Selamat Datang Pada BLOG SYAFA'AT semoga bermanfaat

Monitoring Pemberian TTD Pada Madrasah

Bersama dengan lembaga Swadaya Masyarakat Nutrition International, Fasilitator pendamping Kabupaten Banyuwangi untuk pencegahan anemia bagi remaja di se4kolah melaksanakan monitoring terhadap penggunaan Tablet Tambah Darah (TTD) mada Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan yang ada di Kabupaten Banyuwangi.
Seperti yang dilaksanakan pada Madrasah Aliyah Kebunrejo Kecamatan Genteng, Rabu (13/2), pada Madrasah Aliyah dilingkungan Pondok Pesantren Bustanul makmur ini beberapa tahun terahir telah dilaksanakan pemberian TTD bagi Remaja Putri, hal ini juga disinkronkan dengan kegiatan poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) dimana sepekan sekali ada petugas dari Puskesmas yang datang ke pondok Pesantren tersebut.
“Hal yang terlihat mencolok setelah minum TTD ini, siswi yang mengantuk menjadi berkurang” ungkapnya.
Sementara itu salah satu fasilitator Pendamping yang juga Analis data dan Informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan  pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyampaikan bahwa kedepan dalam penyuluhan yang dilakukan pada Madrasah, disamping dilakukan oleh Puskesmas, juga akan melibatkan Penyuluh Agama yang ada di setiap Kecamatan.
Sementara itu Perwakilan Nutrituion International yang mewilayani Provinsi Jawa Timur Ari Saadah Az Zahro menyampaikan bahwa pihaknya sebagai akan terus mensuport kegiatan untuk peningkatan SDM tersebut, terlebih bagi remaja Putri yang nantinya akan menjadi seorang ibu harus mempunyai badan yang sehat agar dapat menjalankan kewajibannya dan dapat melahirkan generasi yang lebih sehat.
Dalam Monitoring tersebut disamping melihat perkembangan pemberian TTD bagi siswi, juga diskusi kepada para siswi dan siswa untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan mereka terhadap Anemia, gejala dan pencegahannya. Tim Fasilitator juga memberikan bingkisan berupa alat ukur tinggi dan berat badan yang dapat digunakan bagi seluruh siswa

Cegah Anemia Pelajar Putri dengan TTD


Beberapa hari yang lalu saya bersama Team Fasilitator Kabupaten mengunjungi beberapa sekolah dan Madrasah terkait pelaksanaan minum Tablet Tambah Darah (TTD) pada Remaja putri yang seharusnya dillakukan seminggu sekali. Ada yang menarik dengan kegiatan tersebut, dimana sekolah dan Madrasah beragam dalam program yang dicanangkan pemerintah sebagai upaya untuk peningkatan sumber daya manusia tersebut.
Saya tertarik dengan paparan Kepala Madrasah Aliyah dilingkungan Pondok Pesantren ketika kami melakukan wawancara dengan beliaunya, dimana menurutnya setelah ada Program minum TTD tiap sepekan sekali pada siswinya yang sebagian besar menupakan santriwati yang muki di pokdok pesantren tersebut berkurang siswi yang ngantuk dalam kelas.
Sekilas mungkin TTD ini nggak ada pengaruhnya terhadap tumbuh kembang Remaja, terlebih jika Remaja tersebut mempunyai asupan gizi dan istirahat yang cukup, namun hal ini sangat terasa jika kita membandingkan Remaja yang minum TTD dengan yang tidak dalam kondisi tertentu dimana meraka kurang istirahat, atau asupan gizi yang kurang seimbang, “Toh dulu nggak ada TTD juga nggak ada masalah”, mungkin seperti itu pemikiran yang tidak mau memberikan TTD kepada siswanya, terlebih kegiatan ini dianggap “membebani” mereka karena adanya tugas menyalurkan TTD tersebut. Hal ini kami ketahui ketika kami berada pada sebuah sekolah dengan siswa yang lumayan banyak, tetapi ketika kami cek stok TTD yang ada di sekolah tersebut masih lumayan banyak. Terlebih ketika kami survey secara acak, para siswi belum diberi TTD oleh penanggung jawab di sekolah.
Sepintas memang kurang ada manfaatnya pemberian TTD tersebut, dan banyak yang tidak memahami mengapa harus ada pemberian TTD terhadap Remaja Putri, dan hal ini membuat kecemburuan beberapa siswa dimana para siswa tidak diberi TTD, padahal mereka juga bisa ngantuk ketika berada dalam kelas.”kami juga mengeluarkan “darah” tiap minggu” selorohnya. Saya tidak menanggapi ocehan khas Remaja tersebut, karena “hanya laki laki” yang mengerti gurauan anak Remaja tersebut.
Beberapa Remaja yang menjadi Responden rata rata tidak mengetahui masalah Anemia, terlebih pencegahannya terhadap Remaja Putri. Dan yang lebih memilukan adalah adanya Remaja Purtri kelas XII yang tidak mengetahui masalah anemia, pencegahan dan manfaatnya. Padahal mereka telah mengikuti sosialisasi tentang pencegahan anemia, mereka juga ingin kuliah di Kesehatan Masyarakat, tetapi mereka tidak ingin tahu masalah anemia. Dan saya berharap tidak banyak Remaja Putri yang seperti ini.
Sudah menjadi kodrati bagi seorang perempuan untuk tumbuh dan berkembang yang pada kondisi normal akan menjadi Ibu bagi anak anaknya, dimana kesehatan dan kecerdasan seorang anak sangat tergantung terhadap kesehatan dan kesiapan seorang perempuan menjadi seorang Ibu, dimana untuk menyiapkan dengan sungguh sungguh seorang perempuan menjadi seorang Ibu yang kuat, sehat dan tangguh ini tidak dapat dilakukan secara serta merta, ibarat menyiapkan lahan untuk siap ditanami, harus melakui proses panjang sehingga “lahan” tersebut mempunyai “unsur hara” yang cukup untuk benih yang akan ditanam, dimana akan tumbuh bibit unggul dari lahan yang disemai dengan kasih sayang.
Saya bukan pengagung syair cinta yang pandai merayu wanita, bukan pula dalam team kami ada peremouan cantik yang masih melajang, namun pengalaman dari berbagai su8mber terpercaya yang membuat saya sedikit mengerti tentang apa yang dibutuhkannya. Saya mempunyai anak perempuan yang juga sudah menginjak remaja, yang tentu saja Ibunya juga seorang perempuann, karenanya sedikit banyak saya memahaminya. Bahkan saya memahami kenapa di Mal mal Celana dalam wanita dipampang dengan jelas dengan berbagai bentuk yang indah, dan tidak demikian dengan milik laki laki, bahkan “perangkat” milik laki laki tersebut ada yang satu kotak berisi 3.  Padahal kita tahu bahwa celana dalam tersebut tidak akan ditunjukkan kepada khalayak ketika dipakai, namun mengapa pakaian dalam tersebut harus di disain dengan nyaman dan indah, hal ini terkait dengan kebiasaan seorang perempuan dimana jika membeli sesuatu barang, akan dipilah pilih sesuai dengan selera meraka, bahkan seringkali niat membeli sesuati dari rumah akan berbeda dengan fakta yang dibelinya, dan ha ini berbeda dengan laki laki.
Saya bisa memahami, mengapa celana dalam sebaiknya di setrika, terlebih milik wanita, dan saya tidak yakin bahwa alasanya biar kalau dipakai akan indah untuk dilihat, karena di Indonesia sangat tabu untuk hanya memakai celana dalam diluar ruangan. Menjaga kesehatan dari kuman swangat penting artinya bagi masa depaan, dan itulah alasan yang logis dalam masalah ini.
Perempuan ditakdirkan jadi Ibu yang akan melahirkan generasi penelus, “ummi Madrasatul Ula’ dimana seorang bayi akan mendapatkan tempat untuk mendapatkan pengetahuan awal dari ibu kandungnya. Dan hal inilah yang yang menjadikan rujukan utama untuk melakukan gerakan pemberian TTD bagi Remaja Putri, terlebih pada masa sekolah agar mereka nantinya benar benar siap untuk mengemban tugas mulia sebagai Ibu dari anak anaknya.




Bekerja Dengan Data On Line


Data On Line

Perkembangan tehnologi sebuah keniscayaan yang harus diikuti oleh aparatur sipil negara untuk memudahkan komunikasi dan pengiriman data. Karenanya dengan perkembangan tehnologi tersebut memungkinkan sebuat data dapat diakses secara bersama sama oleh beberapa admind maupun multi user. Hal ini yang kadang kadang tidak di mengerti oleh beberapa ASN, sehingga hal hal lucu sering dilakukan ketika diminta untuk pengisian data on line tersebut. Masih mending jika ada yang mengunduh Spreadsheet, mengisinya dan mengirimkan melalui WA, atau ada yang mengirimkan melalui Flashdisk ke kantor. Padahal fasilitas Speadsheet tersebut merupakan media Excel online dimana cukup dengan merupah data tanpa harus mengunduh dan mengirimkan kembali.
Kami sering menggunakan fasilitas ini untuk memudahkan bekerja, dimana dengan aplikasi ini memungkinkan kami untuk bekerja secara bersama sama dalam satu file yang sama dimana file tersebut dapat kami kerjakan dengan komputer yang berbeda, ditempat yang berbeda. Fasilitas yang diberikan Gmail tersebut sangat bermanfaat untuk mempeercepat layanan dan pengolahan data, meski dengan adanya layanan tersebut kadang kami harus menghabiskan banyak paket data ketika kami mengerjakan pekerjaan tersebut tidak didalam kantor.
Ada dua aplikasi dari Gmail yang sering kami gunakan untuk mengumpulan data ini, disamping Sreadsheed dalam bentuk data, juga Google Formulir yang juga sering digunakan para pendidik untuk membuat soal soal online, dimana Google Formulir ini juga dapat diakses melalui HP pintar, dan hasil dari Google formulir ini juga akan masuk ke Gmail user dalam bentuk SreadSheet, dimana kami juga berbagi data dengan sesama rekan kantor untuk mengolah data dari hasil google formulir ini.
Untuk membuat dan membagikan data online ini sangat mudah dan murah, karena kita hanya butuh Gmail untuk membuatnya, dimana dari gmail ini bukan hanya data yang dapat kita gunakan, namun Google Drive dimana kita juga dapat menyimpan dokumen, foto dan Nomor kontak HP, sehingga jika kita berganti HP serta ganti nomor HP, kita masih bisa mengakses nomor nomor HP yang kita simpan kedalam google drive. Gmail ini juga menjadi salah satu pintu untuk mengunggah Youtube dimana kita dapat mengunggah video yang kita buat agar video kita dapat diakses dimanapun juga sepanjang ada Hotsspot atau wifi. Kita juga denhgan mudah dapat membuat blog pribadi dengan menggunakan Gmail ini.
Tentu saja yang paling penting adalah kita harus mempunyai Gmail. Dan bagi yang tidak mempunyai Gmail. Dapat membelinya kepada kami, baik yang orisinil maupun yang second.

Sosialisasi Si-EKA Guru Pada MTsN di Banyuwangi

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Slamet membuka kegiatan Sosialisasi Sistim Informasi Elektonik Kinerja Kementerian Agama (Si-EKA) bagi Guru dan tenaga administrasi pada Madrasah Tsanawiyah Negeri se Kabupaten Banyuwangi, Senin (28/1) kemarin.
Kegiatan yang diselenggarakan di aula MTsN 3 Banyuwangi tersebut juga dihadiri Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Zaenal Abidin dan Ketua Kelompok Kerja Pengawas Agus Santoso. Sementara itu sebagai Narasumber inti dalam kegiatan tersebut dari Urusan Kepegawaian Kemenag Kabupaten Banyuwangi.
Ketua Forum KKM pada MTs Kabupaten Banyuwangi Hadi Suwito menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakann agar guru benar benar memahami cara pemakaian SI –EKA.
“Dengan kegiatan ini diharapkan Guru lebih memahami pemakaian SI-EKA,” ungkapnya.
Sementara Itu Aulia Cahyo Syahrain secara detail menjelaskan penggunaan SI-EKA, menurutnya penggunaan SI-EKA ini tidak jauh berbeda dengan E-Kinerja (Aplikasi dari kemenag Kab. Banyuwangi), hanya saja kata dia, SI-EKA ini lebih cakupannya lebih luas, karenanya bagi yang sudah menjalankan SI-EKA, tidak akan sulit ketika berpindah ke SI-EKA

Sertifikasi Menentukan Kelayakan Guru Sebagai Agen Pembelajaran

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak. Demikian kata Slamet, Kepala Kemenag Banyuwangi saat menyampaikan materi Manajemen Sertifikasi Guru Pendidikan Agama Islam di Aula Kemenag, (28/8)
“Sertifikasi guru Menentukan kelayakan guru sebagai agen pembelajaran dalam meningkatkan proses dan mutu pendidikan,” terangnya.
Prinsip pelaksanaan sertifikasi guru, lanjutnya, dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Dimana semua itu berujung pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru dan kesejahteraannya. Yang harus diperhatikan kata Slamet, dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, dilaksanakan secara terencana dan sistematis, dan menghargai pengalaman kerja guru.
Diakhir paparannya dirinya menambahkan, bahwa manfaat sertifikasi semata-mata untuk melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang merugikan citra profesi guru. Selain itu, untuk melindungi masyarakat dari praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional.

MI Miftahul Muna Siliragung Banyuwangi Siap komunikasi dengan Bahasa Inggris


Dibawah asuhan 10 Orang ustadhah Bahasa Inggris dari kampung Inggris Pare kediri, Siswa Madrasah Ibtidaiyah miftahul Muna Desa Kesilir Kecamatan siliragung mengikuti kegiatan pembelajaran bahawa Inggris tingkat dasar selama lebih kurang satu bulan dimulai sabtu (26/1)
Kepala madrasah Ibtidaiyah Miftahul Muna Suparno menyampaikan bahwa lembaganya bekerja sama dengan Happy English Course (HEC) Pare Kediri Jawa Timut untuk pembelajaran bahasa Inggris, dimana pembelajaran ini dilakukan di Mi Miftahul Muna, sehinggan tidak meninggalkan materi pelajaran.
Dalam kegiatan ini siswa Madrasah diajak langsung mempraktekkan bahasa Ingris, baik dengan Pengasuh mauopun sesama siswam “ Pembelajaran dilakukan di Madrasah kita, dan tidak perlu meninggalkan pelajaran” Ungkapnya. Lebih lanjut Guru DPK dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini menyampaikan bahwa disamping Ustadzah dari HEC tersebut dirinya juga menghadirkan Kelly Kennedy yang kebetulan nginap dirumahnya dalam tugasnya sebagai Relawan Peace Corp pada MAN 4 Banyuwangi di Siliragung.
Lebih lanjut Suparno menyampaikan bahwa dengan kegiatan ini diharapkan akan lebih mudah bagi siswa untuk mepelajari bahasa Inggris “Perkembangan wisatra di Kabupaten Banyuwangi yang semakin pesat, terutama wisatawan asing harus diimbangi dengan kesiapan warga dalam berkomunikasi dengan bahasa ingggris” ungkapnya. tidak berlebihan jika dijuluki Madrasah Hebat Bermartabat

Kampung Inggris di MI Al Falah Bangorejo Banyuwangi


Bekerjasama dengan Happy English Course (HEC) Pare Kediri Jawa Timur, Madrasahj Ibtidaiyah Al Falah Dusun Kedungrejo Desa Sambimulyo Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi mengadakan kegiatan Excelent School English dengan program Reading And Speaking English bagi siswa.
Kegiatan yang diikuti siswa MI Al Falah tersebut dilakukan selama satu bulan dari tanggal 24 Januari s/d 24 Pebruari 2019. Kepala Mi Al Falah Siti Farohah menyampaikan bahwa dengan kegiatan yang dilakukan selama satu bulan diluar materi pelajaran tersebut diharapkan siswa mampu berkomunikasi dengan benar dan lancar dengan menggunakan Bahasa Inggris. “Dari pengalaman sebeloumnya, dalam waktu satu bulan tersebut siswa sudah lancar dan berani berkomunikasi dengan bahasa Inggris” ungkapnya
Lebih lanjut Siti Farohah mrnyampaikan bahwa siswanya mengikuti program Pre CTC, merupakan kelas persiapan selama satu bulan untuk siswa yang mengikuti program CTC. Dikelas ini siswa dibekali kemampuan dasar dalam penguasaan bahasa Inggris, sehingga siswa memiliki kesiapan dalam menerima materi selanjutnya

Dalam kegiatan yang dilakukan diluar pelajaran tersebut siswa langsung diajarkan preaktek penggunaann Bahasa Inggris, sehingga benar benar mengena dan lebih cepat diserap. Dengan program ini Siti Farohah berharap siswanya benar benar menjadi siswa Madrasah Hebat bermartabat.

Patung Gandrung Terakota Banyuwangi

Ketika saya dan beberapa rekan berkunjung ketempat tersebut, tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak terlalu sulit untuk sampai lokasi gandrung terakota, meski berada ditengah perkebunan dengan jalan paving blok searah yang hanya dapat dilewati satu kendaraan roda empat. Ada suasana magis ketika berada ditempat tersebut, kita seakan dibawa pada suasana tempo dulu dimana gandrung mulai ada.
Saya menyempatkan diri untuk mampir ketempat tersebut, meskipun tidak dapat terlalu lama, setidaknya dapat membunuh rasa penasaran tentang keberadaan tempat tersebut, dimana sebelumnya saya hanya mendengar saja mengenai adanya ratusan patung gandrung terbuat dari tanah liat yang berada ditengah perkebunan di Kecamatan Licin tersebut. Tidak seperti Patung Terakota di China peninggalan zaman kekisaran, Patung gandrung di Kabupaten Banyuwangi ini baru ada beberapa bulan ini, artinya pembuatan patung gandrung tersebut dikerrjakan dengan tehnologi kekinian.
Meskipun patung tersebut relatif baru, namun suasana magis terasa ketika kita berada ditempat tersebut. Ratusan patung menghadap kesawah dimana beberapa Killing (baling baling besar) dengan suara menderu ketika tertimpa angin berada didepannya.Kita juga dapat menikmati kopi dari perkebunan tersebut, menikmati tari gandrung yang tiap malam digelar untuk para pengunjung.
Gandrung sebagai salah satu kesenian yang ada di Kabupaten Banyuwangi telah melegenda di seluruh dunia, tidak heran jika beberapa perguruan tinggi diluar Kabupaten Banyuwangi menggelar pertunjukan tersebut dengan menampilkan ratusan penari. Bahkan Mahasiswa Mancanegarapun banyak yang belajar tarian khas dimana dulunya dilakukan oleh laki-laki.
Tarian gandrung dulunya merupakan salah satu sarana media informasi dan komunikasi dalam perjuangan merebut kemerdekaan, karenanya gandrung ketika itu dilakukan oleh laki laki dengan berpakaian perempuan. Hal ini dilakukan dengan mengingat sangat riskan bagi perempuan ketika itu jika harus melakukan seni tari ditengah ancaman dari penjajah.
Pelestarian tari gandrung dalam bentuk pertunjukan kolosal sedperti Gandrung sewu dimana pertunjukan dengan menampilkan lebih dari seribu gandrung tersebut sebagai salah satu wahana untuk menyatukan dan mempererat jalinan antar lembaga pendidikan, dimana dalam kegiatan gandrung sewu tersebut diikuti oleh semua lembaga pendidikan, baik sekolah maupun madrasah. Perbedaan terhadap busana yang dikenakan (dari Madrasah menutup seluruh aurat) tidak mengurangi kekompakan dalam membentuk tarian kolosal tersebut.
Keberaddaan Tarian gandrung sewu, ratusan patuing gandrung mirip terakota serta beberapa patung gandrung lainnya merupakan salah satu ikon budaya, dimana budaya tersebut menyatukan daerah yang dihuni beberapa etnik ini. Rasa memiliki budaya semakin yang semakin kental ini bukan sekedar dapat menambah selera wisata, namun lebuh kepada perasaan untuk memajukan daerah secara bersama sama, rasa memiliki dengan menepis pertbedaan etnik asli dan etnik pendatang, dimana pada masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dulu juga dilakukan semua suku.
Seperti patung gandrung terakota (biar mudah menyebutnya), dimana ratusan patung gandrung tersebut bukan hanya berjajar dipimnggir sawah, tetapi ada beberapa patung yang ditempatkan ditengah sawah ini juga sebuah perlambang terhadap emansipasi perempuan dalam berkarya dan membangun bangsa, meskipunsdebenarnya saya tidak begitu faham mengapa harus ada patung yang ditempatkan ditengah sawah tersebut. Atau untuk apa para petani memasang killing ditengah sawah dengan suara menderu. Atau mengapa saya terbawa suasana masalalu ketika berada ditengah tengah ratusan patung tersebut.

Learning To Life Together in Aston Hotel

Ada yang menarik dari yang disampaikan Juhdy, dalam kegiatan yang kami laksanakan di Seblang Room hotel Aston hari ini. Pengawas Madrasah tersebut mengupas masalah kebersamaan dalam sebuah Tim Kerja. Terlebih ketika beliau dengan Logat khas Osing menyampaikan hal ini dengan bahasa Inggris “Learning To Life Together”.
Sebuah tim dianggap sukses bukan hanya hasil ahir yang dilakukan oleh tim tersebut, tetapi proses yang baik dari sebuah kegiatanlah yang menjadi kunci sebuah kegiatan menjadi sukses. Kesuksesan sebuah Tim bukan hanya ditentukan Leadership seorang Pimpinan, namun kekompakan tim dalam saling mengisi kekurangan dimasing masing seksi atau bidang dengan pemahaman bersama bahwa kegiatan tersebut merupakan satu kepentingan bersama yang akan membuat sebuah kegiatan akan terlaksana.
Kunci sebuah kesuksesan adalah kebersamaan dalam pembelajaran. dimana setiap orang dapat saling mengisi, karena pengalaman, pemahaman dan daya pengetahuan yang berbeda akan membuat pemikiran baru sebagai pengembangan Ilmu Pengetahun.
Diskusi ringan (saya menyebutnya demikian karena diselingi dengan makanan ringan) yang kita lakukan tersebut berjalan dengan “renyah” dan menyenangkan. Terlebih dengan suasana yang “berbeda” dimana suasana menjadi semakin fresh untuk saling berbagi pengalaman dalam pengembangan pendidikan.
Saya tertarik dengan istilah “Belajar Hidup Bersama” ini dimana dalam prinsip ini kita hilangkan “sekat” antara narasumber dengan audiens, Peserta didik dengan tenaga pendidik, dan lain lain. Keterbukaan dalam pembahasan suatu masalah yang dilakukan dua arah tersebut sangat penting untuk menggali potensi yang dimiliki. Dan dalam dunia pendidikan hal ini sangatlah penting.Saya sangat bersyukur karena dapat “ikut” dalam kegiatan dimana yang hadir sebagian besar adalah “mahaguru”, dimana saat ini mereka menjabat sebagai Kepala Seksi, Pengawas, Kepala Sub Bagian hingga kepala Kantor. Banyak hal yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut, meskipun kadang saya harus “berfikir keras” untuk sekedar memahami apa yang sedang didiskusikan. Dan satu hal yang saya dapatkan adalah bahwa sebagai apapun jabatan kita, namun kita masih harus tetap banyak belajar.

Selembar bibir

Saya pernah me/njadikan gambar bibir untuk status dalam WhatAap, empat hari berturut turut dengan bibir yang berbeda. Saya tidak menyebutkan gambar bibir siapa saja yang saya jadikan status tersebut, dan saya mengenal semua pemilik gambar bibir tersebut.
Banyak yang menganggap bahwa yang saya lakukan tersebut sebuah kegiatan kurang kerjaan, bahkan ada yang memblokir nomor saya gara gara gambar bibirnya tersebut, ada juga yang memaki maki saya (meski lewat tulisan) gara gara gambar bibirnya saya gunakan untuk status. Terlebih ada gambar bibir dimana ada tahi lalat kecil diujung bibir tersebut dimana meski dibalut dengan lipstik, namun masih dapat dikenali, karenanya saya menyadari jika banyak yang mengenal gambar bibir tersebut.
Wajah adalah bagian tubuh yang sangat mudah dikenali, kita mungkin sulit mengenali seseorang jika kita tidak melihat wajahnya, namun jika kita melihat wajahnya, meski kita tidak melihat seluruh tubuhnya, kita dengan mudah dapat mengenalinya.
Bibir merupakan bagian dari wajah dimana kita akan lebih mudah untuk mengenalinya, dan bukan karena dari bibir tersebut akan keluar suara dimana akan menyebutkan siapa dirinya, atau kita dapat mengenal suara tersebut meski tidak menyebutkan namanya, namun karena bibir akan lebih mudah dikenali daripada bagian wajah lainnya.
Saya tidak tahu apa ada hubungannya dengan teori bahwa bibir dan beberapa centi diatasnya adalah inti dari wajah, sebagaimana terori yang pernah saya terapkan dengan menjadikan beberapa bibir dalam status saya dan ternyata hasilnya “menakjubkan”.
Saya memberikan apresiase terhadap Mbak Zunita, rekan saya yang menjadi Owner Osing Deles hingga tahun 2019. Mantan Direktur Rumah sakit ini bersama suaminya berhasil membangun Brand dengan menjadikan sebuah kalimat dalam bahasa osing yang sebenarnya kalimat yang terdiri dari dua suku kata tersebut bnukan hal yang asing, namun kalimat tersebut dapat dijadikan sebuah brand istimewa untuk Cafe and Resto miliknya, serta beberapa souvenir yang dijajakannya.
Tidak ada hubungan langsung antara lembar bibir dengan brand mimilknya, namun saya mencoba menghubungkanya, karena menurut saya tidak ada salahnya menghubungkan sesuatu yang menurut orang lain tidak ada hubungannya, hal ini hanya masalah bagaimana kita dapat menghubungkan dua hal tersebut ataukah tidak. Bagi saya kedua orang ini (B Zunita dan Mas Burham suaminya) sangatlah istimewa, ispirasi mereka dengan menjadikan Osing Deles sebagai Brannd seakan menjadikan bibir untuk mengenalkan wajah seseorang. Tidak harus mengenalkan seluruh wajah Banyuwangi untuk mengenalkan Banyuwangi, cukup dua kata dalam rangkaian kalimat dengan ciri khas Bahasa Using tersebut sudah dapat mengenalkan bahwa ini adalah khas Banyuwangi.

Aku dan Anak Perempuanku

Ia masih manja kepada ayahnya, meskipun kini sudah kelas dua SMA—dan saya sengaja menyebutnya kelas dua SMA, bukan kelas sebelas. Entah mengapa, penyebutan itu terasa lebih manusiawi, lebih dekat ke rumah, lebih hangat daripada angka Romawi yang dingin dan resmi. Barangkali karena di benak saya, ia masih anak kecil yang dulu saya gendong dengan satu tangan, sementara tangan lain sibuk mengusir nyamuk yang berani mendekat.

Melihat anak kedua saya menginjak usia remaja, barulah saya benar-benar merasa bahwa waktu telah berjalan tanpa permisi. Bahwa usia ini, usia saya, tak lagi bisa disebut muda. Semangat memang kadang masih melonjak seperti dulu—berisik, nekat, dan ingin menantang pagi—tetapi tubuh tak lagi sepenuhnya patuh. Rambut putih tumbuh satu demi satu, tanpa bisa dicegah, seperti doa yang dijawab setengah-setengah. Mata pun mulai berkhianat; huruf-huruf kecil menari menjauh, memaksa saya berdamai dengan kacamata, seolah dunia ingin berkata: pelan-pelanlah, engkau tak lagi berlari sendirian.

Usianya baru lima belas tahun. Wajar jika masih manja. Apalagi ia anak kedua, belum memiliki adik, atau mungkin memang tak akan pernah memilikinya. Karena itu, di mata saya ia sering masih seperti anak-anak. Dan seperti remaja kebanyakan, ia kadang protes ketika saya memeluk terlalu lama atau melarang terlalu banyak.

“Aku wes SMA lo, yah?” katanya suatu hari, dengan nada setengah mengeluh, setengah meminta dimengerti.

Kalimat itu membuat saya tersenyum—dan diam-diam terluka. Sebab di balik pengakuannya sebagai siswa SMA, saya masih melihat bayi kecil yang dulu menangis lirih di tengah malam, mencari bau tubuh ayahnya.

Dulu saya ingin ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah, agar jejak pendidikannya lurus dari MI ke MTs, lalu MA. Sebuah kesinambungan yang rapi, seperti jalan desa yang tak banyak belokan. Tapi saya menyerah dengan pasrah ketika ia memilih SMA. Bukan karena kalah argumen, melainkan karena janji. Saya pernah berjanji pada diri sendiri: sampai SLTP, ayah yang menentukan; setelah itu, engkau bebas memilih jalanmu sendiri—ke sekolah mana, ke universitas mana, bahkan ke hidup yang seperti apa.

Ia memilih SMA negeri tertua di kabupaten kami. Sekolah tua dengan pohon-pohon besar dan kenangan panjang. Di sana, beberapa alumninya menjadi orang besar—bahkan menteri. Kakaknya juga bersekolah di sana. Barangkali ia ingin mengikuti jejak, atau mungkin sekadar ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di tempat yang sama, dengan caranya sendiri.

Saya ingin memberinya yang terbaik. Kata orang, anak adalah “majikan” orang tua. Saya tak sepenuhnya setuju. Bagi saya, anak perempuan bukan majikan—ia adalah amanah. Ananah yang dititipkan, bukan untuk dimanjakan berlebihan, tapi untuk dijaga, dirawat, dan kelak dilepaskan dengan doa yang panjang.

Saya ingat betul masa-masa awal itu. Tiga hari setelah ia lahir dan dibawa pulang dari rumah sakit, sayalah yang memandikannya. Bayi mungil dengan kulit merah muda dan tangisan yang masih rapuh oleh dunia. Saya memandikannya setiap hari—hingga ia bisa mandi sendiri. Saya menikmati betul masa itu. Masa di mana kantuk adalah teman, dan kewaspadaan menjadi ibadah. Malam-malam panjang saya lalui tanpa benar-benar memejamkan mata, berjaga dari gigitan nyamuk, dari suara yang terlalu keras, dari apa pun yang terasa mengancam.

Itu masa yang tak tergantikan. Masa di mana jarak antara ayah dan anak begitu dekat, bahkan napas pun seirama. Kini ia tumbuh remaja, tinggi badannya hampir menyamai ibunya, suaranya mulai berubah, dan dunianya kian luas. Tapi setiap kali saya ceritakan bagaimana dulu saya memandikannya, bagaimana ia tertidur di lengan saya, bagaimana ia tak pernah saya mandikan oleh orang lain—ia selalu tersenyum.

Senyum itu, entah mengapa, selalu membuat saya ingin memutar waktu. Bukan untuk kembali muda, melainkan untuk sekali lagi menjadi ayah dari seorang bayi kecil—yang seluruh dunianya masih bernama: ayah.Dia begitu manja dengan ayahnya, meskipun sudah kelas 2 SMA, saya lebih senang menyebut kelas 2 SMA daripada kelas XI. Kalau melihat anak kedua saya sudah menginjak Remaja, baru terasa bahwa usia ini sudah tak muda lagi, meskipun kadang semangat muda itu masih ada, namun satu demi satu rambut putih tumbuh tak dapat dihindari, begitu juga dengan pandangan mata dimana kadang butuh kacamata untuk membaca.

Ketika Cinta Tidak (Benar Benar) Memiliki

Pagi itu, halaman Kantor Urusan Agama seperti biasa: sunyi yang khidmat, bau kertas, tinta, dan doa-doa yang tertahan di dinding. Namun ketenangan itu terusik oleh kehadiran dua insan yang melangkah masuk dengan kemesraan yang nyaris berlebihan—seolah ruang negara ini adalah ruang privat, seolah meja pelayanan adalah meja resepsionis hotel kelas melati.

Mereka datang bergandengan tangan. Terlampau erat untuk sekadar keluarga. Terlampau hangat untuk hubungan yang bisa diterjemahkan sebagai kasih orang tua kepada anak. Usia mereka terpaut jauh, kontrasnya mencolok, namun asmara—seperti biasa—tak pernah peduli pada angka, apalagi pada norma. Yang satu tampak matang dengan raut wajah yang sengaja dirawat agar terlihat lebih muda, yang lain imut, segar, dengan mata yang berbinar oleh keyakinan bahwa dunia hanya berisi mereka berdua.

Barangkali di benak mereka, KUA memang hanya satu hal: tempat negara mengesahkan cinta. Bukankah di sinilah dua insan yang sedang mabuk asmara dicatat dalam akta otentik, diresmikan dalam kalimat hukum, dan disahkan dalam doa? Bukankah cinta—apa pun bentuk dan arahnya—selalu merasa berhak untuk diakui?

Cinta memang seperti virus. Ia tak mengenal etika sosial, tak tunduk pada logika publik. Ia hinggap sesuka hati, menginfeksi siapa saja, bahkan pada pasangan yang oleh mata umum tampak ganjil, kontras, atau mengundang kecurigaan. Dalam mabuk cinta, telinga hanya terbuka pada pujian. Nasihat dianggap campur tangan. Kekhawatiran dibaca sebagai iri. Moral dipandang sebagai penghalang kebahagiaan.

Bagi petugas KUA, pemandangan seperti itu mungkin sudah menjadi keseharian. Ada yang risih, ada pula yang memilih diam. Namun tetap saja muncul tanya yang menggantung di udara:
Haruskah ditanya—apakah kalian sudah sah? Apakah ada hubungan darah? Atau cukupkah negara bersikap netral, membiarkan cinta mempertontonkan dirinya di ruang publik?

Penampilan mereka menambah lapisan tafsir. Sang lelaki perlente, wibawanya masih tersisa. Sang perempuan memesona dengan kemanjaan yang tanpa malu terus menggenggam tangan lelaki yang—dalam logika umum—lebih pantas dipanggil ayah. Mereka datang dengan mobil yang layak, status sosial yang tampaknya mapan. Asumsi pun berhamburan, namun saya tahu: masa lalu, sejauh tidak melanggar hukum, bukanlah alasan untuk menolak sebuah pernikahan.

Namun kasus ini bukan perkara biasa.

Desas-desus telah lebih dulu sampai ke telinga saya: ancaman protes, kemarahan warga, bahkan rencana demonstrasi besar jika pernikahan ini diloloskan. Saya belum dapat menarik kesimpulan apa pun. Sebab hukum tidak bekerja dengan gosip. Hukum bekerja dengan data. Dan selama tidak ada alasan yuridis untuk menolak, maka penolakan itu sendiri justru akan menjadi pelanggaran.

Tugas saya jelas: memeriksa berkas, mengoreksi data, dan—jika perlu—menggali kebenaran di balik senyap yang ditutupi senyum.

Dari dokumen yang mereka ajukan, segalanya tampak rapi. Calon suami berstatus duda cerai. Calon istri perawan. Desa asal berbeda. Kartu Keluarga tidak menunjukkan hubungan darah. Secara administratif, pernikahan ini bersih. Namun cinta mereka—yang terus dipertontonkan tanpa sekat—justru menimbulkan kecurigaan yang tak tercatat di atas kertas.

Saya pun memilih menggali lebih dalam. Dan entah mengapa, naluri saya membawa saya pada sang perempuan. Barangkali karena dalam banyak perkara, kebenaran sering bersembunyi di balik suara yang paling lirih.

Dalam pertemuan khusus itu, kisah yang selama ini samar akhirnya membuka wajahnya.

Lelaki yang dicintainya adalah bekas ayah tirinya. Ia menikahi ibu kandungnya ketika ia masih kelas lima sekolah dasar. Sosok itu hadir sebagai figur ayah yang ideal: mengantar sekolah setiap pagi, bekerja keras, menemani tumbuh. Tahun-tahun berlalu. Anak itu beranjak remaja. Dan entah di tikungan mana, relasi yang semula bernama perlindungan berubah menjadi ketergantungan. Kasih bergeser. Batas memudar. Ayah menjadi lelaki. Anak menjadi perempuan.

Mereka menyebutnya cinta.

Cinta, kata orang, adalah urusan rasa. Tapi tak semua rasa layak diberi nama suci. Sebab ada cinta yang tumbuh dengan melukai. Melukai ibu. Melukai masyarakat. Melukai nilai yang selama ini menjaga kemanusiaan tetap berdiri.

Islam dengan tegas melarang pernikahan antara seorang anak dengan bekas suami ibunya apabila telah terjadi hubungan suami istri. Hukum positif Indonesia pun berdiri di garis yang sama. Di titik inilah cinta harus berhenti, sebab negara dan agama tidak diciptakan untuk mengesahkan semua keinginan manusia.

Dan pagi itu, di ruang KUA yang semula sunyi, saya belajar satu hal:
bahwa tidak semua cinta perlu dicatat dalam buku nikah,


Tunjangan Kinerja Guru Madrasah

Beberapa hari ini saya disbukkan dengan berbagai pertanyaan seputar selisih Tunjangan Kinerja dan Sertikasi yang diterima oleh guru Negeri di Madrasah. Hal ini berkaitan dengan beberapa hal yang menurut beberapa orang dirasa “kurang adil”, karena dalam Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6243 Tahun 2018 yang mengatur masalah tersebut hanya berlaku bagi Guru PNS pada madrasah. Sementara Guru Agama Kementerian Agama yang di perbantukan atau dipekerjakan pada instansi lain tidak mendapatkannya.
Keputusan Dirjen Pendis tersebut memang mengatur ketentuan bahwa Guru PNS yang mengajar pada Madrasah, jika Tunjangan Kinerja lebih besar daripada Sertifikasi, maka akan dibayarkan selisihnya, sehingga ASN disamping mendapatkan Gaji, Uang lauk pauk dan Sertifikasi atau Tunjangan Profesi Guru, maka bagi yang jika dihitung Tunjangan Kinerjanya sesuai dengan Grade masing masing lebih tinggi, maka juga akan diberikan selisih Tukin dan Tuprof.
Selisih Tukin tersebut dibayarkan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 154 Tahun 2016 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai dilingkungan Kementerian Agama, meskipun Perpres ini sudah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 130 Tahun 2018 dimana ada peningkatan Jumlah Tunjangan Kinerja pada Karyawan Kementerian Agama yang berlaku sejak bulan mei tahun 2018, namun pembayarannya berdasarkan Perpres 130 Tahun 2018 tersebut belum dapat dibayarkan.
Selisih Tunjangan ini dibayarkan sejak Bulan Nopember 2015, karenanya tidak heran jika para guru yang diminta arsip Presensi dan persaratan lain “jadi kelabakan”, meskipun presensi tersebut dapat dicetak lagi melalui mesin finger print, namun persoalan menjadi lain ketika sang guru ada kegiatan diluar dimana dibutuhkan bukti pendukung bahwa dia sedang tudas diluar, karena dalam perhingan tukin tersebut tingkat kehadiran juga mempengaruhi terhadap tukin yang didapatkan.
Di Kabupaten Banyuwangi, mungkin para guru tidak terlalu kaget dengan berita bagus ini, karena tahun 2018 telah dibayarkan selisih Tukin dengan Tuprof ini, begitu juga dengan Tahun 2017 dan separuh dari tahun 2016, karenanya tinggal 8 bulan saja pemberkasan selisih tukin ini terhitung sejak bulan Nopember 2015 yang harus diselesaikan.
Yang menggembirakan dari peraturan ini adalah bahwa Guru PNS yang belum bersertifikasi akan menjadapatkan Tunjangan secara penuh, dimana bagi yang golongan II akan mendapatkan Tunjuangan Kinerja Grade 3 sedangkan Golongan III mendapatkan Tunjangan Kinerja Grade 5, dimana dengan perubahan Peraturan Presiden terkait tentang perubahan besarnya tuinjangan yang akan diterima, dimungkinkan akan menerima kembali selisih tukinnya.
Bagi guru yang tidak terbiasa menyimpan berkas presensi dan berkas lainnya yang berkaitan, tidak kesulitan dalam pemenuhan administrasi dalam rangka pencairan selisih tunjangan kinerja dengan tunjangan prefesi ini, namun bagi guru yang tidak terbiasa menyimpannya, terlebih di Madrasah tersebut juga tidak menyimpan secara rapi arsip yang dibutuhkan, maka bisa “kelabakan” mereka mengumpulkannya. Bahkan ada yang enggan mengurus selisih tukin dan tuprof ini karena mereka sudah “puas” dengan Tunjangan Profesi Guru yang mereka terima.
Sebenarnya tiap bulan para Guru Madrasah mengumpulkan presensi dan catatan kinerja yangb mereka lakukan, namun kadangkala mengarsipan secara pribadi tersebut lalai dilakukan yang mengajikatkan mereka kkesulitan untuk mendapatkannya. Tak heran jika para guru yang mendapatkan selisih tukin dari tuprof tersebut “ramai ramai” bongkar arsip di madrasah.

Arsip Digital Guru Madrasah

Sore ini masih saja ada yang menanyakan masalah Arsip kepegawaian yang tidak ditemukan dirumahnya, mereka kebingungan untuk pemberkasan Pengurusan selisih Tunjangan Kinerja yang mereka terima. Saya sudah nama nama yang Tunjangan Kinerjanya lebih tinggi daripada Tunjangan Profesi Guru (TPG), begitu juga dengan guru yang belum mendapatkan TPG serhingga berhak menerima TPP murni.
Beberapa waktu yang lalu sebelum saya diajak makan bersama bebek goreng H. Slamet oleh seorag rekan yang kebetulan baru panen ternak, saya sudah Share nama nama tersebut. Beberapa berkas sudah masuk ke Kantor, hanya beberapa saja yang bekum mengumpulkan, yakni guru dan pengawas yang sudah purna serta beberapa yang kehilangan arsip kepegawaian miliknya.
Sebenarnya di Urusan Kepegawaian Kementerian Agama data tersebut juga tersedia, namun jika harus ngubrak abrik data yang di Kementerian Agama, akan memakan waktu yang cukup lama. Mereka akan lebih cepat jika mencari aersip pada file nya sendiri.
Sambil menikmati bebek goreng H. Slamet yag lumayan nikmatnya (mungkin karena gratisan) saya terus melayani konsultasi terkait masalah tersebut. Terlebih (mungkin) menu minuman beras kencur yang disajikan menambah “pyar” daya pikir sehingga lebih mudah, saya jadi ingat bahwa dalam E-Kinerja dari kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dimana aplikasi tersebut selalu dikerjakan para PNS dalam pengisian kegiatan pekerjaan harian disediakan arsip digital yag berisi arsip kepegawaian yang bersangkutan yang diambilkan dari pendataan PUPNS.
Ketika dalam kondisi seperti ini. Dimana kita harus cepat mengumpulkan berkas, disamping kita harus rapi dalam pengarsipan berkas, kita sadar bahwa arsip digital tersebut sangat membantu dalam mempercepat pencarian berkas kepegawaian kita. Disamping arsip digital yang disediakan Kementerian Agama, sebenarnya kita dapat membuat arsip digital sendiri, sehingga kita lebih mudah dalam pencarian berkas. Kita tinggal menghidupkan internet, mengambil berkas dari drive penyimpanan, mengunduh dan mencetaknya.
Saya memberikan apresiasi terhadap Mas Aulia Cahyo Syahrain, pengembang program komputer pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang telah membuatkan beberapa aplikasi yang memudahkaan dalam administrasi dan pelaksanaan tugas.

Dari Banyuwangi Lebih Murah Ke Kuala lumpur Daripada Ke Jakarta

Minggu kemarin saya Ke Malaysia, iseng iseng mumpung lagi promo, dan lagi nggak perlu cuti untuk sampai kesana. Terlebih saya hanya berangkat sendiri. Saya bukan hanya ingin menikmati liburan ahir pekan yang “bisa dianggap beda”, namun saya benar benar ingin berlibur dengan biaya murah meriah. Sebenarnya saya tadinya ingin ke Padang Sumatra Barat sambil “mengendangi” anak saya yang lagi study disana, menikmati indahnya alam, jalan kelok sembilan yang menawan dan bertemu beberapa kawan, namun ketika melihart tarif pesawat Dari Banyuwangi yang lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Padang, saya putuskan untuk ke Kuala Lumpur, terlebih passport saya juga masih berlaku.
Perjalanan dari Bandara Blimbingsari Banyuwangi biasa saja, terlebih ini bukan pertama kalinya saya naik pesawat terbang. Kebetulan hari itu penumpang lumayan penuh. Saya menikmatinya meskipun harus duduk di kelas ekonomi. Saya membayangkan bagaimana rasanya Jika Kantor mengajak kita Rakor di Kuala Lumpur, mungkin akan ada suasana berbeda, terlebih banyak rekan staf yang nggak pernah naik pesawat terbanng, pastinya ada satu atau dua orang yang kelihatan “wajah ndesonya” terlebih jika ke kamar kecil dalam pesawat seperti pertama kali saya naik pesawat.
Suasana di Kuala Lumpur biasa saja, seperti yang pernah kita lihat di TV, saya hanya selfi selfi dengan latar Menara Kembar Petronas sebagai Ikon Negea tersebut. Saya membayangkan suatu saat Banyuwangi juga akan mempunyai Ikon yang juga spektakuler, mungkin akan ada Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali, pasti sangat menarik, karena Jembatan tersebut pasti sangat besar dan panjang, tidak ada penyangga ditengah laut mengingat dalamnya selat Bal tersebut.
Ada yang sangat menarik ketika saya berjalan jalan ketempat kuliner, dimana bukan hanya makanan khas Malaysia dan Eropa yang disajikan, tetapi saya juga menemukan Warung Sego Tempong Mbak Har yang biasanya jualan di Pasar Benculuk juga ada disana. Saya teringat bahwa saya sering makan sego tempong Mbak Har, Terong gorengnya yang khas menggugah selera bagi siapa saja yang mampir dan menikmati masakannya. Selesai makan saya sempat berbincang dengan pemilik warung yang ternyata berlogat Osing. Saya bertanya kepadanya, kok sama persis rasanya dengan yang ada di Benculuk. Pemilik warung dengan semangat menjawab. “Sebenarnya bumbunya sama dehgan sego tempong yang ada di Banyuwangi, yang beda adalah terongnya” ungkapnya. Saya terus bertanya :Terongnya kenapa ??? “ “Terongnya Import” jawab pemilik warung. “ apa terongnya import dari India kok gedi gedii dan panjang” tanya saya. “ bukan pak, terongnya bukan Impor dari India, tetapi Impor dari Banyuwangi”. Jawab pemilik warung.
Saya hanya sehari semalam di Kuala Lumpur, saya harus segera kembali karena senin harus masuk kerja. Badan capek membuat saya lebih banyak tertidur di pesawat. Samar samar saya melihat Pramugari membagikan makanan kotak kepada para penumpang. Saya tetap agak tertidur sambil menikmati senyum ramah pramugari yang sibuk membagikan kotak nasi yang lumayan bagus kotaknya tersebut. Mungkin nasi tersebut tidak saya makan agar ada alasan untuk membawa kotaknya kerumah. Pramugari memberikan Kotak nasi dan meletakkan kepangkuanku. Saya tidak berani membuka mata terlalu lebat, takut terlalu tertarik dengan pramugari yang cantik tersebut. Saya harus menjaga pandangan mata saya.
Pramugari menggoyang goyangkan kaki saya yang sedang duduk di kursi, “ pak pak bangun pak” kata pramugari dengan ramah membangunkan saya yang sedang tertidur di kursi. Mungkin saking anyelnya saya tidak bangun bangun, pramugari tersebut membuka sepatunya dan memukulkannya ke paha saya. saya terbangun dan hampir terjatuh dari kursi, saya lihat Mbak Wiwit membawa nasi kotak untuk makan siang. Saya pejamkan mata dan saya buika kembali, Wajah Mbak Wiwid masih tetap tersenyum menatapku. Wajahnya tidak berubah seperti pramugari yang saya temui dalam mimpi.

Semua (mungkin) Karena Cinta

Penggunaan kata cinta dalam bahasa Indonesia lebih dekat dengan perkataan love dalam Bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua perbuatan dan arti untuk Eros,Philia, Agape dan Strong. Kata cinta dalam arti umum adalah keterkaitan terhadap suatu objek, perasaan memiliki dan mau berkorban untuk objek yang dicintainya. Cinta adalah suatu perasaan positif yang diberikan kepada manusia atau benda lain, bisa dialami semua makhluk. Penggunaan kata cinta juga dipengaruhi perkembangan zaman, kata cinta selalu berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan didalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Arti cinta pada saat ini mungkin akan berbeda dengan arti cinta puluhan atau ratusan tahun yang lalu.
Saat ini kata cinta lebih dekat dengan ungkapan rasa senang terhadap lawan jenis, pengertian cinta akan lebih kepada pengertian sebuah perasaan yang tumbuh dari dua insan dimana ada rasa yang sangat kuat sehingga mau melakukan tindakan tindakan untuk yang dicintainya. Tindakan tersebut kadangkala menafikan akal sehat, dan sering dengan alasan cinta akan melakukan segala perbuatan, sekalipun tindakan tersebut adalah sebuah larangan.
Ada ungkapan bahwa cinta itu buta, karena cinta dapat memasuki siapa saja dan kapan saja. Tidak ada yang salah atau dapat diadili dari cinta, sebab cinta adalah sebuah perasaan, sehingga mustahil untuk mengadili sebuah perasaan, mustahil juga untuk disalahkan atau dipaksakan sebuah rasa cinta ada atau tidak ada pada diri individu. Yang dapat diadili dan disalahkan adalah perbuatan nyata dari akibat perasaan cinta tersebut. Sebab keyakinan, perasaan dan niat tidak dapat dibuktikan bila tidak ada perbuatan. Nah aplikasi dari rasa cinta antar lawan jenis dalam bentuk perbuatan inilah yang sering menjadi masalah, jika dilakukan dengan menafikan norma yang berlaku.
Meskipun cinta dalam arti perasaan senang dengan lawan jenis ini ada istilah yang disebut dengan cinta buta, yakni tidak dapat melihat, namun sampai saat ini belum ada ungkapan bahwa cinta itu tuli, sehingga meskipun ada ungkapan bahwa cinta itu buta, namun cinta tidaklah tuli, sehingga meskipun cinta buta tidak dapat melihat, namun bukan berarti tidak dapat mendengar, sehingga jika ada yang terjangkit cinta buta pada objek yang tidak semestinya yang ada kemungkinan akan diaplikasikan dalam bentuk perbuatan, masih ada kesempatan untuk mengingatkan dengan suara suara lembut yang dapat didengar.


Sebagaimana uraian diatas, bahwa perasaan cinta terhadap sebuah objek akan menggerakkan subjek yang dihinggapi perasaan cinta untuk berkorban dan melakukan segala tindakan terbaik dari objek yang dicintainya. Cinta terhadap lawan jenis akan berakibat ingin melakukan yang terbaik bagi pasangannya, saling mengisi, memberi dan menerima. Cinta orang tua terhadap anak, dimana orang tua akan melakukan segala tindakan terbaik bahkan mau berkorban demi anaknya. Melakukan tindakan bagaimana nantinya sang anak yang merupakan penerus generasi ini dapat lebih baik dari orang tuanya

Piagam Penghargaan dan Proses Perjuangan

Piagam Penghargaan dan Proses Perjuangan

Trofi, medali, piagam—benda-benda itu pada hakikatnya hanyalah simbol. Ia dingin, tak bernapas, tak punya ingatan. Namun justru karena itulah manusia menitipkan makna padanya. Sebab yang dirayakan bukanlah logam yang mengilap atau kertas yang berbingkai, melainkan jejak panjang dari keringat, lelah, dan kesabaran yang pernah dilalui. Hasil akhir hanyalah penutup; yang membentuk manusia adalah proses perjuangan sebelum tirai itu ditutup.

Gelar sarjana, misalnya. Ia bisa tampak seragam di mata administrasi: huruf yang sama, jenjang yang sama, bahkan dicetak dengan font yang sama. Namun di balik itu, tiap gelar menyimpan kisah yang tak pernah identik. Ada yang diraih dengan jalan lapang, ada yang ditempa oleh keterbatasan, oleh bekerja sambil kuliah, oleh air mata yang jatuh diam-diam di sudut malam. Perbedaan proses itulah yang membuat kebanggaan setiap penyandangnya tak pernah benar-benar setara.

Hampir tengah malam saya masih duduk di hadapan printer, menyiapkan piagam untuk kegiatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-73 Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Waktu merayap perlahan, suara mesin menjadi saksi kesabaran. Seandainya roll printer tidak rusak, barangkali pekerjaan itu akan terus berlanjut hingga semua selesai. Di luar sana, Ketua Panitia menunggu—bukan untuk satu atau dua tanda tangan, melainkan puluhan, bahkan ratusan nama yang harus ia sahkan dengan goresan tangannya sendiri.

Ada usulan dari seorang rekan: tanda tangan Ketua Panitia dan Kepala Kantor dibuat saja secara komputer. Lebih cepat, lebih praktis, lebih efisien. Namun pimpinan tidak berkenan. Bagi mereka, meski hanya piagam, ia bukan sekadar formalitas. Ia adalah penghormatan. Ia adalah pengakuan atas proses panjang yang telah dijalani para peserta. Selembar kertas itu bernilai justru karena ia menjadi penanda dari sebuah perjuangan yang nyata. Maka, menandatangani piagam bukanlah beban terberat; yang jauh lebih berat adalah proses yang dilalui para penerimanya untuk layak mendapatkannya.

Sebuah piagam memang hanya selembar kertas. Namun di dalamnya tersimpan banyak arti: malam-malam panjang, langkah-langkah kecil yang tak terlihat, dan keyakinan yang nyaris runtuh namun tetap dipertahankan. Begitu pula gelar sarjana—bahkan dari perguruan tinggi yang sama—tak pernah benar-benar sama nilainya. Nilai itu ditentukan oleh jalan yang ditempuh untuk meraihnya. Sebab pada akhirnya, kebanggaan manusia bukan terletak pada apa yang ia pegang di tangan, melainkan pada apa yang telah ia menangkan di dalam dirinya.

Djawatan Benculuk Wisata serasa di Hutan Lord Of The Rings

Djawatan Benculuk Wisata serasa di Hutan Lord Of The Rings
Masuk ke kawasan ini, sekilas seperti masuk kedalam hutan Fangon dalam film Lord of The Rings. Hutan Trembesi dekat dengan pasar Benculuk ini dulunya digunakan untuk pengelolaan Kereta Api Jurusan Benculuk – Banyuwangi. Tidak salah jika Star Vision mengambil lokasi ini sebagai salah satu tempat syutingnya. Hutan kecil yang khas tersebut memberikan nuansa magis tersendiri bagi para pengunjungnya. Terlebih dulu ada rumah yang dikhususkan dihuni ribuan kelelawar yang jika maghrib menjelang beterbangan seperti asap dari cerobong pabrik. Tidak sulit untuk mengunjungi tempat ini, karena berada pada jalur propinsi.
Dulu saat saya masih kecil, ketika Ramadhan tiba, keluarnya kelelawar ini dari hutan Djawatan Benculuk ini dapat dijadikan salah satu pertanda bahwa adzan maghrib sebentar lagi berkumandang. Seiring dengan perjalanan waktu dimana tempat ini dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata, keberadaan ribuan kelelawar tersebut semakin berkurang. Hal ini diakibatkan dari bau kotoran dari kelelawar yang dijadikan sebagai salah satu bahan pupuk organik tersebut sangat menyengat dan mengganggu para wisatawan.
Kita memahami dari nama tempat tersebut dinamakan Djawatan, karena tempat tersebut masuk kedalam wilayah kerja PT perhutani yang dululnya bernama Dinas Djawatan Perhutani. Terlebih juga dulu Djawatan Kereta Api yang juga stasiunnya ada diwilayah tersebut, selain sebagai tempat wisata, tempat ini juga sebagai tempat penimbunan kayu jati Perhutani. Karenanya masuk kedalam area ini kita juga disuguhi tumpukan kayu jadi dari hutan diwilayah Banyuwangi selatan.
Bagi anak anak, tempat ini sangat cocok untuk pengenalan lingkungan. Terlebih dengan adanya hutan trembesi yang juga berfungsi sebagai resapan air dan paru paru kota dengan ukuran jumbo tersebut dimana juga dilengkapi dengan rumah pohon, dapat dijadikan sebagai lokasi outbond yang aman dan menyenangkan bagi anak anak.
Seperti yang saya lakukan pagi ini dimana saya mengantarkan tamu dari Surabaya yang sangat penasaran dengan keelokan Hutan Kecil yang sering dijadikan lokasi syuting para penyanyi beken tersebut. Beberapa pasang calon manten juga menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tempat dalam pengambilan foto freweding.



Kepala Madrasah diberi Materi Kewirausahaan

Kepala Madrasah diberi Materi Kewirausahaan
Tugas Kepala Madrasah yang beragam dimana tugas tersebut bukan hanya Tugas manajement Pendidikan dan pengembangan kurikulum. Kepala Madrasah juga harus mempunyai kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru secara kreatif dan inovatif untuk mewujudkan nilai tambah. Kepala madrasah juga harus kreatif dan inovatif sehingga mampu untuk mewujudkan nilai tambah.
Hal ini sebagai salah satu materi dalam Diklat Kepala madrasah yang dilaksanakan LP Maarif NU yang bertempat di SMK Gajah Mada Banyuwangi, Kamis (27/12). Sebagai pemateri dari Balai Diklat keagamaan Surabaya Habibah menyampaikan bahwa tujuan pengembangann kewirausahaan bagai Kepala madrasah adalah agar Kepala Madrasah dapat melakukan Inovasi, kerja keras serta memiliki motivasi yang kuat dan kreatif dalam mencari solusi terbaik dari masalah yang dihadapi di madrasahnya.
Lebih lanjut Widia Iswara yang tahun ini bertugas sebagai Tim Pembimbing Ibadah haji Indonesia (TPIHI) ini menyampaikan bahwa sebagai kepala Madrasah harus mempunyai karakteristik kewirausahaan, yakni9 Kwalitas dasar kewirausahaan dan kwalitas instrumental kwirausahaan. “Kepala madrasah harus mempunyai daya pikir, daya hati dan daya fisik yang kuat” ujarnya. Ibu tiga anak yang beberapa kali datang ke Banyuwangi dalam kegiatan sebagai narasumber Diklat ini juga memberikan apresiasi terhadap para Kepala Madrasah yang merelakan hari liburnya untuk mengikuti diklat. Dan ini menurutnya sebuah nilai tambah yang perlu dipupuk oleh seorang Kepala madrasah, dimana jam kerjanya tidak dibatasi dengan hari kerja.

Menulis Semudah Berbicara

Menulis Semudah Berbicara
Penggunaan media sosial untuk menyampaikan berita benar benar efektif dilaksanakan, namun untuk menuliskan sebuah peristiwa kedalam sebuah berita, perlu keahlian khusus. Banyak orang yang mempunyai ide dan gagasan, namun ketika menuangkannya kedalam sebuah tulisan, seakan ide dan gagasan tersebut lenyap. Dalam satu paragraf pertama saja sudah tidak mampu untuk menuangkan ide dan gagasan yang tadinya berada di ubun ubun.
Banyak orang orang yang terkenal dan atau dikenal masyarakat melalui media sosial, dan penggunaan media sosial untuk sarana promosi sangat efentif, baik untuk sarana memperkenalkan sebuah produk maupun hal lainnya. Beberapa lembaga pendidikan juga banyak yang memanfaatkan media sosial ini untuk sarana informasi bagi intern lembaga tersebut juga sarana promosi atas kegiatan yang ada dalam lingkungannya.
Saya tertarik dengan penyampaikan salah satu narasumber ketika memberikan trik dan tips menulis artikel bahwa ketika ide itu muncul, maka tuliskanlah ide dan gagasan tersebut kedalam sebuah bentuk tulisan tanpa harus membacanya, hal ini dimaksudkan agar ide yang ada dalam diri kita tersebut mengalir begitu saja tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu apakan rangkaian tulisan yang kita lakukan benar maupun salah. Jangan berfikir terlebih dahulu dimanakan inti dari tulisan kita tersebut.
Sebagian orang yang memulai dalam penulisan akan kebingungan, darimana mereka akan memulai menuliskanya. Seperti yang disampaikan narasumber tersebut dimana layaknya hubungan suami istri untuk pertama kalinya, maka kita akan sedikit kebingungan darimana untuk memulainya, meskipun kita telah matang dengan teori teori. Namun lambat laut setelah kita memahaminya kita dapat memulainya dengan mudah dari berbagai posisi.
Begitu juga dalam penulisan artikel yang dipublikasikan dimana idealnya kita menggunakan bentuk “piramida terbalik” atau interfed pyramid inti materi berada pada paragraf pertama, karena kita akan tertarik membaca sebuah artikel jika judulnya menarik yang kemudian kita akan memulai membaca paragraf pertama,  jika dalam paragraf pertama ini sangat menarik, maka akan melanjutkan membaca pada paragraf berikutnya.
Menurut narasumber tersebut dalam memulai penulisan, kita tidak perlu langsung menempatkan inti tulisan pada paragraf pertama, namun menulis sesuai dengan ide dan gagasan yang muncul pada saat itu, baru kemudian kita menata tulisan tersebut ketika tuilisan kita dianggap telah usai dimana kemudian kita menempatkan inti tulisan pada paragraf pertama.
Saya tertarik dengan sistim penulisan yang disampaikan oleh narasumber tersebut, dan saya akan mencobanya untuk memulai menulis, dan ketika saya akan memulai menulis kadang saya juga masih bingung mau menuliskan apa, karenanya saya hanya menulis begitu saja yang kemudian dari tulisan saya tersebut saya baca kembali untuk mencari inti tulisan yang akan saya tempatkan pada paragraf pertama.
Saya akan mencobanya.;
 
Support : Copyright © 2013. Blog Syafa'at - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger