” perempuan tersebut. Saya hanya ingin memastikan bahwa entah kapan saya pernah mengenalnya hinngga dalam kesimpulan sebelum segelas kopi habis bahwa  saya belum pernah mengenalnya. Dan itu bukanlah hal yang penting untuk diingat karena kita menatap kedepan meskipun tidak harus melupakan yang belakang. Tidak ada salahnya saya mengingat perempuan cantik paruh baya tersebut, karena Hasil penelitian empiris bahwa manusia cenderung menyukai kesamaan  sehingga kita tiba-tiba menyukai atau merasa nyaman dengan seseorang, kita menemukan kesamaan antara diri kita dengan orang lain.
Saya teringat dengan cerita seseorang yang pernah bertugas sebagai Ketua Kloter Jamaah Haji Indonesia, dimana dian harus mengorganisir jamaah haji dari berbagai strata sosial dan pendidikan dan dari berbagai daerah. Petugas tersebut menggunakan komunikasi Non Verbal kepada para jamaahnya. Petugas tersebut serinng melakukan visitasi ke kamar jamaah sekedar untuk saling mengenal dan “ngopi bersama” dimana dalam satu kloter dengan beberapa Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) tersebut ada pimpinan masing masing dimana komunikasi sangat diperlukan untuk membetuk sebuah team yanng solid.
Banyak masalah yang dapat diselesaikan dengan “ngopi bareng” atau makan bersama meski tidak harus ditempat yang mewah. Setidaknya hal tersebut dapat mencairkan suasana meski komunikasi verbal masih diperlukan. Mungkin ini juga yang saya coba lakukan dalam sarapan pagi dengan beberapa rekan yang baru tergabung dalam team meski saya lupa masing masing namanya. Saya malu untuk menanyakan nama terhadap perempuan berkulit putih paruh baya sambil saya menikmati kopi dipagi hari di taman. Kami memang memilik tempat sarapan ditaman, karena ada sensasi yang berbeda dalam menikmati makanan tersebut. Dan konsep makan ditempat terbuka ini sudah banyak diadopsi oleh para pengusaha kuliner dimana kita tidak hanya monoton sekedar memasukkan makanan kedalam mulut. Sarapan sambil ngobrol atau menikmati panorama alam sangat bermanfaat, karena kita bukan hanya memberikan asupan gizi pada tubuh kita, tetapi juga dapat membuat pikiran semakin fres.
Secangkir kopi sedikit demi sedikit saya nikmati sambil sesekali melirik “dada” perempuan paruh baya tersebut. Dimana kartu peserta yang tergantung di dada kiri tersebut sangat membantu dalam mengingat siapa nama perempuan tersebut. Kertu tersebut sangat berguna agar kita mengingat siapa namanya, meski dihari pertama Building Service Commitmen (BSC) kita sudah saling memperkenalkan diri, namun sebagaimana sifat pelupa pada manusia pada umumnya, tidaklah mudah untuk mengingat semua nama.
Masih sepertiga kopi dalam gelas, kami masih tetap ngobrol berbagai hal tanpa tema yang jelas, peremouan paruh baya tersebut bercerita tentang kompetisi yang sedang diikuti oleh rekannya untuk mendapatkan sebuah jabatan, dimana rekannya tersebut menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya, bahkan politik paling kotorpun dia lakukan untuk mendapatkannya. Saya hanya mendengarkan dia melanjutkan ceritanya, karena dalam berkompetisi sebagaiamana Elang terbang sangat tinggi dan sendiri tanpa burung merpati atau burung kecil lainnya. Tidak ada burung yang dapat mencapai ketinggian terbang seekor elang. Jauh dari merpati ataupun burung gagak. Elang hanya terbang dengan elang. Hidup adalah sebuah kompetisi tanpa akhir, elang mengajarkan kepada kita untuk selalu menjadi yang terbaik dan lebih baik dan menggantungkan cita-cita dengan tinggi.
  Saya masih meresapi cerita peremppuan paruh baya yang bercerita tentang temannya tersebut sambil sesekali melepas senyum manisnya. Mungkin agar saya tidak jenuh mendengarkanya. Bahaya yang terbesar di abad ini adalah bukan turbulensinya, tetapi bahayanya bagi organisasi adalah kalau organisasi dikelola dengan menggunakan logika masa lampau. (it’s danger if you still act with your yesterday logic) saya tidak bisa membayangkan bagaimana dengan seseorang yang mencapai kedudukan tingginya dengan cara kotor tersebut.





Revolkusi Mental hari Kediga Layanan Revolusioner)


“Sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni (1) Berdaulat dibidang politik, (2) Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) dibidang ekonimi serta (3) Berkepribadian dibidang  budaya”.   Pidato Trisakti Bung Karno Tahun 1963 tersebut patut dijadikan renungan bagi kita yang hidup di era Reformasi. Dimana Perkembangan tehnologi begitu dahsyatnya hingga membuat panyak pihak yang “keponthalan” untuk mengikutinya.
Gerakan nasional untuk mengubah cara pandang, pola pikir, sikap-sikap, nilai-nilai, dan perilaku bangsa Indonesia untuk mewujudkan indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian sangat diperlukan untuk mewujudkan negara ysng benar benar adil dalam kemakmuran. Gerakan dengan perubahan Pola Pikir, perubahan Mekanisme Kerja serta Budaya organisasi sangat diperlukan untuk perubahan pola pikir ddan sikap dari aparat yang dilayani menjadi aparat yang seharusnya benar benar melayani masyaraakat sebagai pemilik kedaulatan.
Perubahan mendasar dalam cara berpikir, cara berkata (isi perkataan), dan cara bekerja yang lebih baik, yang dapat menjelma menjadi perilaku   dan tindakan sehari-hari (kebiasaan, budaya) di   berbagai sendi kehidupan bangsa yang ingin dicapai dalam Revolusi mental dapatvtercapai dengan baik jika diawali olleh parapejabat dan aparatur sipil negara yang oleh masyarakat dianggap sebagai kalangan terdidik yang seharusnya dapat dijadikan sebagai panutan.
Budaya adalah kumpulan gagasan, hasil karya, dan tindakan manusia yang diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dimana pembiasaan yang hidup secara berkesinambungan ini dapat dibentuk dengan nilai nilai baru yang sesuai dengan norma hukum yang berlaku, baik hukum agama maupun hukum positif. Pembiasaan yang membentuk budaya tersebut yang tidak sesuai dengan cita cita bangsa Indonesia yang bebas dari perilaku korupsi, pungli dan gratifikasi sangat perlu diajarkan sejak dini, sehingga akan timbul pembiasaan sifat jujur dan bertanggung jawab.
Sikap dan perilaku individu dan kelompok yang didasari atas nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan telah menjadi sifat serta kebiasaan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari yang dilakukan oleh ASN setidak tidaknya telah sesuai dengan SOP (Standard Operating Prosedure) dimana mekanisme kerja akan semakin terukur dan ada kepastian dari layanan yang diberikan kepada masyarakat, dimana layanan tersebut semakin hari semakin meningkat.
Dalam Agama Islam, disebuah hadis nadi disampaikan bahwa Seseorang hari ini lebih baik dari hari kemarin  adalah orang yang beruntung, jika hari ini sama dengan kemarin  maka ia adalah orang yang merugi, dan sedangkan  jika hari ini lebih jelek  dari kemarin maka ia dilaknat. Hal inilah yang menjadi pemacu umat Islam untuk berbuat yang semakin baik, dalam arti jangka pendek untuk didinya sendiri maupun jangka panjang untuk generasi mendatang. Perubahan menjadi lebih baik ini tidak dapat dilakukan dengan cepat  jika tidak ada langkah revollusioner untuk melakukannya. Hal ini disebabkan adanya kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin yang dianggap mengabaikan kepentingan masyarakatnya. Kepercayaan sebagai pihak yang dilayani tersebut sangat penting artinya bagi aparatur negara sebagai agen perubahan.
Kita tidak akan terlepas dari dunia yang semakin kompetitif, dimana hanya ada dua pilihan dari perubahan tersebut, apakah kita tinggal diam dan tergilas dengan perubahan tersebut, ataukan kita ikut sebagai pelaku sejarah dari perubahan yang lebih baik, dan sepertinya tidak ada pilihan bijak kecuali kita harus ikut menjadi pelaku sejarah sebagai agen perubahan.
Ketika saya ditanya oleh seseorang tentang perubahan layanan yang berada dalam instansi pemerintah, dimana dulu setiap layanan yang dilakukan, masyarakat penerima layanan diminta biaya administrasi, sedangkan sekarang sudah tidak ada lagi, saya menyampaikan bahwa itu terjadi karena era yang berbeda, sebagaimana halnya layanan pernikahan dizaman dahulu dimana ketika masyarakat menghendaki adanya pelaksanaan pernikahan yang dilakukann diluar balai nikah dan harus memberikan transport secara langsung kepad petugas, hal tersebyt saya sampaikan bahwa eranya memang seperti itu, dan sekarang dengan sistim masyarakat harus membayar kas negara untuk layanan pernikahan yang dilakukan diluar balai nikah, memang adanya perubahan dalam tata kelolanya.
Begitu juga dengan berbagai “biaya yang tidak jelas” yang dibebankan kepada masyarakat pada zaman dahulum, dimana era yang terjadi saat tersebut memang memungkinkan adanya hal tersebut, dan terjadi dengan era Aparatur Sipil Negara yang bersih dan melayani dengan konpensasi kenaikan tunjangan yang diberikan oleh Pemerintah serta tercukupinya berbagai keperluan administrasinya.
Yang perlu dipertanyakan adalah ketika ada aparatur sipil negara yang masih melakukan atau menerima uang dari layanan yang diberikannya, sedangkan biaya administrasi dari layanan tersebut telah dicukupi oleh pemerintah.






Revolusi Mental (Hari Kedua)


Revolusi Mental
(Hari Kedua)
Kita lebih mudah berfikir secara teratur dan berurutan daripada harus berfikir berpola, terlebih jika harus melakukan pola baru dalam mengarahkan fikiran tanpa harus diikat dengan garis garis yang tidak jelas dan terbaca. Kadangkala kita harus berfirik hanya menggunakan otak yang seharusnya memang berfungsui untuk berfikir, namun tidak menutup kemungkinan kita juga mencampur hati untuk berfikir, sehingga kita harus berfikir sekaligus merasakan hasil pemikiran kita. Kita lebih mudah melihat yang tampak dan dapat terjangkau dengan mudah, mengukur dengan menggunakan deretan angka, karena angka dan huruf itulah yang lebih mudah untuk menentukan sebuah ukuran, mneskipun kdang ada yang menggunakan alat ukur yang berbeda untuk mengukur masalah yang sama, yang kadangkala sering kita dapatkan hasil ukuran yang berbeda dari  masalah yang sama.
Kreatifitas dan inovasi sangat dibutuhkan untuk perubahan dalam pelayanan, namun kreatifitas tersebut tidak boleh dilakukan secara serampangan hingga membuat yang tertata dengan baik akan menjadi berantakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat disebut memunculkan kreatifitas tersebut orang hanya mengganti baju yang dikenakannya, hanya ingin membuktikan bahwa dia (seolah olah) teah melakkukan perubahan atas dirinya.
Kita harus berbuat baik pada semua orang, tanpa harus memikirkan apakan orang yang telah kita baiki tersebut akan membalasnya langsung kepada kita, karena jika kita berbuat baik, maka sesungguhnya kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Karena proses tidak akan menghianati hasil. Meskipun seringkali kita hanya menikmati proses dengan mengabaikan hasil, kartena proses tersebut adalah tujuan kita. Namun pada dasarnya bukan sekedar hasil yang kita butuhkan, tetapi proseslah yang sangat menentukan, sehingga meskipun dengan hasil yang sama, namun dengan proses yang berbeda, akan mendapatkan tingkat kepuasan yang berbeda.
Kreatif merupakan cara berfikir dan mencoba menerima hubungan baru untuk menemukan jawaban baru. Revolusi mental menuntuk adanya inovasi baru dalam layanan kepada masyarakat dengan mengeliarkan daya pikir kreartif untuk memudahkan layanan dengan bertumopu pada aturan dasar yang sudah ditetapkan sehingga pihak yang dilayani akan terpuaskan.

Revolusi Mental (Hari Pertama)


Revolusi Mental
(Hari Pertama)

Seperti biasanya dalam diklat maupun pembelajaran, kita saling mengenal untuk sepintas saling memahami siapa diri kita yag sebenarnya, setidaknya tahu beberapa nama dari rekan yang ada dalam sebuah ruangan. Saya menyebutnya beberapa saja, karena daya ingat kita yang hanya terbatas mengakibatkan kita hanya mampu mengingat beberapa nama saja, terlebih yang kita anggap Istimewa, nyleneh dan lain sebagainya.
Saya tidak tahu, mengapa ada istilah Revolusi Mental yang menurut saya sedikit hiperbola, sebuah makna untuk melakukan perubahan secara menyeluruh dari sebuah mental, saya akan mengiktuti keegiatan ini sebagaimana saya menikmati kata demi kata yang keluar dari bibir manis Widiya Iswara dengan untaian kata bermakna.
Cara pandang yang berbeda akan menghasilkan putusan yang berbeda, intonasi kata yang berbeda juga akan memberikan makna yang berbeda pula. Hari ini dengan suara parau dimana guratan nada ini nyaris tak terdengar  juga akan mengakibatkan pemikiran yang berda pula, karena kita semua ditakdirkan untuk menjadi manusia yang berbeda beda, meski juga mempunyai pemikiran dan tujuan yang sama.
Saya masih ingat ketikaa saya berada di warung kopi dan berbincang dengan sesama rekan pengagung kopi, dimana dalam percakapan diwarung kopi tanpa moderator tersebut dapat dilakukan diskusi tanpa sekat yang kadangkala sering muncul ide istimewa bahkan ide sedikit nyleneh. Saya tidak setuju dengan istilah ide gila messki tidak biasa atau luar biasa, meski saya kadangkala juga berhak mengkritisi diri sendiri, “waraskan kita saat ini” ????
Mungkin saya sedang jatuh cinta, atau diam diam saya “sedang bercinta” dengan tangisan bidadari surga yang saat ini juga tidak saya sadari, karena saya saat ini juga belum menyadari, apakan saya ini yermasuk Diri Terbuka, Diri Buta, Diri Terrsembunyi ataupun Diri Gelap, karena meskipun diri ini ada dalam diri, namun sangat sulit untuk mengetahui diri sendiri.
TIdak ada kekeliruan ketika kita menyebarkan kebaikan pada semua orang, meski hasilnya kita beum tentu mendapatkan balasan seperti yag kita inginkan, karena semakin kita mengharapkan sebuah balasan, mungkin kita semakin jauh untuk mendapatkannya, begitu juga dengan sebaliknya, semakin banyak kita menyebarkan kebaikan dan kita tidak mengharapkannya, mungkin kita akan mendapatkan berlipat balasan meski tidak secara langsuing dari orang yang kita berikan balasan tersebut.
Kadang kita terjebak dalam perangkap memberi dan menerima yang kita anggap sebaai balance kehidupan dan itu sah saja dilakukan sebagai makhluk sosial yang tidak akan terlepas dari perasaan tersebut, namun juga sangat tidak salah ketika sedikit merubah pola pikir dari jebakan memberi dan menerima dengan istilah tanpa jebakan “memberi dengan keikhlasan”, meskipun kita yakin suatu saat juga akan menerima balasannya.
Hari ini saya ditelepon seorang teman yang bercerita tentang tenmannya dan temennya teman dia yang sedang bertengkar, karena temannya temman saya tersebut nerasa kecewa ketika temannya teman saya tersebut membantu temannya dan berujung kecewa. Karena ketika temannya teman saya yang membantu temannya tanpa lelah tersebut merasa dikecewakan dengan kata kata yag menurutnya bukan hanya sangat menyinggung perasaannya, namun juga akan merusak persahabatan yang selama ini sudah terbangun dengan semourna.
Sebuah kalimat dari rangkaian kata meskipun mudah dilakukan, namun sering berakibat yang luar biasa yang munngkin tidak diduga sebelumnya. Dan kita memahami dengan mudah sebuah makna jika dengan kata.
Ketika kita bertemu dengan rrekan perempuan yang kebetulan bertubuh gendut, mungkin dia sedikti tersinggung jika kita katakan bahwa bahwa diia sekarang gendut, namun jika kita katakan bahwa dia tambah seger, mungkin dia akan tersenyum manis, begitu juga jika kita mengatakan kepada seorang anak bahwa dia bodoh, akan berbeda jika kita mengatakan bahwa dia nggak pinter, meski maknanya tidak jauh berbeda.
Seseorang terlihat biasa ketika mendapatkan rizki lima ratus ribu rupiah, namun dia terlihat tidak biasa ketiks mendapatkan rizki setengah juta, meski dengan nominal yang sama, namun dengan penyebutan yang bereda, juga akan mengakibatkan tingkat kepuasan yang bereda.

Cegah Anemia Pelajar Putri dengan TTD


Beberapa hari yang lalu saya bersama Team Fasilitator Kabupaten mengunjungi beberapa sekolah dan Madrasah terkait pelaksanaan minum Tablet Tambah Darah (TTD) pada Remaja putri yang seharusnya dillakukan seminggu sekali. Ada yang menarik dengan kegiatan tersebut, dimana sekolah dan Madrasah beragam dalam program yang dicanangkan pemerintah sebagai upaya untuk peningkatan sumber daya manusia tersebut.
Saya tertarik dengan paparan Kepala Madrasah Aliyah dilingkungan Pondok Pesantren ketika kami melakukan wawancara dengan beliaunya, dimana menurutnya setelah ada Program minum TTD tiap sepekan sekali pada siswinya yang sebagian besar menupakan santriwati yang muki di pokdok pesantren tersebut berkurang siswi yang ngantuk dalam kelas.
Sekilas mungkin TTD ini nggak ada pengaruhnya terhadap tumbuh kembang Remaja, terlebih jika Remaja tersebut mempunyai asupan gizi dan istirahat yang cukup, namun hal ini sangat terasa jika kita membandingkan Remaja yang minum TTD dengan yang tidak dalam kondisi tertentu dimana meraka kurang istirahat, atau asupan gizi yang kurang seimbang, “Toh dulu nggak ada TTD juga nggak ada masalah”, mungkin seperti itu pemikiran yang tidak mau memberikan TTD kepada siswanya, terlebih kegiatan ini dianggap “membebani” mereka karena adanya tugas menyalurkan TTD tersebut. Hal ini kami ketahui ketika kami berada pada sebuah sekolah dengan siswa yang lumayan banyak, tetapi ketika kami cek stok TTD yang ada di sekolah tersebut masih lumayan banyak. Terlebih ketika kami survey secara acak, para siswi belum diberi TTD oleh penanggung jawab di sekolah.
Sepintas memang kurang ada manfaatnya pemberian TTD tersebut, dan banyak yang tidak memahami mengapa harus ada pemberian TTD terhadap Remaja Putri, dan hal ini membuat kecemburuan beberapa siswa dimana para siswa tidak diberi TTD, padahal mereka juga bisa ngantuk ketika berada dalam kelas.”kami juga mengeluarkan “darah” tiap minggu” selorohnya. Saya tidak menanggapi ocehan khas Remaja tersebut, karena “hanya laki laki” yang mengerti gurauan anak Remaja tersebut.
Beberapa Remaja yang menjadi Responden rata rata tidak mengetahui masalah Anemia, terlebih pencegahannya terhadap Remaja Putri. Dan yang lebih memilukan adalah adanya Remaja Purtri kelas XII yang tidak mengetahui masalah anemia, pencegahan dan manfaatnya. Padahal mereka telah mengikuti sosialisasi tentang pencegahan anemia, mereka juga ingin kuliah di Kesehatan Masyarakat, tetapi mereka tidak ingin tahu masalah anemia. Dan saya berharap tidak banyak Remaja Putri yang seperti ini.
Sudah menjadi kodrati bagi seorang perempuan untuk tumbuh dan berkembang yang pada kondisi normal akan menjadi Ibu bagi anak anaknya, dimana kesehatan dan kecerdasan seorang anak sangat tergantung terhadap kesehatan dan kesiapan seorang perempuan menjadi seorang Ibu, dimana untuk menyiapkan dengan sungguh sungguh seorang perempuan menjadi seorang Ibu yang kuat, sehat dan tangguh ini tidak dapat dilakukan secara serta merta, ibarat menyiapkan lahan untuk siap ditanami, harus melakui proses panjang sehingga “lahan” tersebut mempunyai “unsur hara” yang cukup untuk benih yang akan ditanam, dimana akan tumbuh bibit unggul dari lahan yang disemai dengan kasih sayang.
Saya bukan pengagung syair cinta yang pandai merayu wanita, bukan pula dalam team kami ada peremouan cantik yang masih melajang, namun pengalaman dari berbagai su8mber terpercaya yang membuat saya sedikit mengerti tentang apa yang dibutuhkannya. Saya mempunyai anak perempuan yang juga sudah menginjak remaja, yang tentu saja Ibunya juga seorang perempuann, karenanya sedikit banyak saya memahaminya. Bahkan saya memahami kenapa di Mal mal Celana dalam wanita dipampang dengan jelas dengan berbagai bentuk yang indah, dan tidak demikian dengan milik laki laki, bahkan “perangkat” milik laki laki tersebut ada yang satu kotak berisi 3.  Padahal kita tahu bahwa celana dalam tersebut tidak akan ditunjukkan kepada khalayak ketika dipakai, namun mengapa pakaian dalam tersebut harus di disain dengan nyaman dan indah, hal ini terkait dengan kebiasaan seorang perempuan dimana jika membeli sesuatu barang, akan dipilah pilih sesuai dengan selera meraka, bahkan seringkali niat membeli sesuati dari rumah akan berbeda dengan fakta yang dibelinya, dan ha ini berbeda dengan laki laki.
Saya bisa memahami, mengapa celana dalam sebaiknya di setrika, terlebih milik wanita, dan saya tidak yakin bahwa alasanya biar kalau dipakai akan indah untuk dilihat, karena di Indonesia sangat tabu untuk hanya memakai celana dalam diluar ruangan. Menjaga kesehatan dari kuman swangat penting artinya bagi masa depaan, dan itulah alasan yang logis dalam masalah ini.
Perempuan ditakdirkan jadi Ibu yang akan melahirkan generasi penelus, “ummi Madrasatul Ula’ dimana seorang bayi akan mendapatkan tempat untuk mendapatkan pengetahuan awal dari ibu kandungnya. Dan hal inilah yang yang menjadikan rujukan utama untuk melakukan gerakan pemberian TTD bagi Remaja Putri, terlebih pada masa sekolah agar mereka nantinya benar benar siap untuk mengemban tugas mulia sebagai Ibu dari anak anaknya.




Patung Gandrung Terakota Banyuwangi

Ketika saya dan beberapa rekan berkunjung ketempat tersebut, tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak terlalu sulit untuk sampai lokasi gandrung terakota, meski berada ditengah perkebunan dengan jalan paving blok searah yang hanya dapat dilewati satu kendaraan roda empat. Ada suasana magis ketika berada ditempat tersebut, kita seakan dibawa pada suasana tempo dulu dimana gandrung mulai ada.
Saya menyempatkan diri untuk mampir ketempat tersebut, meskipun tidak dapat terlalu lama, setidaknya dapat membunuh rasa penasaran tentang keberadaan tempat tersebut, dimana sebelumnya saya hanya mendengar saja mengenai adanya ratusan patung gandrung terbuat dari tanah liat yang berada ditengah perkebunan di Kecamatan Licin tersebut. Tidak seperti Patung Terakota di China peninggalan zaman kekisaran, Patung gandrung di Kabupaten Banyuwangi ini baru ada beberapa bulan ini, artinya pembuatan patung gandrung tersebut dikerrjakan dengan tehnologi kekinian.
Meskipun patung tersebut relatif baru, namun suasana magis terasa ketika kita berada ditempat tersebut. Ratusan patung menghadap kesawah dimana beberapa Killing (baling baling besar) dengan suara menderu ketika tertimpa angin berada didepannya.Kita juga dapat menikmati kopi dari perkebunan tersebut, menikmati tari gandrung yang tiap malam digelar untuk para pengunjung.
Gandrung sebagai salah satu kesenian yang ada di Kabupaten Banyuwangi telah melegenda di seluruh dunia, tidak heran jika beberapa perguruan tinggi diluar Kabupaten Banyuwangi menggelar pertunjukan tersebut dengan menampilkan ratusan penari. Bahkan Mahasiswa Mancanegarapun banyak yang belajar tarian khas dimana dulunya dilakukan oleh laki-laki.
Tarian gandrung dulunya merupakan salah satu sarana media informasi dan komunikasi dalam perjuangan merebut kemerdekaan, karenanya gandrung ketika itu dilakukan oleh laki laki dengan berpakaian perempuan. Hal ini dilakukan dengan mengingat sangat riskan bagi perempuan ketika itu jika harus melakukan seni tari ditengah ancaman dari penjajah.
Pelestarian tari gandrung dalam bentuk pertunjukan kolosal sedperti Gandrung sewu dimana pertunjukan dengan menampilkan lebih dari seribu gandrung tersebut sebagai salah satu wahana untuk menyatukan dan mempererat jalinan antar lembaga pendidikan, dimana dalam kegiatan gandrung sewu tersebut diikuti oleh semua lembaga pendidikan, baik sekolah maupun madrasah. Perbedaan terhadap busana yang dikenakan (dari Madrasah menutup seluruh aurat) tidak mengurangi kekompakan dalam membentuk tarian kolosal tersebut.
Keberaddaan Tarian gandrung sewu, ratusan patuing gandrung mirip terakota serta beberapa patung gandrung lainnya merupakan salah satu ikon budaya, dimana budaya tersebut menyatukan daerah yang dihuni beberapa etnik ini. Rasa memiliki budaya semakin yang semakin kental ini bukan sekedar dapat menambah selera wisata, namun lebuh kepada perasaan untuk memajukan daerah secara bersama sama, rasa memiliki dengan menepis pertbedaan etnik asli dan etnik pendatang, dimana pada masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dulu juga dilakukan semua suku.
Seperti patung gandrung terakota (biar mudah menyebutnya), dimana ratusan patung gandrung tersebut bukan hanya berjajar dipimnggir sawah, tetapi ada beberapa patung yang ditempatkan ditengah sawah ini juga sebuah perlambang terhadap emansipasi perempuan dalam berkarya dan membangun bangsa, meskipunsdebenarnya saya tidak begitu faham mengapa harus ada patung yang ditempatkan ditengah sawah tersebut. Atau untuk apa para petani memasang killing ditengah sawah dengan suara menderu. Atau mengapa saya terbawa suasana masalalu ketika berada ditengah tengah ratusan patung tersebut.

Learning To Life Together in Aston Hotel

Ada yang menarik dari yang disampaikan Juhdy, dalam kegiatan yang kami laksanakan di Seblang Room hotel Aston hari ini. Pengawas Madrasah tersebut mengupas masalah kebersamaan dalam sebuah Tim Kerja. Terlebih ketika beliau dengan Logat khas Osing menyampaikan hal ini dengan bahasa Inggris “Learning To Life Together”.
Sebuah tim dianggap sukses bukan hanya hasil ahir yang dilakukan oleh tim tersebut, tetapi proses yang baik dari sebuah kegiatanlah yang menjadi kunci sebuah kegiatan menjadi sukses. Kesuksesan sebuah Tim bukan hanya ditentukan Leadership seorang Pimpinan, namun kekompakan tim dalam saling mengisi kekurangan dimasing masing seksi atau bidang dengan pemahaman bersama bahwa kegiatan tersebut merupakan satu kepentingan bersama yang akan membuat sebuah kegiatan akan terlaksana.
Kunci sebuah kesuksesan adalah kebersamaan dalam pembelajaran. dimana setiap orang dapat saling mengisi, karena pengalaman, pemahaman dan daya pengetahuan yang berbeda akan membuat pemikiran baru sebagai pengembangan Ilmu Pengetahun.
Diskusi ringan (saya menyebutnya demikian karena diselingi dengan makanan ringan) yang kita lakukan tersebut berjalan dengan “renyah” dan menyenangkan. Terlebih dengan suasana yang “berbeda” dimana suasana menjadi semakin fresh untuk saling berbagi pengalaman dalam pengembangan pendidikan.
Saya tertarik dengan istilah “Belajar Hidup Bersama” ini dimana dalam prinsip ini kita hilangkan “sekat” antara narasumber dengan audiens, Peserta didik dengan tenaga pendidik, dan lain lain. Keterbukaan dalam pembahasan suatu masalah yang dilakukan dua arah tersebut sangat penting untuk menggali potensi yang dimiliki. Dan dalam dunia pendidikan hal ini sangatlah penting.Saya sangat bersyukur karena dapat “ikut” dalam kegiatan dimana yang hadir sebagian besar adalah “mahaguru”, dimana saat ini mereka menjabat sebagai Kepala Seksi, Pengawas, Kepala Sub Bagian hingga kepala Kantor. Banyak hal yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut, meskipun kadang saya harus “berfikir keras” untuk sekedar memahami apa yang sedang didiskusikan. Dan satu hal yang saya dapatkan adalah bahwa sebagai apapun jabatan kita, namun kita masih harus tetap banyak belajar.

Selembar bibir

Saya pernah me/njadikan gambar bibir untuk status dalam WhatAap, empat hari berturut turut dengan bibir yang berbeda. Saya tidak menyebutkan gambar bibir siapa saja yang saya jadikan status tersebut, dan saya mengenal semua pemilik gambar bibir tersebut.
Banyak yang menganggap bahwa yang saya lakukan tersebut sebuah kegiatan kurang kerjaan, bahkan ada yang memblokir nomor saya gara gara gambar bibirnya tersebut, ada juga yang memaki maki saya (meski lewat tulisan) gara gara gambar bibirnya saya gunakan untuk status. Terlebih ada gambar bibir dimana ada tahi lalat kecil diujung bibir tersebut dimana meski dibalut dengan lipstik, namun masih dapat dikenali, karenanya saya menyadari jika banyak yang mengenal gambar bibir tersebut.
Wajah adalah bagian tubuh yang sangat mudah dikenali, kita mungkin sulit mengenali seseorang jika kita tidak melihat wajahnya, namun jika kita melihat wajahnya, meski kita tidak melihat seluruh tubuhnya, kita dengan mudah dapat mengenalinya.
Bibir merupakan bagian dari wajah dimana kita akan lebih mudah untuk mengenalinya, dan bukan karena dari bibir tersebut akan keluar suara dimana akan menyebutkan siapa dirinya, atau kita dapat mengenal suara tersebut meski tidak menyebutkan namanya, namun karena bibir akan lebih mudah dikenali daripada bagian wajah lainnya.
Saya tidak tahu apa ada hubungannya dengan teori bahwa bibir dan beberapa centi diatasnya adalah inti dari wajah, sebagaimana terori yang pernah saya terapkan dengan menjadikan beberapa bibir dalam status saya dan ternyata hasilnya “menakjubkan”.
Saya memberikan apresiase terhadap Mbak Zunita, rekan saya yang menjadi Owner Osing Deles hingga tahun 2019. Mantan Direktur Rumah sakit ini bersama suaminya berhasil membangun Brand dengan menjadikan sebuah kalimat dalam bahasa osing yang sebenarnya kalimat yang terdiri dari dua suku kata tersebut bnukan hal yang asing, namun kalimat tersebut dapat dijadikan sebuah brand istimewa untuk Cafe and Resto miliknya, serta beberapa souvenir yang dijajakannya.
Tidak ada hubungan langsung antara lembar bibir dengan brand mimilknya, namun saya mencoba menghubungkanya, karena menurut saya tidak ada salahnya menghubungkan sesuatu yang menurut orang lain tidak ada hubungannya, hal ini hanya masalah bagaimana kita dapat menghubungkan dua hal tersebut ataukah tidak. Bagi saya kedua orang ini (B Zunita dan Mas Burham suaminya) sangatlah istimewa, ispirasi mereka dengan menjadikan Osing Deles sebagai Brannd seakan menjadikan bibir untuk mengenalkan wajah seseorang. Tidak harus mengenalkan seluruh wajah Banyuwangi untuk mengenalkan Banyuwangi, cukup dua kata dalam rangkaian kalimat dengan ciri khas Bahasa Using tersebut sudah dapat mengenalkan bahwa ini adalah khas Banyuwangi.

Aku dan Anak Perempuanku

Ia masih manja kepada ayahnya, meskipun kini sudah kelas dua SMA—dan saya sengaja menyebutnya kelas dua SMA, bukan kelas sebelas. Entah mengapa, penyebutan itu terasa lebih manusiawi, lebih dekat ke rumah, lebih hangat daripada angka Romawi yang dingin dan resmi. Barangkali karena di benak saya, ia masih anak kecil yang dulu saya gendong dengan satu tangan, sementara tangan lain sibuk mengusir nyamuk yang berani mendekat.

Melihat anak kedua saya menginjak usia remaja, barulah saya benar-benar merasa bahwa waktu telah berjalan tanpa permisi. Bahwa usia ini, usia saya, tak lagi bisa disebut muda. Semangat memang kadang masih melonjak seperti dulu—berisik, nekat, dan ingin menantang pagi—tetapi tubuh tak lagi sepenuhnya patuh. Rambut putih tumbuh satu demi satu, tanpa bisa dicegah, seperti doa yang dijawab setengah-setengah. Mata pun mulai berkhianat; huruf-huruf kecil menari menjauh, memaksa saya berdamai dengan kacamata, seolah dunia ingin berkata: pelan-pelanlah, engkau tak lagi berlari sendirian.

Usianya baru lima belas tahun. Wajar jika masih manja. Apalagi ia anak kedua, belum memiliki adik, atau mungkin memang tak akan pernah memilikinya. Karena itu, di mata saya ia sering masih seperti anak-anak. Dan seperti remaja kebanyakan, ia kadang protes ketika saya memeluk terlalu lama atau melarang terlalu banyak.

“Aku wes SMA lo, yah?” katanya suatu hari, dengan nada setengah mengeluh, setengah meminta dimengerti.

Kalimat itu membuat saya tersenyum—dan diam-diam terluka. Sebab di balik pengakuannya sebagai siswa SMA, saya masih melihat bayi kecil yang dulu menangis lirih di tengah malam, mencari bau tubuh ayahnya.

Dulu saya ingin ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah, agar jejak pendidikannya lurus dari MI ke MTs, lalu MA. Sebuah kesinambungan yang rapi, seperti jalan desa yang tak banyak belokan. Tapi saya menyerah dengan pasrah ketika ia memilih SMA. Bukan karena kalah argumen, melainkan karena janji. Saya pernah berjanji pada diri sendiri: sampai SLTP, ayah yang menentukan; setelah itu, engkau bebas memilih jalanmu sendiri—ke sekolah mana, ke universitas mana, bahkan ke hidup yang seperti apa.

Ia memilih SMA negeri tertua di kabupaten kami. Sekolah tua dengan pohon-pohon besar dan kenangan panjang. Di sana, beberapa alumninya menjadi orang besar—bahkan menteri. Kakaknya juga bersekolah di sana. Barangkali ia ingin mengikuti jejak, atau mungkin sekadar ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di tempat yang sama, dengan caranya sendiri.

Saya ingin memberinya yang terbaik. Kata orang, anak adalah “majikan” orang tua. Saya tak sepenuhnya setuju. Bagi saya, anak perempuan bukan majikan—ia adalah amanah. Ananah yang dititipkan, bukan untuk dimanjakan berlebihan, tapi untuk dijaga, dirawat, dan kelak dilepaskan dengan doa yang panjang.

Saya ingat betul masa-masa awal itu. Tiga hari setelah ia lahir dan dibawa pulang dari rumah sakit, sayalah yang memandikannya. Bayi mungil dengan kulit merah muda dan tangisan yang masih rapuh oleh dunia. Saya memandikannya setiap hari—hingga ia bisa mandi sendiri. Saya menikmati betul masa itu. Masa di mana kantuk adalah teman, dan kewaspadaan menjadi ibadah. Malam-malam panjang saya lalui tanpa benar-benar memejamkan mata, berjaga dari gigitan nyamuk, dari suara yang terlalu keras, dari apa pun yang terasa mengancam.

Itu masa yang tak tergantikan. Masa di mana jarak antara ayah dan anak begitu dekat, bahkan napas pun seirama. Kini ia tumbuh remaja, tinggi badannya hampir menyamai ibunya, suaranya mulai berubah, dan dunianya kian luas. Tapi setiap kali saya ceritakan bagaimana dulu saya memandikannya, bagaimana ia tertidur di lengan saya, bagaimana ia tak pernah saya mandikan oleh orang lain—ia selalu tersenyum.

Senyum itu, entah mengapa, selalu membuat saya ingin memutar waktu. Bukan untuk kembali muda, melainkan untuk sekali lagi menjadi ayah dari seorang bayi kecil—yang seluruh dunianya masih bernama: ayah.Dia begitu manja dengan ayahnya, meskipun sudah kelas 2 SMA, saya lebih senang menyebut kelas 2 SMA daripada kelas XI. Kalau melihat anak kedua saya sudah menginjak Remaja, baru terasa bahwa usia ini sudah tak muda lagi, meskipun kadang semangat muda itu masih ada, namun satu demi satu rambut putih tumbuh tak dapat dihindari, begitu juga dengan pandangan mata dimana kadang butuh kacamata untuk membaca.

Ketika Cinta Tidak (Benar Benar) Memiliki

Pagi itu, halaman Kantor Urusan Agama seperti biasa: sunyi yang khidmat, bau kertas, tinta, dan doa-doa yang tertahan di dinding. Namun ketenangan itu terusik oleh kehadiran dua insan yang melangkah masuk dengan kemesraan yang nyaris berlebihan—seolah ruang negara ini adalah ruang privat, seolah meja pelayanan adalah meja resepsionis hotel kelas melati.

Mereka datang bergandengan tangan. Terlampau erat untuk sekadar keluarga. Terlampau hangat untuk hubungan yang bisa diterjemahkan sebagai kasih orang tua kepada anak. Usia mereka terpaut jauh, kontrasnya mencolok, namun asmara—seperti biasa—tak pernah peduli pada angka, apalagi pada norma. Yang satu tampak matang dengan raut wajah yang sengaja dirawat agar terlihat lebih muda, yang lain imut, segar, dengan mata yang berbinar oleh keyakinan bahwa dunia hanya berisi mereka berdua.

Barangkali di benak mereka, KUA memang hanya satu hal: tempat negara mengesahkan cinta. Bukankah di sinilah dua insan yang sedang mabuk asmara dicatat dalam akta otentik, diresmikan dalam kalimat hukum, dan disahkan dalam doa? Bukankah cinta—apa pun bentuk dan arahnya—selalu merasa berhak untuk diakui?

Cinta memang seperti virus. Ia tak mengenal etika sosial, tak tunduk pada logika publik. Ia hinggap sesuka hati, menginfeksi siapa saja, bahkan pada pasangan yang oleh mata umum tampak ganjil, kontras, atau mengundang kecurigaan. Dalam mabuk cinta, telinga hanya terbuka pada pujian. Nasihat dianggap campur tangan. Kekhawatiran dibaca sebagai iri. Moral dipandang sebagai penghalang kebahagiaan.

Bagi petugas KUA, pemandangan seperti itu mungkin sudah menjadi keseharian. Ada yang risih, ada pula yang memilih diam. Namun tetap saja muncul tanya yang menggantung di udara:
Haruskah ditanya—apakah kalian sudah sah? Apakah ada hubungan darah? Atau cukupkah negara bersikap netral, membiarkan cinta mempertontonkan dirinya di ruang publik?

Penampilan mereka menambah lapisan tafsir. Sang lelaki perlente, wibawanya masih tersisa. Sang perempuan memesona dengan kemanjaan yang tanpa malu terus menggenggam tangan lelaki yang—dalam logika umum—lebih pantas dipanggil ayah. Mereka datang dengan mobil yang layak, status sosial yang tampaknya mapan. Asumsi pun berhamburan, namun saya tahu: masa lalu, sejauh tidak melanggar hukum, bukanlah alasan untuk menolak sebuah pernikahan.

Namun kasus ini bukan perkara biasa.

Desas-desus telah lebih dulu sampai ke telinga saya: ancaman protes, kemarahan warga, bahkan rencana demonstrasi besar jika pernikahan ini diloloskan. Saya belum dapat menarik kesimpulan apa pun. Sebab hukum tidak bekerja dengan gosip. Hukum bekerja dengan data. Dan selama tidak ada alasan yuridis untuk menolak, maka penolakan itu sendiri justru akan menjadi pelanggaran.

Tugas saya jelas: memeriksa berkas, mengoreksi data, dan—jika perlu—menggali kebenaran di balik senyap yang ditutupi senyum.

Dari dokumen yang mereka ajukan, segalanya tampak rapi. Calon suami berstatus duda cerai. Calon istri perawan. Desa asal berbeda. Kartu Keluarga tidak menunjukkan hubungan darah. Secara administratif, pernikahan ini bersih. Namun cinta mereka—yang terus dipertontonkan tanpa sekat—justru menimbulkan kecurigaan yang tak tercatat di atas kertas.

Saya pun memilih menggali lebih dalam. Dan entah mengapa, naluri saya membawa saya pada sang perempuan. Barangkali karena dalam banyak perkara, kebenaran sering bersembunyi di balik suara yang paling lirih.

Dalam pertemuan khusus itu, kisah yang selama ini samar akhirnya membuka wajahnya.

Lelaki yang dicintainya adalah bekas ayah tirinya. Ia menikahi ibu kandungnya ketika ia masih kelas lima sekolah dasar. Sosok itu hadir sebagai figur ayah yang ideal: mengantar sekolah setiap pagi, bekerja keras, menemani tumbuh. Tahun-tahun berlalu. Anak itu beranjak remaja. Dan entah di tikungan mana, relasi yang semula bernama perlindungan berubah menjadi ketergantungan. Kasih bergeser. Batas memudar. Ayah menjadi lelaki. Anak menjadi perempuan.

Mereka menyebutnya cinta.

Cinta, kata orang, adalah urusan rasa. Tapi tak semua rasa layak diberi nama suci. Sebab ada cinta yang tumbuh dengan melukai. Melukai ibu. Melukai masyarakat. Melukai nilai yang selama ini menjaga kemanusiaan tetap berdiri.

Islam dengan tegas melarang pernikahan antara seorang anak dengan bekas suami ibunya apabila telah terjadi hubungan suami istri. Hukum positif Indonesia pun berdiri di garis yang sama. Di titik inilah cinta harus berhenti, sebab negara dan agama tidak diciptakan untuk mengesahkan semua keinginan manusia.

Dan pagi itu, di ruang KUA yang semula sunyi, saya belajar satu hal:
bahwa tidak semua cinta perlu dicatat dalam buku nikah,


Tunjangan Kinerja Guru Madrasah

Beberapa hari ini saya disbukkan dengan berbagai pertanyaan seputar selisih Tunjangan Kinerja dan Sertikasi yang diterima oleh guru Negeri di Madrasah. Hal ini berkaitan dengan beberapa hal yang menurut beberapa orang dirasa “kurang adil”, karena dalam Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6243 Tahun 2018 yang mengatur masalah tersebut hanya berlaku bagi Guru PNS pada madrasah. Sementara Guru Agama Kementerian Agama yang di perbantukan atau dipekerjakan pada instansi lain tidak mendapatkannya.
Keputusan Dirjen Pendis tersebut memang mengatur ketentuan bahwa Guru PNS yang mengajar pada Madrasah, jika Tunjangan Kinerja lebih besar daripada Sertifikasi, maka akan dibayarkan selisihnya, sehingga ASN disamping mendapatkan Gaji, Uang lauk pauk dan Sertifikasi atau Tunjangan Profesi Guru, maka bagi yang jika dihitung Tunjangan Kinerjanya sesuai dengan Grade masing masing lebih tinggi, maka juga akan diberikan selisih Tukin dan Tuprof.
Selisih Tukin tersebut dibayarkan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 154 Tahun 2016 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai dilingkungan Kementerian Agama, meskipun Perpres ini sudah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 130 Tahun 2018 dimana ada peningkatan Jumlah Tunjangan Kinerja pada Karyawan Kementerian Agama yang berlaku sejak bulan mei tahun 2018, namun pembayarannya berdasarkan Perpres 130 Tahun 2018 tersebut belum dapat dibayarkan.
Selisih Tunjangan ini dibayarkan sejak Bulan Nopember 2015, karenanya tidak heran jika para guru yang diminta arsip Presensi dan persaratan lain “jadi kelabakan”, meskipun presensi tersebut dapat dicetak lagi melalui mesin finger print, namun persoalan menjadi lain ketika sang guru ada kegiatan diluar dimana dibutuhkan bukti pendukung bahwa dia sedang tudas diluar, karena dalam perhingan tukin tersebut tingkat kehadiran juga mempengaruhi terhadap tukin yang didapatkan.
Di Kabupaten Banyuwangi, mungkin para guru tidak terlalu kaget dengan berita bagus ini, karena tahun 2018 telah dibayarkan selisih Tukin dengan Tuprof ini, begitu juga dengan Tahun 2017 dan separuh dari tahun 2016, karenanya tinggal 8 bulan saja pemberkasan selisih tukin ini terhitung sejak bulan Nopember 2015 yang harus diselesaikan.
Yang menggembirakan dari peraturan ini adalah bahwa Guru PNS yang belum bersertifikasi akan menjadapatkan Tunjangan secara penuh, dimana bagi yang golongan II akan mendapatkan Tunjuangan Kinerja Grade 3 sedangkan Golongan III mendapatkan Tunjangan Kinerja Grade 5, dimana dengan perubahan Peraturan Presiden terkait tentang perubahan besarnya tuinjangan yang akan diterima, dimungkinkan akan menerima kembali selisih tukinnya.
Bagi guru yang tidak terbiasa menyimpan berkas presensi dan berkas lainnya yang berkaitan, tidak kesulitan dalam pemenuhan administrasi dalam rangka pencairan selisih tunjangan kinerja dengan tunjangan prefesi ini, namun bagi guru yang tidak terbiasa menyimpannya, terlebih di Madrasah tersebut juga tidak menyimpan secara rapi arsip yang dibutuhkan, maka bisa “kelabakan” mereka mengumpulkannya. Bahkan ada yang enggan mengurus selisih tukin dan tuprof ini karena mereka sudah “puas” dengan Tunjangan Profesi Guru yang mereka terima.
Sebenarnya tiap bulan para Guru Madrasah mengumpulkan presensi dan catatan kinerja yangb mereka lakukan, namun kadangkala mengarsipan secara pribadi tersebut lalai dilakukan yang mengajikatkan mereka kkesulitan untuk mendapatkannya. Tak heran jika para guru yang mendapatkan selisih tukin dari tuprof tersebut “ramai ramai” bongkar arsip di madrasah.

Arsip Digital Guru Madrasah

Sore ini masih saja ada yang menanyakan masalah Arsip kepegawaian yang tidak ditemukan dirumahnya, mereka kebingungan untuk pemberkasan Pengurusan selisih Tunjangan Kinerja yang mereka terima. Saya sudah nama nama yang Tunjangan Kinerjanya lebih tinggi daripada Tunjangan Profesi Guru (TPG), begitu juga dengan guru yang belum mendapatkan TPG serhingga berhak menerima TPP murni.
Beberapa waktu yang lalu sebelum saya diajak makan bersama bebek goreng H. Slamet oleh seorag rekan yang kebetulan baru panen ternak, saya sudah Share nama nama tersebut. Beberapa berkas sudah masuk ke Kantor, hanya beberapa saja yang bekum mengumpulkan, yakni guru dan pengawas yang sudah purna serta beberapa yang kehilangan arsip kepegawaian miliknya.
Sebenarnya di Urusan Kepegawaian Kementerian Agama data tersebut juga tersedia, namun jika harus ngubrak abrik data yang di Kementerian Agama, akan memakan waktu yang cukup lama. Mereka akan lebih cepat jika mencari aersip pada file nya sendiri.
Sambil menikmati bebek goreng H. Slamet yag lumayan nikmatnya (mungkin karena gratisan) saya terus melayani konsultasi terkait masalah tersebut. Terlebih (mungkin) menu minuman beras kencur yang disajikan menambah “pyar” daya pikir sehingga lebih mudah, saya jadi ingat bahwa dalam E-Kinerja dari kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dimana aplikasi tersebut selalu dikerjakan para PNS dalam pengisian kegiatan pekerjaan harian disediakan arsip digital yag berisi arsip kepegawaian yang bersangkutan yang diambilkan dari pendataan PUPNS.
Ketika dalam kondisi seperti ini. Dimana kita harus cepat mengumpulkan berkas, disamping kita harus rapi dalam pengarsipan berkas, kita sadar bahwa arsip digital tersebut sangat membantu dalam mempercepat pencarian berkas kepegawaian kita. Disamping arsip digital yang disediakan Kementerian Agama, sebenarnya kita dapat membuat arsip digital sendiri, sehingga kita lebih mudah dalam pencarian berkas. Kita tinggal menghidupkan internet, mengambil berkas dari drive penyimpanan, mengunduh dan mencetaknya.
Saya memberikan apresiasi terhadap Mas Aulia Cahyo Syahrain, pengembang program komputer pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang telah membuatkan beberapa aplikasi yang memudahkaan dalam administrasi dan pelaksanaan tugas.

Dari Banyuwangi Lebih Murah Ke Kuala lumpur Daripada Ke Jakarta

Minggu kemarin saya Ke Malaysia, iseng iseng mumpung lagi promo, dan lagi nggak perlu cuti untuk sampai kesana. Terlebih saya hanya berangkat sendiri. Saya bukan hanya ingin menikmati liburan ahir pekan yang “bisa dianggap beda”, namun saya benar benar ingin berlibur dengan biaya murah meriah. Sebenarnya saya tadinya ingin ke Padang Sumatra Barat sambil “mengendangi” anak saya yang lagi study disana, menikmati indahnya alam, jalan kelok sembilan yang menawan dan bertemu beberapa kawan, namun ketika melihart tarif pesawat Dari Banyuwangi yang lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Padang, saya putuskan untuk ke Kuala Lumpur, terlebih passport saya juga masih berlaku.
Perjalanan dari Bandara Blimbingsari Banyuwangi biasa saja, terlebih ini bukan pertama kalinya saya naik pesawat terbang. Kebetulan hari itu penumpang lumayan penuh. Saya menikmatinya meskipun harus duduk di kelas ekonomi. Saya membayangkan bagaimana rasanya Jika Kantor mengajak kita Rakor di Kuala Lumpur, mungkin akan ada suasana berbeda, terlebih banyak rekan staf yang nggak pernah naik pesawat terbanng, pastinya ada satu atau dua orang yang kelihatan “wajah ndesonya” terlebih jika ke kamar kecil dalam pesawat seperti pertama kali saya naik pesawat.
Suasana di Kuala Lumpur biasa saja, seperti yang pernah kita lihat di TV, saya hanya selfi selfi dengan latar Menara Kembar Petronas sebagai Ikon Negea tersebut. Saya membayangkan suatu saat Banyuwangi juga akan mempunyai Ikon yang juga spektakuler, mungkin akan ada Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali, pasti sangat menarik, karena Jembatan tersebut pasti sangat besar dan panjang, tidak ada penyangga ditengah laut mengingat dalamnya selat Bal tersebut.
Ada yang sangat menarik ketika saya berjalan jalan ketempat kuliner, dimana bukan hanya makanan khas Malaysia dan Eropa yang disajikan, tetapi saya juga menemukan Warung Sego Tempong Mbak Har yang biasanya jualan di Pasar Benculuk juga ada disana. Saya teringat bahwa saya sering makan sego tempong Mbak Har, Terong gorengnya yang khas menggugah selera bagi siapa saja yang mampir dan menikmati masakannya. Selesai makan saya sempat berbincang dengan pemilik warung yang ternyata berlogat Osing. Saya bertanya kepadanya, kok sama persis rasanya dengan yang ada di Benculuk. Pemilik warung dengan semangat menjawab. “Sebenarnya bumbunya sama dehgan sego tempong yang ada di Banyuwangi, yang beda adalah terongnya” ungkapnya. Saya terus bertanya :Terongnya kenapa ??? “ “Terongnya Import” jawab pemilik warung. “ apa terongnya import dari India kok gedi gedii dan panjang” tanya saya. “ bukan pak, terongnya bukan Impor dari India, tetapi Impor dari Banyuwangi”. Jawab pemilik warung.
Saya hanya sehari semalam di Kuala Lumpur, saya harus segera kembali karena senin harus masuk kerja. Badan capek membuat saya lebih banyak tertidur di pesawat. Samar samar saya melihat Pramugari membagikan makanan kotak kepada para penumpang. Saya tetap agak tertidur sambil menikmati senyum ramah pramugari yang sibuk membagikan kotak nasi yang lumayan bagus kotaknya tersebut. Mungkin nasi tersebut tidak saya makan agar ada alasan untuk membawa kotaknya kerumah. Pramugari memberikan Kotak nasi dan meletakkan kepangkuanku. Saya tidak berani membuka mata terlalu lebat, takut terlalu tertarik dengan pramugari yang cantik tersebut. Saya harus menjaga pandangan mata saya.
Pramugari menggoyang goyangkan kaki saya yang sedang duduk di kursi, “ pak pak bangun pak” kata pramugari dengan ramah membangunkan saya yang sedang tertidur di kursi. Mungkin saking anyelnya saya tidak bangun bangun, pramugari tersebut membuka sepatunya dan memukulkannya ke paha saya. saya terbangun dan hampir terjatuh dari kursi, saya lihat Mbak Wiwit membawa nasi kotak untuk makan siang. Saya pejamkan mata dan saya buika kembali, Wajah Mbak Wiwid masih tetap tersenyum menatapku. Wajahnya tidak berubah seperti pramugari yang saya temui dalam mimpi.

Tantangan Guru di Era Millenial


Tantangan Guru di Era Millenial
Beberapa hari ini guru swasta pada Madrasah yang belum mendapatkan Tunjangan Profesi Guru, sibuk dengan pemberkasan usulan  Calon Penerima Subsidi Tunjangan Fungsional Bagi Guru Bukan PNS (STF-GBPNS), meskipun insentif tersebut tidaklah seberapa, setidaknya sebagai salah satu tabnda perhatian pemerintah terhadap kesejahtaraan para guru yang belum sertifikasi tersebut. Saya tidak akan menyampaikan masalah berapa insentif yang mereka terima, karena kadangkala rizki yang berupa uang dari mengajar tersebut tidak berbanding lurus denngan riski yang mereka terima secara keseluruhan. Setidaknya hal ini tergambar dari beberapa cerita yang disampaikan para guru Madrasah tersebut ketika bersama rehay di kantin, mereka yang belum sertifikasi banyak yang menerima honor dari lembaganya antara seratus ribu hingga satu juta, sangat jarang yang menerima honor lebih dari satu juta rupiah. Meskipun demikian, beberapa diantaranya juga sudah mempunyai mobil. Handphone yang mereka miliki rata rata juga tidak lebih jelek dibandingkan milik saya. Ketika merreka mengantarkan pemberkasan ke Kantor Kabupaten, beberapa diantaranya juga memakai mobil dan disetir sendiri.
Hidup diera digital, bagi yang mengikuti perkembangannya, sangat memudahkan dan terlihat keren, namun bagi mereka yang menganggap bahwa dunia digital tersebut seperti dunia lain, mereka juga “wajib” mengikuti, setidaknya dalam beberapa hal dimana mereka tidak dapat terlepas dari kewajiban menggunakan perangkat digital dimaksud. Terlebih bagi seorang pendidik dimana image dari masyarakat dianggap orang yang  lebih tahu dan mengerti tentang perkembangan tehnologi tersebut, karena administrasi dalam pendidikan saat ini dilakukan dengasn cara digital, dimana sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan media dengan menggunakan kertas. Terlebih dengan hadirnya smartphone, dimana HP pintaer tersebut “mengambil” beberapa fasilitas yang ada pada beberapa perangkat lain, baik fasilitas yang berkaitan dengan komunikasi, pengolahan visual hingga pengolahan data. Karenanya banyak yang memanfaatkan piranti canggih ini untuk beberapa keperluan, tidak terkecuali dalam administrasi pendidikan.
Dalam pemberkasan STF-GBPNS saya dan team juga mnmenggunakan piranti keren yang disediakan google, dimana calon penerima FTT-GBPNS mengisi sendiri data yang diperlukan dalam Link yang kami berikan, sehingga team kami tidak perlu input data lagi, karena data sudah mereka input sendiri. Bisa dibayangkan jika kami tidak menggunakan fasilitas online ini, berapa lama kami harus menginput data satu persatu dari calon penerima dana insentif tersebut yang jumlahnya lebih dari seribu orang. Berapa jam lagi jatah waktu yang tersita yang seharusnya untuk keluarga, terkikis untuk kerja. Belum lagi verifikasi berkas dimana ketelitian juga sangat diperlukan pada pemberkasan yang menyangkut masalah keuangan, dimana hak mereka yang harus menerima tersebuit tidak akan terkendala.
Beberapa pendataan yang kami lakukan memang memanfaatkan beberapa vitur dalam google. Hal ini disamping membpercepat dan mempermudah proses adminiatrasi, juga sebuah pembiasaan untuk mengikuti perkembangan tehnologi tersebut. Seorang siswa pada madrasah Ibtidaiyah yang baru saja mengikuti Penilaian Ahir semester bercerita kepada temannya dari lembaga lain yang juga mengikuti Penilaian Ahir Semester dengan media kertas. Mereka yang menggunakan CBT merasa keren ketika melakukan kegiatan ujian dengan menggunakan piranti canggih tersebut. Meskipun penggunaan Handphone di dunia pendidikan ini perlu dibatasi dan diberikan aturan yang jelas, karena penggunaan tanpa batasan pada siswa tersebut akan berdampak negatif terhadap perkembangan mentalnya.
Tantangan guru diera millenial bukan hanya bagaimana seorang guru tersebut dapatt mentranver Ilmu sesuai dengan buku paket yang sudah disediakan, sekolah dan para guru bukanlah satu satunya sumber bagi para siswa untuk memperoleh informasi. Para siswa dapat berselanjar di dunia digital untuk memperoleh berbagai informasi. Sebuah halyang agak lucu saat ini ketika seorang pendidik tidak mengikuti perkembangan informasi dan perkembangan tehnologi yang seakan berkembang secara liar tersebut.
Seperti pengisian data yang kami perlukan dalam STF-GBPNS dimana kami menerim hasil input yang dilakukan oleh para calon penerima dana insentif tersebut secara online, baik melalui Komputer maupun Handphone, beberapa guru yang tidak terbiasa dengan penggunaan tehnologi tersebut tidak mengisi data sendiri, beberapa diantaranya disikan oleh para operator dan guru lainnya. Meskipun tidak banyak yang melakukan hak seperti ini, namun dapat dijadikan sebuah gambaran bahwa belum semua guru mengikuti penguasaan dari perkembangan tehnologi tersebut.
Dunia digital seakan lebih luas dari isi bumi itu sendiri, setidaknya media olnile tersebut dapat mempermudah dan mempercepat sebuah proses. Siapapun dapat mengakses informasi yang ada didalamnya, begitu juga sebaliknya bahwa siapapun dapat menggunggah informasi kedalamnya, dimana informasi tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dan informasi, termasuk di dunia pendidikan, baik dalam bentuk dokumen maupun visual.
Beberapa lembaga pendidikan telah menggunggah video mengenai kegiatan pembelajaran yang ada dilembaganya, meskipun hal ini seakan sepele, setidaknya telah menyumbangkan video positif didunua digital dimana kadang ketika kita berselancar di dunia maya tersebut akan masuk kedalam ruang dimana kita tidak menginginkannya, atau masuk kedalam ruang dimana hal negatif dapat kita terima. Dan hal ini sangat berpengaruh ketika informasi negatif dan informasi yang kurang benar tersebut diterima oleh siswa.
Tantangan Guru di Era Millenial bukan sekedar bagaimana dia dapat mengakses informasi dari dunia amaya, atau bagaimana menggunakan poerpoint dalam melakukan pembelajaran. Namun bagaimana dapat memberikan informasi tersebut secara digital, melakukan administrasi dan membuat perangkat pembelajaran dengan memanfaatkan sarana tehnologi informatika, menginputi data digital yang menjadi kewajibannya tanpa bangtuan operator sekolah.



 
Support : Copyright © 2013. Blog Syafa'at - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger