
Ia masih manja kepada ayahnya, meskipun kini sudah kelas dua SMA—dan saya sengaja menyebutnya kelas dua SMA, bukan kelas sebelas. Entah mengapa, penyebutan itu terasa lebih manusiawi, lebih dekat ke rumah, lebih hangat daripada angka Romawi yang dingin dan resmi. Barangkali karena di benak saya, ia masih anak kecil yang dulu saya gendong dengan satu tangan, sementara tangan lain sibuk mengusir nyamuk yang berani mendekat.
Melihat anak kedua saya menginjak usia remaja, barulah saya benar-benar merasa bahwa waktu telah berjalan tanpa permisi. Bahwa usia ini, usia saya, tak lagi bisa disebut muda. Semangat memang kadang masih melonjak seperti dulu—berisik, nekat, dan ingin menantang pagi—tetapi tubuh tak lagi sepenuhnya patuh. Rambut putih tumbuh satu demi satu, tanpa bisa dicegah, seperti doa yang dijawab setengah-setengah. Mata pun mulai berkhianat; huruf-huruf kecil menari menjauh, memaksa saya berdamai dengan kacamata, seolah dunia ingin berkata: pelan-pelanlah, engkau tak lagi berlari sendirian.
Usianya baru lima belas tahun. Wajar jika masih manja. Apalagi ia anak kedua, belum memiliki adik, atau mungkin memang tak akan pernah memilikinya. Karena itu, di mata saya ia sering masih seperti anak-anak. Dan seperti remaja kebanyakan, ia kadang protes ketika saya memeluk terlalu lama atau melarang terlalu banyak.
“Aku wes SMA lo, yah?” katanya suatu hari, dengan nada setengah mengeluh, setengah meminta dimengerti.
Kalimat itu membuat saya tersenyum—dan diam-diam terluka. Sebab di balik pengakuannya sebagai siswa SMA, saya masih melihat bayi kecil yang dulu menangis lirih di tengah malam, mencari bau tubuh ayahnya.
Dulu saya ingin ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah, agar jejak pendidikannya lurus dari MI ke MTs, lalu MA. Sebuah kesinambungan yang rapi, seperti jalan desa yang tak banyak belokan. Tapi saya menyerah dengan pasrah ketika ia memilih SMA. Bukan karena kalah argumen, melainkan karena janji. Saya pernah berjanji pada diri sendiri: sampai SLTP, ayah yang menentukan; setelah itu, engkau bebas memilih jalanmu sendiri—ke sekolah mana, ke universitas mana, bahkan ke hidup yang seperti apa.
Ia memilih SMA negeri tertua di kabupaten kami. Sekolah tua dengan pohon-pohon besar dan kenangan panjang. Di sana, beberapa alumninya menjadi orang besar—bahkan menteri. Kakaknya juga bersekolah di sana. Barangkali ia ingin mengikuti jejak, atau mungkin sekadar ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di tempat yang sama, dengan caranya sendiri.
Saya ingin memberinya yang terbaik. Kata orang, anak adalah “majikan” orang tua. Saya tak sepenuhnya setuju. Bagi saya, anak perempuan bukan majikan—ia adalah amanah. Ananah yang dititipkan, bukan untuk dimanjakan berlebihan, tapi untuk dijaga, dirawat, dan kelak dilepaskan dengan doa yang panjang.
Saya ingat betul masa-masa awal itu. Tiga hari setelah ia lahir dan dibawa pulang dari rumah sakit, sayalah yang memandikannya. Bayi mungil dengan kulit merah muda dan tangisan yang masih rapuh oleh dunia. Saya memandikannya setiap hari—hingga ia bisa mandi sendiri. Saya menikmati betul masa itu. Masa di mana kantuk adalah teman, dan kewaspadaan menjadi ibadah. Malam-malam panjang saya lalui tanpa benar-benar memejamkan mata, berjaga dari gigitan nyamuk, dari suara yang terlalu keras, dari apa pun yang terasa mengancam.
Itu masa yang tak tergantikan. Masa di mana jarak antara ayah dan anak begitu dekat, bahkan napas pun seirama. Kini ia tumbuh remaja, tinggi badannya hampir menyamai ibunya, suaranya mulai berubah, dan dunianya kian luas. Tapi setiap kali saya ceritakan bagaimana dulu saya memandikannya, bagaimana ia tertidur di lengan saya, bagaimana ia tak pernah saya mandikan oleh orang lain—ia selalu tersenyum.
No comments:
Post a Comment