Selamat Datang Pada BLOG SYAFA'AT semoga bermanfaat
Showing posts with label Warung Kopi. Show all posts
Showing posts with label Warung Kopi. Show all posts

Alasan Perceraian yg tidak masuk akal

Alasan Perceraian yg tidak masuk akal
Bagaimana pendapat Anda tentang istri yang minta cerai dengan alasan suaminya terlalu cinta pada kebersihan? Mungkin kita akan mengumpatnya habis-habisan, “Dikasih suami bersihan kok nggak bersyukur…”. Namun, ternyata ada lho kejadian nyata seperti itu. Setidaknya itulah yang dialami seorang pria Jerman pada April 2009 lalu.
Istrinya tega menceraikannya karena sudah kelewat jenuh dengan sifat suaminya yang terlalu bersih. Mereka telah melewati waktu 15 tahun bersama, namun kesabaran sang istri habis tatkala suaminya memutuskan membangun ulang salah satu tembok di rumah hanya karena tembok sebelumnya tampak begitu kotor.
Selain kisah di atas, di bawah ini masih ada lagi 9 kasus perceraian lain yang tak kalah anehnya. Mari kita simak bersama.
1. Sudah pisah ranjang saat awal menikah
Pengadilan Tainan (Taiwan) mengabulkan tuntutan cerai seorang suami karena istrinya ‘terlalu malu’ untuk mengakui pernikahan mereka, bahkan setelah pernikahan tersebut berjalan setahun lamanya. Guru berusia 39 tahun ini berkenalan dengan istrinya (30) melalui jasa mak comblang. Setelah Chen dan Lin, begitu panggilan keduanya, pacaran selama 3 bulan, akhirnya mereka memutuskan menikah.
Namun Lin menolak menjalani pernikahannya dengan wajar. Saat malam pertama, Lin tidur dalam keadaan berpakaian ‘penuh’ dengan selimut menutupi tubuhnya. Ketika Chen berusaha untuk tidur dengannya, Lin mendorongnya jauh-jauh sambil berteriak, “Konyol sekali kau ini!”, dan Lin juga pulang ke rumah orang tuanya pada keesokan harinya.
Melalui mak comblang yang mengenalkan mereka, Lin mengaku menandatangani kontrak setuju menikah hanya karena masalah penghidupan dan dia juga minta agar dia dan suaminya tidur secara terpisah. Namun bagaimana pun juga, maksud Lin jelas tak tercapai sebab Chen yang tak tahan akhirnya mengajukan cerai. Lin mengaku pada pengadilan bahwa dia menolak menjalani malam pertama karena merasa lelah dan sakit. Akan tetapi hakim tetap menganggap bahwa adalah hal yang aneh jika Lin minta pisah ranjang sejak ia menikah.
Hakim juga meminta Lin memberikan NT$300 ribu (sekitar Rp90 juta) pada Chen sebagai ganti rugi atas pembelian apartemen, mas kawin, dan rasa malu akibat pernikahan yang gagal karena alasan sepele.
2. Suami ngintip wajah istrinya
Seorang wanita Saudi menuntut cerai pada 2008 lalu karena suaminya berusaha mengintip wajahnya. Anehnya, pernikahan mereka pada waktu itu telah memasuki usia ke-30. Mungkin rasa penasaran yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun yang membuat sang suami akhirnya tidak tahan dan benar-benar ingin tahu seperti apa sih wajah sang istri.
Setelah ketahuan berusaha membuka cadar istrinya selagi ia tidur, sang suami minta maaf dan berjanji takkan mengulanginya. Namun sayangnya, sang istri yang selama ini hanya memperlihatkan matanya saja tetap bersikeras untuk bercerai. Ah, jadi penasaran, sebenarnya wajah sang istri ini kelewat cantik atau kebalikannya ya?
3. Nasehat seekor beo
Sembilan tahun silam, seorang wanita asal China mengajukan permohonan cerai setelah burung mynah peliharaannya mengatakan kata-kata yang cukup aneh di pendengarannya. Burung itu dikabarkan mengucapkan kata-kata seperti: “Cerai”, “Aku cinta kamu”, dan “Sabar dong!”.
Menurut surat kabar Xinmin Evening, dari ocehan burung tersebut, sang istri menduga ada sesuatu yang salah. Kemudian diketahui bahwa rupanya burung itu belajar kosakata barunya dari telepon gelap suaminya saat berbicara dengan WIL, selagi sang istri berkunjung ke rumah orang tuanya. Sang istri pun membawa kasus sekaligus ‘saksinya’ ke pengadilan, dengan harapan bahwa ini bisa menjadi bukti kuat bahwa suaminya memang selingkuh dan ia ingin bercerai.
4. Selingkuh dengan tetangga
Seorang nenek asal Jerman berusia 84 tahun menceraikan suaminya (82) setelah 60 tahun kebersamaan mereka karena sang suami ketahuan berhubungan seks dengan wanita lain di tempat kerjanya. Kisah perselingkuhan ini tersibak saat kedua pasangan gelap tersebut lupa menutup tirai saat sedang asyik melakukan quickie di salah satu sudut kantor. Saat tahu kenakalan suaminya, Ruth langsung mengusir kakek tua itu pergi, dan anehnya, kakek itu kemudian memutuskan untuk tinggal bersama selingkuhannya yang rumahnya hanya berjarak 2 pintu dari rumah Ruth.
5. Bohong tentang umur
Luo yang berbohong tentang umurnya akhirnya harus merasakan akibat dari bibir dustanya sendiri. Setelah 10 tahun menikah, sang suami nekat menceraikan Luo karena menganggap dirinya telah ditipu. Luo sendiri mengaku masih 24 tahun saat ia dilamar, padahal umurnya saat itu sudah mencapai 30 tahun.
6. Tak ingin makan siang dengan ibu mertua lagi
Wanita asal Focsani (Roma) minta cerai tahun 2005 lalu dengan alasan dia sudah tidak tahan karena harus makan siang bersama ibu mertuanya…setiap hari. Wanita (23) yang baru menikah 10 bulan itu mengaku bahwa hidupnya terasa seperti di neraka karena keberadaan ibu mertuanya. Elena T mengatakan pada sidang bahwa hal tersebut adalah alasan utamanya minta cerai. Meski begitu pengadilan menasehati agar dia mencari alasan yang lebih baik lagi jika ingin cerai dari suaminya.
7. Pasangan lebih menafkahi hewan liar
Seorang pensiunan Roma mengajukan cerai terhadap suaminya setelah 50 tahun pernikahan mereka karena dia merasa jenuh dengan tingkah suaminya yang suka menghabiskan masa pensiun dengan memberi makan hewan-hewan jalanan. Eliza Barbu (71) mengatakan suaminya rutin memberi sisa makanan selama beberapa tahun belakangan pada sepasang anjing liar.
Namun, ketika jumlah asuhan suaminya berkembang menjadi 20 hewan dan sang suami memberi hewan-hewan itu makan hingga 3 kali sehari, maka Eliza pun mencapai titik jenuhnya. Pasalnya, akibat ulah sang suami, tidak ada lagi makanan yang tersisa untuk mereka berdua.
Eliza mengatakan dirinya tak bisa lagi menerima kenyataan bahwa mereka harus kelaparan karena uang pensiunan yang ada habis untuk makanan anjing di sekitar rumah. Apalagi makin banyak saja anjing yang datang setiap harinya.
8. Suami ngotot promosi Olimpiade Beijing
Pria ini diceraikan istrinya dua tahun lalu karena dia memutuskan berlari melintasi China untuk mendukung Olimpiade di Beijing. Wang Yueting (57) dari kota Chuzhou (provinsi Anhui) menjual apartemennya untuk mendanai ‘pelariannya’. Dia menghabiskan uang tersebut untuk sebuah van dan 6 orang lainnya yang merupakan satu tim pendukung dengannya. Istri Wang mengancam akan mengajukan cerai jika suaminya tetap pergi, dan akhirnya terjadilah perpisahan itu.
9. Karena Mr.P patah
Seorang pria dituntut cerai oleh istrinya setelah sang istri mendapati Mr.P suaminya palsu. Hal ini terkuak ketika mereka sedang berhubungan seks. Sang suami, Grigory Toporov (48), mengatakan bahwa dia tidak tahu seberapa besar Mr P yang diinginkan istrinya sehingga ia melakukan ‘sambungan’ Mr.P. Namun, istrinya justru kaget dan ketakutan saat Mr. P suaminya patah saat mereka sedang asyik melakukan aksi panas. Greg mengatakan akan melakukan extension Mr. P lagi, namun sang istri sudah terlanjur jenuh dengan kegagalannya saat di ranjang dan dia tetap minta cerai. Aneh-aneh saja!

MAGIH WELAS IIS FAMELIA

Lagu Magih Welas yang dinyanyikan IIS FAMELIA dapat diunduh DISINI

TUTUPE WIRANG LAGU OSING BANYUWANGI


TUTUPE WIRANG

Ciptaan : Hidayati Samudra/Demy
Vokal : Demy
Produksi : Samudra Record








Sun mung biso ngucap sepuro,
Nong raino bengi rupo bingung hang ngemuli,
Arep terus terang isun sing mentolo,
Masio ring batin isun kesikso..
Dudu welase hang sun karepno,
Dudu arane hang isun impekno,
Ono wong liyo hang manggon nong ati,
Saiki menyang embuh nong endi..
reff :
Welas isun hang ilang,
Kegowo angin nong awang-awang,
Sing gampang ngganteni kembang sun hang ilang,
Riko hang dadi tutupe wirang..
reff :
kembali keatas..sun mung biso…
Welas isun hang ilang,
Kegowo angin nong awang-awang,
Sing gampang ngganteni kembang sun hang ilang,
Riko hang dadi tutupe wirang..

LUK LUK BUMBU


Luk Luk Lumbu
Ciptaan : BS Noerdian & Andang CY

VIDEONYA DISINI


Uki-uki, angin muluk’o
Uki-uki, angin teko-o
Sebyar-sebyarono,
Gondo arume, kembang maniko rupo
Uki-uki, angin moro-o
Uki-uki, angin tebo-o
Sun iring kembang peciring
Sun adang sun kudang, ring wangine kembang
reff :
Luk, luk, luk lumbu, gampang kepilu
Angin liwat selepak, sing njaluk milu
Asem rasane kecut, kesengsem katut
Katut kegowo arus, lancing kang bagus
Luk, luk, luk lumbu, gampang kepilu
Angin liwat selepak, sing njaluk milu
Asem rasane kecut, kesengsem katut
Katut kegowo arus, lancing kang bagus
Eluk lumbu, dieluk lumbu
Ojo gampang katut, lan ojo gampang kepilu
Eluk lumbu, temiyung uwite
Mikir sak durunge, ojo getun pungkasane
reff :
kembali ke atas..uki-uki,angin…

Jamaah Taman Kanak Kanak.

Jamaah Taman Kanak Kanak.

Dapat pesan singkat dari pimpinan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bahwa akan diadakan acara pengajian dalam rangka Maulid Nabi Muhammad, acaranya sederhana, hanya lesehan dalam ruangan kelas, menurut bunda PAUD yang sangat saya kenal ini karena memang saya sebagai ketua penyelenggaranya, bahwa yang diundang adalah wali siswa dan masyarakat sekitar yang kurang lebih hamper 100 orang.
Sayapun mulai mencari “bahan” untuk ceramah yang akan saya sampaikan, tentu saja masalah hikmah Maulid berkaitan dengan masalah Pendidikan, karena memang itu yang menurut saya Pas untuk disampaikan, dan meskipun bisa saja menyampaikan bahwa tidak benar KUA melakukan tindakan seperti yang diberitakan di TV, atau masalah kawin siri yang dilakukan banyak pejabat, meskipun saya “menguasai” permasalahan tersebut karena memang pekerjaan saya setiap hari berkaitan dengan pernikahan, bahan bahan bacaan yang say abaca juga tidak jauh dengan masalah pernikahan, namun menurut saya bukan pada tempatnya saya menyampaikannya, sebab lain Pejabat lain pula masyarakat Desa sekitar pelosok yang akrab dengan kemiskinan. Kalau Pejabat dan para penggede yang kebetulan diberi rizki berlimpah, nikah siri “mungkin” karena sudah mempunyai istri sah dan tercatat, dan nikah siri dilakukannya untuk memberikan “kelebihan” nafkah yang dimilikinya, namun kalau masyarakat desa melakukan nikah siri karena tidak adanya “biaya”, karena dalam pernikahan tersebut bukan hanya tidak mampu membayar “biaya pencatatan” yang “hanya” Rp. 30.000,- namun “ada hal lain” yang tidak mampu untuk dipenuhinya.
Lama jika harus mencari bahan bacaan untuk ceramah jika harus mencari dali banyaknya Buku yang ada dalam Rak Buku, meskipun ada judul dan daftar isi dari buku dimaksud, namun dengan jeda waktu yang sangat sempit rasanya tidak mungkin saya menghafal dengan apa yang pantas dan akan saya sampaikan. Dari seorang yang pekerjaan tiap harinya hanya berkutat pada administrasi, harus menjadi penceramah dengan tema yang nyaris baru adalah hal yang sangat berat, tetapi harus difikir secara enjoi saja. Para pejabat juga banyak yang menduduki jabatan, padahal sebelumnya tidak bekerja dibidang tersebut. Dan mereka juga “merasa” mampu melakukannya?, apalagi ini “Cuma” ceramah dihadapan masyarakat desa yang tingkat pendidikannya rendah, atau bahkan nyaris tidak sekolah sama sekali.
Untuk mempercepat pencarian materi ceramah secara Instan yang paling mudah adalah melalui jaringan internet, meskipun keshahihan internet “layak” dipertanyakan, sebab begitu mudahnya mengakses data sama halnya mudahnya menyajikan dan mengupload data, dan kita kadang tidak tahu, siapa sebenarnya yang meng upload data tersebut. Namun bagaimanapun Internet sangat membantu mencari informasi dengan “cara Instan”. Internet yang juga disebut dengan Dunia Maya ini memang lagi ngetren, bukan hanya kaum Intelektual saja yang bisa mengaksesnya, kaum “rendahan’ juga sudah mulai pinter utak atik internet. Bahkan Iblispun juga sudah mampu main Internet, bikin Facebook hingga “menyerobot” Group yang sebenarnya untuk orang orang yang beragama.
Telepon genggam kembali bordering, saya menggunakan nada dering yang sudah ada dalam telepon genggang, dan tidak “latah” mengganti nada dering dengan ayat Al Qur’an (biar kelihatan Islami, seperti teman teman, sebab saya “takut” kuwalat dengan nada dering Al Qur’an tersebut. Karena HP saya sering juga terbawa sampai WC, dan bagaimana jika pas di WC ada orang yang menelpon, sehingga HP saya yang sedang saya bawa berbunyi dengan nada dering Al Qur’an, sedangkan saya sedang asyik dengan hadas, dan apabila dengan cepat saya angkat HP tersebut, saya juga takut jika nada dering yang berupa lantunan ayat Al Qur’an tersebut tidak sempurna bacaannya dan terpotong pada bacaan yang seharusnya tidak terpotong. Dan saya sangat tidak menguasai masalah bacaan Al Qur’an. Sehingga dalam rencana ceramah yang saya lakukan tidak akan mengutip ayat Al Qur’an, saya takut bacaan Al Qur’an yang saya sampaikan nanti banyak yang salah. Orang orang tidak peduli bahwa saya bukan lulusan Pondok Pesantren atau Perguruan tinggi Islam, mereka “hanya tahu” bahwa saya adalah orang KUA yang menurut mereka sangat faham dengan masalah agama. Saya yakin, dering telepin tersebut dari bunda PAUD yang “mungkin” resah karena saya tidak kunjung datang, dan ternyata benar bahwa itu Telepon dari Bunda PAUD.
Dalam perjalanan menuju lokasi PAUD, pikiran saya masih juga nervers, apa yang harus saya sampaikan agar saya tidak kelihatan terlalu bodoh, dalam perjalanan yang terpaksa konsentrasi terbagi, ditambah jalan yang sangat tidak bagus, ditambah adanya beberapa pekerja yang mengerjakan pekerjaan plengsengan penahan bahu jalan, pikiranku tambah terbagi ketika melihat para pekerja menuangkan semen kedalam mesin pengaduk yang menurut saya menggunakan campuran yang salah. Dan sepertinya campuran yang digunakan terlalu sedikit semen, rasanya ingin berhenti pada pekerja tersebut untuk mengingatkannya, karena kalau terlalu sedikit semen yang digunakan, bangunan tersebut akan cepat rusak, meskipun saya tahu bahwa anggaran yang digunakan untuk pembangunan tersebut ada banyak “pengeluaran’ diluar bangunan. Dan satu hal yang saya tarik kesimpulan secara cepat adalah “ITU BUKAN URUSAN SAYA”, urusan saya adalah “Belajar menjadi Muballigh”.
Sampai ditempat langsung disambut oleh shohibut hajat, diluar gedung banyak para Ibu yang duduk duduk bergerombol sambil ngerumpi khas perempuan. Sayapun masuk kedalam kantor dan ngobrol sebentar dengan para Bunda PAUd sebelum masuk kedalam ruangan pertemuan tempat acra dilaksanakan. Banyak makanan disuguhkan didepan meja, namun nafsu makan juga kurang karena pikiran masih diliputi dengan beberapa Tanya, mampukan nanti saya berceramah dengan baik?
Kitapun bersama sama menuju gedung pertemuan, dan sebentar lagi saya akan menyampaikan hikmah Maulud seperti yang sudah saya rancang sebelumnya. Dan ketika diruangan tersebut tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, yang dengan terpaksa materi yang sudah saya siapkan sebelumnya tidak terpakai sama sekali, dan saya harus siap dengan “materi baru”, seperti Pak Penghulu yang harus siap segalanya dalam pelasanaan akan nikah yang kadang menjadi MC, kadang membacakan Khutbah nikah, menjadi wakil wali nikah, membaca doa, membaca Tilawah, bahkan menjadi “orang pinter” ketika tiba tiba dalam prosesi akad nikah terjadi masalah. Dan itu sama beratnya dengan yang saya hadapi saat di gedung PAUD, hanya bedanya kalau pak penghulu “mungkin” pulang bawa amplop, saya “hanya” membawa satu kotak kue maulud dari ceramah yang saya lakukan dihadapan sekitar tujuh puluh orang yang semuanya masih berusia Kelompok Bermain dan Taman kanak-kanak.

CINTA TANPA SYARAT



CINTA TANPA SYARAT

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi.... kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."

Pembaca yang budiman,
Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
www.andriewongso.com

Kembalinya pendekar Rajawali terakhir episode terakhir | Return of the condor heroes last episode


Kembalinya pendekar rajawali  episode terakhir | Return of the condor heroes last episode. Happy Ending yang menakjubkan. Tiada ada rasa menyesal, kehilangan atau rasa penasaran yang tidak kesampaian setelah tayangan ROCH berakhir.  Ending ceritanya begitu happy seperti yang seharusnya. Yoko bersatu dengan bibi Lung…yeaahh. Grow up mayyyyy…( cuma film ;)) but I m really happy!  very ..very ..happy! Jadi nggak deg deg an lagi….

Tayangan drama asia return of the condor heroes memang belum berakhir. Tapi seperti biasa..penasaran dengan ending cerita. Untung ada yang sudah menulis sinopsis episode terakhir return of the condor heroes. Jadi happy dech. kalau mo ikutan baca.. dibawah ini link nya.
Setiap orang pasti punya sifat/kebiasaan yang tidak dapat dihilangkan. Kebiasaan ku yang paling merisaukan adalah rasa ingin tahu yang berlebihan. Selalu ingin tahu bagaimana jadinya … atau akhirnya… atau apa yang terjadi selanjutnya. karena itu setiap kali membaca buku, buku apa saja yang isinya menarik, aku akan membacanya setidaknya 2 kali. Pertama membaca secara acak. Yaitu membaca bab pertama,  beberapa halaman tengah dan bab terakhir. Baru membaca secara keseluruhan. Begitu pula kalau menonton film. Nontonnya bag depan dikit, bagian tengah dikit, lalu endingnya.  Setelah tahu cerita awalnya menarik, aku pasti penasaran dengan ending ceritanya. Untunglah..sekarang ada internet… segalanya ada… adanya apa saja.
Sedikit bocoran cerita kembalinya pendekar rajawali episode terakhir. Kwee Siang ternyata cinta banget sama Yoko. Tapi bukan cinta buta. Kwee siang juga tahu kalau Yoko hanya mencintai Long’er (panggilan mesra bibi Lung) saja. Karena itu dia berdoa untuk mereka. Ternyata lagi, ikatan hati Yoko ama kwee siang itu erat banget. Buktinya saat Kwee siang berada dalam bahaya, Yoko mendapat firasat dan datang untuk menyelamatkan. Tapi kali ini nggak sendiri. tapi dengan mengandeng tangan Siauw liong lie. Yoko tidak perlu lagi ilmu pedang berpasangan untuk mengalahkan lawan. karena dia sudah sangat..sangat..sangat… hueeebat. Meski hanya punya sebelah tangan, pukulan merindukan kekasihnya sanggup mengalahkan jurus Dragon-Elephant movement skill ( snake and pig???) milik hakim roda mas. Tapi hakim roda mas bukan mati di tangan Yoko lho, Hakim Roda mas mati karena menyelamatkan Kwee Siang. Sebuah tindakan yang sungguh sangat terpuji. Apapun… mengorbankan diri untuk orang lain kan terpuji, betul tak??? Tahu nggak kenapa hakim roda mas menolong kwee siang?? Sebab dia ingin di panggil ‘Sifu’… heheheh nggak ding…nggak salah!
Memang sih, endingnya bahagia. Tapi pas lihat kwee siang menatap kepergian Yoko-Liong Lie + rajawali raksasa, hati jadi sedikit sedih. Seperti bisa merasakan..apa yang dirasakan Kwee siang. Cinta memang tidak selamanya bisa memiliki. Kebersamaan pasti akan ada akhirnya. Yoko-Liong lie sudah menemukan kebahagian yang mereka cari… tapi kwee siang..jalannya masih panjang. Sayang… tentang kwee siang tidak ada ceritanya sendiri. tapi kalau kisah Yoko-Liong Lie ada kisah lanjutannya yaitu dalam nobel : Sin Thiaw Thian Lam atau Rajawali sakti dari Selatan.
Kalau melihat judulnya RAJAWALI dari SELATAN, sepertinya Yoko-Liong Lie merealisasikan impiannya untuk pergi ke daerah selatan dan menjadi petani. Dalam Novel ini, Yoko Liong lie dikaruniai seorang anak lelaki bernama Yo Him. Dan sepertinya latar belakangnya masih perang antara Song dan Mongol. Bedanya kali ini, Mongol sudah menguasai Dataran tengah. Jadi bukan peperangan mempertahankan diri, tapi peperangan untuk membebaskan dataran tengah dari tangan bangsa Mongol. 

Drama Korea Sinopsis Dong Yi episode 1-60 Lengkap

Sinopsis Dong Yi episode 1-60 lengkap. Drama korea Dong Yi, Jewel in the crown . Seperti tidak ada bosan-bosannya memnonton darama Sangeuk di masa era dinasti Joseon. Drama korea Dong Yi ini memiliki keistimewaan di hati, selain karena pemainnya tapi juga karena kisah dan penuturannya yang bagus, mudah dimengerti dan mengalir seperti air. Jika Anda juga seorang pecinta drama korea seperti saya dan tidak sempat menonton, bisa membaca sinopsis dong yi episode 1-60 secara lengkap di tautan di bawah ini.

Sinopsis Dong Yi episode 1-60 Lengkap

Drama Korea Sinopsis Dae Jang Geum episode 1-72 Lengkap

Sinopsis Dae Jang Geum, Jewel in Palace episode 1-72 lengkap. Dae Jang Geum berkisah tentang seorang tukang masak istana yang menjadi dokter pribadi raja dan mendapat gelar Dae Jang Geum yang berarti jang Geum yang agung. Bagi yang belum pernah menontong silahkan membaca sinopsisnya yang telah dipersiapkan secara ringkas. Berikut ini adalah sinopsis Dae Jang Geun Jewel in the Palace episode 1-72 lengkap.

Sinopsis Dae Jang Geum episode 1-72 Lengkap

Dae Jang Geum – Episode 01
Dae Jang Geum – Episode 02
Dae Jang Geum – Episode 03
Dae Jang Geum – Episode 04
Dae Jang Geum – Episode 05
Dae Jang Geum – Episode 06
Dae Jang Geum – Episode 07
Dae Jang Geum – Episode 08
Dae Jang Geum – Episode 09
Dae Jang Geum – Episode 10
Dae Jang Geum – Episode 11
Dae Jang Geum – Episode 12
Dae Jang Geum – Episode 13
Dae Jang Geum – Episode 14
Dae Jang Geum – Episode 15
Dae Jang Geum – Episode 16
Dae Jang Geum – Episode 17
Dae Jang Geum – Episode 18
Dae Jang Geum – Episode 19
Dae Jang Geum – Episode 20
Dae Jang Geum – Episode 21
Dae Jang Geum – Episode 22
Dae Jang Geum – Episode 23
Dae Jang Geum – Episode 24
Dae Jang Geum – Episode 25
Dae Jang Geum – Episode 26
Dae Jang Geum – Episode 27
Dae Jang Geum – Episode 28
Dae Jang Geum – Episode 29
Dae Jang Geum – Episode 30
Dae Jang Geum – Episode 31
Dae Jang Geum – Episode 32
Dae Jang Geum – Episode 33
Dae Jang Geum – Episode 34
Dae Jang Geum – Episode 35
Dae Jang Geum – Episode 36
Dae Jang Geum – Episode 37
Dae Jang Geum – Episode 38
Dae Jang Geum – Episode 39
Dae Jang Geum – Episode 40
Dae Jang Geum – Episode 41
Dae Jang Geum – Episode 42
Dae Jang Geum – Episode 43
Dae Jang Geum – Episode 44
Dae Jang Geum – Episode 45
Dae Jang Geum – Episode 46
Dae Jang Geum – Episode 47
Dae Jang Geum – Episode 48
Dae Jang Geum – Episode 49
Dae Jang Geum – Episode 50
Dae Jang Geum – Episode 51
Dae Jang Geum – Episode 52
Dae Jang Geum – Episode 53
Dae Jang Geum – Episode 54
Dae Jang Geum – Episode 55
Dae Jang Geum – Episode 56
Dae Jang Geum – Episode 57
Dae Jang Geum – Episode 58
Dae Jang Geum – Episode 59
Dae Jang Geum – Episode 60
Dae Jang Geum – Episode 61
Dae Jang Geum – Episode 62
Dae Jang Geum – Episode 63
Dae Jang Geum – Episode 64
Dae Jang Geum – Episode 65
Dae Jang Geum – Episode 66
Dae Jang Geum – Episode 67
Dae Jang Geum – Episode 68
Dae Jang Geum – Episode 69 & 70
Dae Jang Geum – Episode 71
Dae Jang Geum – Episode 72

ARTI SEBUAH PESTA


Banyak sekali macam macam pesta yang dilaksanakan oleh masyarakat, ada pesta perkawinan, ada pesta khitanan, ada pesta karena keberhasilan, ada juga pesta ulang tahun, baik kelahiran, perkawinan bahkan ada pesta kematian. Dalam sebuah pesta biasanya bertabur kesenangan atau setidak tidaknya banyak yang merasa senang meskipun kadang ada yang menanggung ketidak senangan  atau bahkan penderitaan akibat pesta. Ada kisah menarik yang terjadi dalam sebuah pesta pernikahan yang dilakukan orang kaya disebuah kampung, dalam pesta tersebut menghadirkan artis ternama. Dan si empunya pesta melaksanakan pesta dengan meriah ditempat terbuka dengan pentas panggung untuk artis yang tinggi, sehingga nyanyian artis dapat dilihat untuk masyarakat banyak tanpa dipungut biaya. Begitu meriahnnya pesta dan begitu banyaknya pengunjung yang ingin menyaksikana artis ternama yang menyanyi dan menari dengan seksi dan erotis tersebut, Apalagi dikampung itu tidak pernah ada tontonan. Masyarakat seolah tumplek blek dikebun kebun jagung milik tetangga si empunya pesta hingga sebagian tanaman jagung rusak, karena banyaknya pengunjung, juga ada yanbg rusak akibat ulah anak anak pacaran yang ndusel-ndusel, belum lagi tetangga yang terpaksa semalam suntuk tidak tidur karena telinganya wajib menikmati alunan musik walaupun mungkin dia tidak suka.
Ada juga yang tidak jelas apa tujuannya, yang penting pesta dan bersenang senang meskipun yang menyaksikan muak melihat pesta tersebut atau akibat pesta yang tidak jelas tersebut menimbulkan dampak yang kurang menyenangkan bagi pihak lain. Toh begitulah pesta dimana orang lain juga dipaksa untuk ikut senang dan mensukseskannya. Dan tidak jarang akibat pesta tersebut pemilik pesta menjadi bangkrut atau pailit atau bahkan stress bahkan gila karena habisnya modal untuk berpesta, dalam pesta orang sering terlena dan lupa jika hartanya habis untuk keperluan pesta, sebab pesta begitu meriah, sehingga membuat orang lupa diri, lupa daratan, lupa lautan melayang keangkasa dan tidak jarang berakhir di kepolisian.
Dalam pesta pernikahan biasanya biaya  ditangung bersama oleh calon mempelai putra dan calon mempelai putri, dan biasanya para tamu yang datang memberikan amplop atau bingkisan untuk mempelai atau tuan rumah. Begitu juga dengan pesta ulang tahun yang biasanya juga ada acara tiup balon atau kegiatan goblok lainnya,   biasanya yang datang memberikan bingkisan kepada yang ulang tahun, dan orang yang datang kesebuah pesta pasti berharap ada makanan yang dapat disantap atau setidak tidaknya ada sesuatu yang dapat dibawa pulang diacara pesta tersebut. Jika ada pesta dan ternyata yang mengundang atau yang datang tidak mendapat apa apa bisa dikatakan sebagai pesta hampa. Bahkan diacara kenduri kematianpun seseorang pulang dengan membawa berkat, atau bingkisan makanan. Jika ada acara kenduri namun kuncung kendurinya tidak ada, maka bisa dipastikan undangan akan sangat kecewa dan tidak menutup kemungkinan pada waktu yang akan datang orang akan malas untuk datang.
Kuncung kenduri adalah nasi yang dibuat menyerupai gunung kecil yang biasanya ada dalam sebuah pesta, dimana dibagian bawah kuncung kenduri melebar dan semakin keatas semakin mengecil hingga paling atas hanya ada sebutir nasi yang kekuasaannya paling tinggi dimana sebutir nasi tersebut mendapatkan tempat tertinggi yang diperbolehkan menginjak butiran nasi dibawahnya, dan butiran nasi dibawahnya juga menginjak butiran butiran nasi dibawahnya lagi hingga nasi yang paling bawah dimana dibawahnya tidak ada butiran nasi lagi, maka butiran nasi tersebut hanya menginjak tampah atau ancak.
Ada juga pesta perjudian dimana kombinasi antara pesta dan judi, dikatakan pesta karena sudah disebut sebagai pesta, dan dikatakan judi karena dalam pesta tersebut ada yang kalah atau dikalahkan atau dibuat kalah, meskipun semua kontestan pesta mengharapkan satu kemenangan dengan cara mengalahkan pihak lainnya. Dan pesta perjudian menuntut kontestan melakukan berbagai atraksi bahkan yang paling porno sekalipun atau memberikan amplop, sembako atau lainnya untuk menarik simpati peserta pesta agar memilih dirinya sebagai pemenang, atau kontestan bisa berselingkuh dengan panitia pesta untuk memenangkan dirinya.
Lain lagi dengan pemilu yang juga disebut sebagai pesta demokrasi yang salah satunya adalah Pemilukada untuk memilih pasangan Gubernur/Bupati/Walikota dan Wakil Gubernur/Bupati/Walikota, dimana biaya yang jumlahnya milyaran rupiah ditanggung oleh APBD yang juga bisa disebut uang rakyat. Dalam pemilukada dimana tidak diperbolehkan money politik atau perselingkuhan kontestan dengan KPU dan perangkat pemilukada lainnya, sudah diatur jika ada pasangan yang kurang puas dengan hasil pemilukada yakni melalui jalur hukum.
Sudah dua periode pemilihan Gubernur/Bupati/Walikota dan Wakil Gubernur/Bupati/Walikota dilakukan secara langsung  oleh masyarakat, yang sebelumnya dilakukan melalui perwakilan DPRD yang sudah mendapatkan mandat dari rakyat untuk memilihnya, dan sudah dua periode juga rakyat merasakan bagaimana memilih seorang pimpinan sesuai dengan keinginannya, dan bagaimana pula kontestan melakukan pencitraan agar dipilih oleh rakyat, dan kita ketahui bersama bagaimana hasil akhir dari pemilukada tersebut.

Rombongan politisi

ada rombongan politisi naik Bus, dan kebetulan kecelakaan
Semua penumpang tergeletak, sepetinya sudah meninggal
Olej penduduk semua penumpang dikuburkan
Besoknya ada rombongan teman politisi datang
Tanya kepad a penduduk
"Bagaimana Pak, apa dari penumpang tidak ada yang selamat"
" tidak ada" Jawab Penduduk yang menguburkan rombongan
" Apa diantara mereka tidak ada yang berbicara sebelum meninggal"
eeeeeeee Gini Pak
Sewaktu saya kuburkan, diantara mereka ada yang berbicara
"tolong tolong saya jangan dikubur, saya masih hidup"
Terus gimana Pak? tanya rombongan Politisi
Ya saya kubur saja semuanya, jawab petani
Biasanya Politisi itu menipu pak.

Kasus Keluarga Yang Aneh


POST RONDA
(Tiru-tiru Kang Syafaat)

Kasus Keluarga Yang Aneh

Kasus keluargaku sangat aneh, walaupun secara hukum adalah legal dan sah. Waktu aku berumur 23 tahun, aku menikahi seorang janda cantik berumur 35 tahun. Janda itu memiliki anak yang juga sangat cantik berusia 12 tahun. 5 tahun kemudian, anak tiriku saling jatuh cinta dengan ayahku yang duda, dan tak lama kemudian mereka menikah. Hal ini berarti ayahku sekaligus menjadi menantuku, suatu hal yang membingungkanku¬, sebab anak tiriku sekaligus menjadi ibu tiriku, karena dia menikah dengan ayahku.

Komplikasi ini menjadi semakin parah dan kacau balau, karena aku telah punya seorang anak lelaki dengan istriku yang bekas janda itu. Anakku menjadi saudara dari anak tiriku, berarti dia adalah saudara dari ayahku, ini berarti anakku adalah sekaligus pamanku, suatu hal yang membuatku sedih sekali. Istri ayahku, yang juga anak tiriku, kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Hal ini berarti anak perempuan itu adalah cucuku, karena aku adalah suami dari neneknya. Dan sekaligus saudara perempuanku, karena dia adalah anak dari ayahku.

Istriku adalah ibu dari anak tiriku, yang juga menjadi ibu tiriku, karena dia adalah istri ayahku. Ini berarti, walaupun dia adalah istriku, dia juga sekaligus nenekku, karena dia adalah nenek dari saudara perempuanku. Bila istriku adalah nenekku, berarti aku adalah cucunya. Dan satu hal yang bikin aku gila bila memikirkan hal ini adalah, sebagai suami dari nenekku, berarti aku menjadi KAKEK DARI DIRIKU SENDIRI!!!!…

Copas dari FB TemanKasus Keluarga Yang Aneh

Kasus keluargaku sangat aneh, walaupun secara hukum adalah legal dan sah. Waktu aku berumur 23 tahun, aku menikahi seorang janda cantik berumur 35 tahun. Janda itu memiliki anak yang juga sangat cantik berusia 12 tahun. 5 tahun kemudian, anak tiriku saling jatuh cinta dengan ayahku yang duda, dan tak lama kemudian mereka menikah. Hal ini berarti ayahku sekaligus menjadi menantuku, suatu hal yang membingungkanku¬, sebab anak tiriku sekaligus menjadi ibu tiriku, karena dia menikah dengan ayahku.

Komplikasi ini menjadi semakin parah dan kacau balau, karena aku telah punya seorang anak lelaki dengan istriku yang bekas janda itu. Anakku menjadi saudara dari anak tiriku, berarti dia adalah saudara dari ayahku, ini berarti anakku adalah sekaligus pamanku, suatu hal yang membuatku sedih sekali. Istri ayahku, yang juga anak tiriku, kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Hal ini berarti anak perempuan itu adalah cucuku, karena aku adalah suami dari neneknya. Dan sekaligus saudara perempuanku, karena dia adalah anak dari ayahku.

Istriku adalah ibu dari anak tiriku, yang juga menjadi ibu tiriku, karena dia adalah istri ayahku. Ini berarti, walaupun dia adalah istriku, dia juga sekaligus nenekku, karena dia adalah nenek dari saudara perempuanku. Bila istriku adalah nenekku, berarti aku adalah cucunya. Dan satu hal yang bikin aku gila bila memikirkan hal ini adalah, sebagai suami dari nenekku, berarti aku menjadi KAKEK DARI DIRIKU SENDIRI!!!!…

Copas dari FB Teman

Gratifikasi ; sebuah Cerita.

Post  24

Gratifikasi ; sebuah Cerita.

Dapat inbox dari seorang teman bahwa di Group sebelah ada yang bikin status dengan seri seperti yang saya tuliskan (seperti simkah saja yang berseri). Dan bagi saya itu bukanlah sebuah masalah, apalagi ditulis oleh “anak anak muda” yang sedang mencari “entah apa”, yang sering salah faham dengan apa yang saya sampaikan yang seolah olah saya memusuhi kelompok “mereka’ dimana dulu saya juga sama seperti mereka. Saya yakin jika nantinya mereaka sudah benar benar agak dewasa akan “mengerti benar” dengan  yang saya maksudkan. Dalam satu kantor sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, meskipun dengan kedudukan yang berbeda.
Lain cerita di Facebook, lain pula cerita di “Warung kopi” yang kebetulan pada sebuah malam saya ngopi dipinggir jalan. Kebetulan Si Penjual kopi adalah Tukang foto yang saat saya masih sering menyaksikan pernikahan sering bertemu dengan orang ini. Dan orang ini sering menghubungi saya tentang jadwal pelaksanaan pernikahan dimana dia juga diundang untuk mengabadikan pelaksanaan pernikahan. Rupanya Pak Penghulu dan juru Foto adalah “Orang penting” dalam prosesi pernikahan. Dan saking akrabnya, sering juga acara akad nikah baru saja selesai, Juru Foto baru saja dating. Dan Nggak mungkin Akad nikah diulang gara gara belum di foto, namun kasihan juga jika akan nikah tersebut tidak diabadikan dalam sebuah foto. Dengan menyadari bahwa kita mempunyai “tujuan” yang sama, maka pura pura saja sang manten menanda tangani berkas, dan sang Penghulu berjabat tangan lagi dengan mempelai pria (seperti waktu akad nikah). 
Ternyata si Juru Foto ini mempunyai pada malam hari Usaha Sampingan jualan kopi dan makanan ringan, dan ternyata ramai juga warung kopi ini, apalagi ada fasilitas WIFI dari Kantor Kelurahan secara gratis yang nyampai juga sinyalnya di warung ini, sehingga meskipun warung ini adanya malam hari, karena tempatnya di trotoar, namun nggak kalah ramai dengan yang lain. Dan si Juru foto ini (menurut saya) juga pandai memanfaatkan peluang, bukan hanya warungnya mendapat faslitas wifi gratis, namun juga bekerja “secara kompak” sekeluarga. Sang Istri menggoreng makanan ringan, anaknya yang masih kelas 5 SD juga ikut membantu, meskipun kadang kadang juga sambil baca buku. Dan yang lebih menarik adalah sang pelayan yang juga anak pertamanya yang masih Kepas 10 (1) sekolah disebuah SMA dilingkungan pondok Pesantren.   Mungkin gadis cantik dengan rambut sebahu dengan penampilan menarik (tanpa jilbab) ini yang membuat warung ini (lebih) ramai. Bayangkan ada puluhan anak anak muda ngopi sambil OL gratis disini, denga dilayani anak SMA yang lumayan sedap untuk dipandang.
Lain anak muda lain pula yang dewasa, saya ngalor ngidul membagi cerita dengan siempu penjual kopi yang juga juru foto yang dulu sering bertemu dalam acara akad nikah. Banyak hal yang dibicarakan, dan secangkir kopi hangat yang satu jam nggak habis habis membuat pengobrolan tambah Gayeng, bukan hanya masalah (P)ekerjaan (K)erja (S)ampingan saja yang kita bicarakan. Maklumlah, sekarang memang “banyak” yang kerja sampingan, dan bukan “hanya” si juru foto saja yang boleh kerja sampingan disamping menghadiri ritual akad nikah. (P)ak (K)arto (S)ontoloyo, yang punya jabatan juga boleh “membantu” mencarikan jalan bagi (P)engadaan (K)ebutuhan daging (S)api, sambil “ngelus-2” ayam kampu(s)ng muda yang lagi ngetren.
Lagi enak enaknya kita ngerumpi masalah kerja sampingan, dating “kawan lama” yang juga “mungkin” juga akan ngopi ditempat itu. Dan kitapun semakin “gayeng” untuk terus ngobrol berbagai masalah seputar pekerjaan, sambil sesekali melirik anak sipenjual kopi yang lagi asik melayani para pebeli kopi yang seolah nggak ada surutnya. Saya sih maklum saja dengan keadaan tersebut, memang warung kopi ini “asik” untuk ngobrol kok. (dosa apa nggak ya ngopi disini?).
Obrolanpun ngelantur nggak karuan, maklumlan obrolan diwarung kopi memang tidak dibatasi, sehingga kita bebas ngobrol apa saja, ganti tema apa saja nggak ada larangan. Toh sebenarnya kita dating diwarung kopi ini dengan maksud dan tujuan utama yang sama, yaitu “ngopi” dan menikmati “makanan ringan” yang dihidangkan didepan mata.
Dan ketika obrolan sampai pada masalah pernikahan, kawan lama yang baru dating tersebut terus saja bicara seperti radio yang nggak bisa dihentikan, tidak member kesempatan bagi saya untuk menyela, untuk sekedar memberikan titik maupun koma dari pembiaraannya. Maklumlah baragkali dia barusaja melihat berita di TV tentang gratifikasi pada pelayanan pernikahan yang “dianggap” terlalu mahal tersebut. Bayangkan 1,2 Trilyun dana Pungutan Liar yang diperoleh dari pernikahan. Dan mungkin juga kawan lama tersebut tidak dapat membayangkan berapa uang 1,2 Trilyun tersebut. Lebih mudah membayangkan si penyaji kopi yang ada didepan mata daripada membayangkan uang sebanyak itu yang seumur hidup tidak akan pernah melihatnya.
Kawan lama terus saja berceloteh mengenai hal ini, mengapa harus ada pungungutan liar dalam pelaksanaan pernikahan? Bukankah Penghulu yang PNS itu sudah mendapatkan “gaji yang layak”? bukankah melaksanakan pernikahan dan semua yang berkaitan dengan itu, baik jadi MC, Khutbah nikah, menjadi wakil wali, membaca Doa “sudah menjadi tugasnya”, kalau bukan tugasnya mengapa seorang penghulu harus menguasai kbutbah nikah?, mampu membaca Doa? Dan lain lain? Kalau bukan tugasnya seorang Penghulu juga boleh dijabat oleh seorang perempuan? Toh nanti untuk yang hutbah dan wakil wali  kalau itu kewajiban yang mempunyai hajat bisa mencari orang “yang mampu” untuk melakukannya?
Saya ingin menyela, memberikan tanggapan atas yang disampaikan kawan lama saya ini, namun kawan lama saya ini seperti “mendapatkan baterai baru” dari secangkir kopi yang disuguhkan anak si Juru Foto yang lumayan bagus bodynya, dan terpaksalah saya hanya diam sambil sesekali menikmati secangkir kopi yang semakin lama “semakin pahit”.   
Kawan lama terus saja berceloteh masalah transport pak penghulu seolah olah dia sangat faham semuanya. “bukankah kalau seorang PNS menjalankan tugas diluar kantor sudah dibekali dengan SPPD yag sudah ada anggarannya yang sudah diatur oleh undang undang? Mengapa harus meminta uang Bensin hingga Rp 500.000,- ? untuk apa beli bentin hingga rp 500.000,-?”
Saya ingin komentar. Sebetulnya saya ingin enjalaskan masalah tesebut, atau setidak tidaknya saya ingin bertanya kepada kawan ama saya ini apakah SPPD itu? Sebab sayapun nggak begitu faham dengan mekanisme SPPD dan keuangan dari SPPD dimaksud, dan untuk agar saya nggak kelihatan gugup, saya mencoba minum kopi dalam gelas yang ternyata sudah habis tak tersisa. Kawan lama saya terus saja berceloteh.
Apabila pelaksanaan pernikahan dilakukan di hari libur, diluar jam kerja. Bukankan bagi PNS yang melaksanakan pekerjaan diluar jam kerja dan dihari libur bisa mendapatkan “uang lembur” yang mekanismenya diatur dalam peraturan perundang undangan?, mengapa harus “minta lagi” kepada yang punya rumah dengan dalih sebgai “jasa pelayanan”, “Transport lembur” dan lain lain? Ini adalah GRATIFIKASI, Dengan dalih bahwa tuan rumah rela dan puas dengan layanan yang diberikan? Bukankah ini adalah antarodin yang dipaksakan?
Sekali lagi saya ingin menyela celoteh kawan lama saya ini. Saya ingin menjelaskan permasalahannya, saya ingin ngopi dulu, dan tidak mungkin saya minum kopi pada gelas yang sudah kosong.Post 24

Gratifikasi ; sebuah Cerita.

Dapat inbox dari seorang teman bahwa di Group sebelah ada yang bikin status dengan seri seperti yang saya tuliskan (seperti simkah saja yang berseri). Dan bagi saya itu bukanlah sebuah masalah, apalagi ditulis oleh “anak anak muda” yang sedang mencari “entah apa”, yang sering salah faham dengan apa yang saya sampaikan yang seolah olah saya memusuhi kelompok “mereka’ dimana dulu saya juga sama seperti mereka. Saya yakin jika nantinya mereaka sudah benar benar agak dewasa akan “mengerti benar” dengan yang saya maksudkan. Dalam satu kantor sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, meskipun dengan kedudukan yang berbeda.
Lain cerita di Facebook, lain pula cerita di “Warung kopi” yang kebetulan pada sebuah malam saya ngopi dipinggir jalan. Kebetulan Si Penjual kopi adalah Tukang foto yang saat saya masih sering menyaksikan pernikahan sering bertemu dengan orang ini. Dan orang ini sering menghubungi saya tentang jadwal pelaksanaan pernikahan dimana dia juga diundang untuk mengabadikan pelaksanaan pernikahan. Rupanya Pak Penghulu dan juru Foto adalah “Orang penting” dalam prosesi pernikahan. Dan saking akrabnya, sering juga acara akad nikah baru saja selesai, Juru Foto baru saja dating. Dan Nggak mungkin Akad nikah diulang gara gara belum di foto, namun kasihan juga jika akan nikah tersebut tidak diabadikan dalam sebuah foto. Dengan menyadari bahwa kita mempunyai “tujuan” yang sama, maka pura pura saja sang manten menanda tangani berkas, dan sang Penghulu berjabat tangan lagi dengan mempelai pria (seperti waktu akad nikah).
Ternyata si Juru Foto ini mempunyai pada malam hari Usaha Sampingan jualan kopi dan makanan ringan, dan ternyata ramai juga warung kopi ini, apalagi ada fasilitas WIFI dari Kantor Kelurahan secara gratis yang nyampai juga sinyalnya di warung ini, sehingga meskipun warung ini adanya malam hari, karena tempatnya di trotoar, namun nggak kalah ramai dengan yang lain. Dan si Juru foto ini (menurut saya) juga pandai memanfaatkan peluang, bukan hanya warungnya mendapat faslitas wifi gratis, namun juga bekerja “secara kompak” sekeluarga. Sang Istri menggoreng makanan ringan, anaknya yang masih kelas 5 SD juga ikut membantu, meskipun kadang kadang juga sambil baca buku. Dan yang lebih menarik adalah sang pelayan yang juga anak pertamanya yang masih Kepas 10 (1) sekolah disebuah SMA dilingkungan pondok Pesantren. Mungkin gadis cantik dengan rambut sebahu dengan penampilan menarik (tanpa jilbab) ini yang membuat warung ini (lebih) ramai. Bayangkan ada puluhan anak anak muda ngopi sambil OL gratis disini, denga dilayani anak SMA yang lumayan sedap untuk dipandang.
Lain anak muda lain pula yang dewasa, saya ngalor ngidul membagi cerita dengan siempu penjual kopi yang juga juru foto yang dulu sering bertemu dalam acara akad nikah. Banyak hal yang dibicarakan, dan secangkir kopi hangat yang satu jam nggak habis habis membuat pengobrolan tambah Gayeng, bukan hanya masalah (P)ekerjaan (K)erja (S)ampingan saja yang kita bicarakan. Maklumlah, sekarang memang “banyak” yang kerja sampingan, dan bukan “hanya” si juru foto saja yang boleh kerja sampingan disamping menghadiri ritual akad nikah. (P)ak (K)arto (S)ontoloyo, yang punya jabatan juga boleh “membantu” mencarikan jalan bagi (P)engadaan (K)ebutuhan daging (S)api, sambil “ngelus-2” ayam kampu(s)ng muda yang lagi ngetren.
Lagi enak enaknya kita ngerumpi masalah kerja sampingan, dating “kawan lama” yang juga “mungkin” juga akan ngopi ditempat itu. Dan kitapun semakin “gayeng” untuk terus ngobrol berbagai masalah seputar pekerjaan, sambil sesekali melirik anak sipenjual kopi yang lagi asik melayani para pebeli kopi yang seolah nggak ada surutnya. Saya sih maklum saja dengan keadaan tersebut, memang warung kopi ini “asik” untuk ngobrol kok. (dosa apa nggak ya ngopi disini?).
Obrolanpun ngelantur nggak karuan, maklumlan obrolan diwarung kopi memang tidak dibatasi, sehingga kita bebas ngobrol apa saja, ganti tema apa saja nggak ada larangan. Toh sebenarnya kita dating diwarung kopi ini dengan maksud dan tujuan utama yang sama, yaitu “ngopi” dan menikmati “makanan ringan” yang dihidangkan didepan mata.
Dan ketika obrolan sampai pada masalah pernikahan, kawan lama yang baru dating tersebut terus saja bicara seperti radio yang nggak bisa dihentikan, tidak member kesempatan bagi saya untuk menyela, untuk sekedar memberikan titik maupun koma dari pembiaraannya. Maklumlah baragkali dia barusaja melihat berita di TV tentang gratifikasi pada pelayanan pernikahan yang “dianggap” terlalu mahal tersebut. Bayangkan 1,2 Trilyun dana Pungutan Liar yang diperoleh dari pernikahan. Dan mungkin juga kawan lama tersebut tidak dapat membayangkan berapa uang 1,2 Trilyun tersebut. Lebih mudah membayangkan si penyaji kopi yang ada didepan mata daripada membayangkan uang sebanyak itu yang seumur hidup tidak akan pernah melihatnya.
Kawan lama terus saja berceloteh mengenai hal ini, mengapa harus ada pungungutan liar dalam pelaksanaan pernikahan? Bukankah Penghulu yang PNS itu sudah mendapatkan “gaji yang layak”? bukankah melaksanakan pernikahan dan semua yang berkaitan dengan itu, baik jadi MC, Khutbah nikah, menjadi wakil wali, membaca Doa “sudah menjadi tugasnya”, kalau bukan tugasnya mengapa seorang penghulu harus menguasai kbutbah nikah?, mampu membaca Doa? Dan lain lain? Kalau bukan tugasnya seorang Penghulu juga boleh dijabat oleh seorang perempuan? Toh nanti untuk yang hutbah dan wakil wali kalau itu kewajiban yang mempunyai hajat bisa mencari orang “yang mampu” untuk melakukannya?
Saya ingin menyela, memberikan tanggapan atas yang disampaikan kawan lama saya ini, namun kawan lama saya ini seperti “mendapatkan baterai baru” dari secangkir kopi yang disuguhkan anak si Juru Foto yang lumayan bagus bodynya, dan terpaksalah saya hanya diam sambil sesekali menikmati secangkir kopi yang semakin lama “semakin pahit”.
Kawan lama terus saja berceloteh masalah transport pak penghulu seolah olah dia sangat faham semuanya. “bukankah kalau seorang PNS menjalankan tugas diluar kantor sudah dibekali dengan SPPD yag sudah ada anggarannya yang sudah diatur oleh undang undang? Mengapa harus meminta uang Bensin hingga Rp 500.000,- ? untuk apa beli bentin hingga rp 500.000,-?”
Saya ingin komentar. Sebetulnya saya ingin enjalaskan masalah tesebut, atau setidak tidaknya saya ingin bertanya kepada kawan ama saya ini apakah SPPD itu? Sebab sayapun nggak begitu faham dengan mekanisme SPPD dan keuangan dari SPPD dimaksud, dan untuk agar saya nggak kelihatan gugup, saya mencoba minum kopi dalam gelas yang ternyata sudah habis tak tersisa. Kawan lama saya terus saja berceloteh.
Apabila pelaksanaan pernikahan dilakukan di hari libur, diluar jam kerja. Bukankan bagi PNS yang melaksanakan pekerjaan diluar jam kerja dan dihari libur bisa mendapatkan “uang lembur” yang mekanismenya diatur dalam peraturan perundang undangan?, mengapa harus “minta lagi” kepada yang punya rumah dengan dalih sebgai “jasa pelayanan”, “Transport lembur” dan lain lain? Ini adalah GRATIFIKASI, Dengan dalih bahwa tuan rumah rela dan puas dengan layanan yang diberikan? Bukankah ini adalah antarodin yang dipaksakan?
Sekali lagi saya ingin menyela celoteh kawan lama saya ini. Saya ingin menjelaskan permasalahannya, saya ingin ngopi dulu, dan tidak mungkin saya minum kopi pada gelas yang sudah kosong.
 
Support : Copyright © 2013. Blog Syafa'at - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger