Trofi, medali, piagam—benda-benda itu pada hakikatnya hanyalah simbol. Ia dingin, tak bernapas, tak punya ingatan. Namun justru karena itulah manusia menitipkan makna padanya. Sebab yang dirayakan bukanlah logam yang mengilap atau kertas yang berbingkai, melainkan jejak panjang dari keringat, lelah, dan kesabaran yang pernah dilalui. Hasil akhir hanyalah penutup; yang membentuk manusia adalah proses perjuangan sebelum tirai itu ditutup.
Gelar sarjana, misalnya. Ia bisa tampak seragam di mata administrasi: huruf yang sama, jenjang yang sama, bahkan dicetak dengan font yang sama. Namun di balik itu, tiap gelar menyimpan kisah yang tak pernah identik. Ada yang diraih dengan jalan lapang, ada yang ditempa oleh keterbatasan, oleh bekerja sambil kuliah, oleh air mata yang jatuh diam-diam di sudut malam. Perbedaan proses itulah yang membuat kebanggaan setiap penyandangnya tak pernah benar-benar setara.
Hampir tengah malam saya masih duduk di hadapan printer, menyiapkan piagam untuk kegiatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-73 Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Waktu merayap perlahan, suara mesin menjadi saksi kesabaran. Seandainya roll printer tidak rusak, barangkali pekerjaan itu akan terus berlanjut hingga semua selesai. Di luar sana, Ketua Panitia menunggu—bukan untuk satu atau dua tanda tangan, melainkan puluhan, bahkan ratusan nama yang harus ia sahkan dengan goresan tangannya sendiri.
Ada usulan dari seorang rekan: tanda tangan Ketua Panitia dan Kepala Kantor dibuat saja secara komputer. Lebih cepat, lebih praktis, lebih efisien. Namun pimpinan tidak berkenan. Bagi mereka, meski hanya piagam, ia bukan sekadar formalitas. Ia adalah penghormatan. Ia adalah pengakuan atas proses panjang yang telah dijalani para peserta. Selembar kertas itu bernilai justru karena ia menjadi penanda dari sebuah perjuangan yang nyata. Maka, menandatangani piagam bukanlah beban terberat; yang jauh lebih berat adalah proses yang dilalui para penerimanya untuk layak mendapatkannya.
Sebuah piagam memang hanya selembar kertas. Namun di dalamnya tersimpan banyak arti: malam-malam panjang, langkah-langkah kecil yang tak terlihat, dan keyakinan yang nyaris runtuh namun tetap dipertahankan. Begitu pula gelar sarjana—bahkan dari perguruan tinggi yang sama—tak pernah benar-benar sama nilainya. Nilai itu ditentukan oleh jalan yang ditempuh untuk meraihnya. Sebab pada akhirnya, kebanggaan manusia bukan terletak pada apa yang ia pegang di tangan, melainkan pada apa yang telah ia menangkan di dalam dirinya.

No comments:
Post a Comment